BAGAIMANA PRAMOEDYA JADI "KANON" SASTRA?

Dalam perdebatan tentang "kanonisasi" (bagaimana sebuah karya sastra
diangkat jadi karya  unggulan) dalam sastra Indonesia belakangan ini,
disebut Pramoedya Ananta Toer sebagai "kanon" sastra kita. Ada yang
mensejajarkannya dengan William Shakespeare di dunia berbahasa
Inggris.

Akan tetapi tidak pernah diuraikan bagaimana prosesnya maka pengarang
"Bumi Manusia" itu diunggulkan di atas para sastrawan Indonesia lain.

Apabila "kanonisasi" Pramoedya itu benar ditentukan oleh lembaga dan
kekuasaan yang mampu memutuskan, maka lembaga dan kekuasaan manakah
itu?

Kita ingat bahwa rezim Orde Baru dengan segala upaya melarang buku itu
beredar dan membuang nama Pramoedya dari bacaan sekolah. Rezim Orde
Baru yang bertahan lebih dari 30 tahun itu pasti kuat.  Maka dalam
"kanonisasi" Pramoedya,
lembaga dan kekuasaan apa yang mampu menandinginya?

Jangan-jangan tidak seluruhnya benar "teori" bahwa naiknya sebuah
karya sastra ke jajaran yang unggul adalah disebabkan oleh lembaga dan
kekuasaan. Melainkan karya itu yang memang bermutu. Jadi tidak
selamanya faktor-faktor di luar teks sastra menentukan.

A.H. Situmeang

Kirim email ke