http://kompas.com/ver1/Metropolitan/0711/10/130313.htm ==========================
Awan hitam yang tiap hari menggantung di langit di Jakarta menjadi pertanda agar warga bersiap-siap menghadapi banjir. Ya, hujan memang telah berkali-kali mengguyur metropolitan. Dan kecemasan akan datangnya banjir muncul lagi, seperti penyakit kambuhan yang datang di setiap penghujung tahun. Tentu yang paling merasakan kekhawatiran adalah mereka yang menjadi langganan banjir tahun-tahun sebelumnya. Salah satunya adalah para penghuni salah satu kolong jembatan Sungai Ciliwung di sekitar Manggarai. Mereka hidup disangga papan lapuk penuh lumut yang berlubang tepat di atas kali. Karena hanya di situlah tempat yang bisa mereka sebut "rumah", maka berita mengenai naiknya air di Manggarai tidak membuat mereka beranjak menghindar. Erna (18), salah satu penghuni tetap 'rumah gantung' Sungai Ciliwung, mengaku belum melakukan persiapan khusus dalam menghadapi banjir saat ini. Tiga buah bantal dan satu buah kasur yang bersarung tambalan kain bekas, terlihat masih berserakan di atas sebuah karpet tua berukuran satu meter persegi. "Saya sih belum mengemasi barang. Nanti saja saat ada tanda-tanda air mau naik. Kalau kami naik ke atas sekarang, bisa digusur petugas kamtib," ujarnya kepada kompas.com, Jumat (9/11). Walau lebih takut pada petugas keamanan dan ketertiban, namun ibu muda asal Lampung itu tetap cemas memikirkan kemungkinan naiknya air Sungai Ciliwung dalam waktu dekat. Apalagi, anak keduanya, Joko, baru berusia delapan bulan. "Repot", itulah jawaban yang terlontar ketika ditanya mengenai kecemasannya. Wajar, sebab anak pertamanya, Adi, juga belum genap berusia dua tahun. Memang hidup di Jakarta serba repot bagi mereka yang kurang beruntung. Sudah tidak punya rumah, tanpa pekerjaan, sulit makan, masih diancam banjir dan kamtib. Maka ketika salah satu kain penutup "rumah" para penghuni tiba-tiba diterbangkan angin, mereka sudah tidak lagi menganggapnya musibah, malah bahan candaan. "Layar siapa itu yang terbang?" teriak salah seorang penghuni. "Hei, layar siapa noh?" timpal lainnya. Serentak, kolong jembatan tersebut diramaikan oleh teriakan warganya. Hal seperti itu rupanya kerap terjadi. Penyelesaiannya pun gampang. Tinggal cari barang yang hanyut di sungai untuk dijadikan penutup baru. "Kalau anginnya kenceng kayak gini, memang sering terbang. Sekarang saya harus cari kain baru. Tapi gampang sih, tinggal ngegaet dari sungai," kata Suci, tetangga Erna yang berasal dari Purwodadi. Meski alam tak lagi ramah kepada mereka, walau rumah mereka selalu bergetar saat ada metromini melintas di atas jembatan, Erna dan kawan-kawan secara tidak sadar menjalani hidup sebagai "saat ini". Mereka tidak takut hari esok atau lusa. Karena hari esok benar-benar di luar jangkauan mereka. Dan ketika air sudah mulai naik, awan hitam makin tebal, mereka hanya bisa pasrah. Bagi Erna dan lainnya, bila hari ini mereka bisa mendapatkan makanan, itu sudah merupakan suatu anugrah. Apakah banjir akan datang hari ini atau esok, itu urusan yang di atas, yakni pemerintah kota yang hidup di atas tempat tinggal mereka, maupun yang benar-benar di atas sana... (Rita Ayuningtyas) Copyright 2006 Kompas Group
