http://www.kompas.com/kompas-cetak/0711/26/Politikhukum/4023433.htm
========================

Jakarta, Kompas - Peningkatan anggaran bagi gaji prajurit TNI,
anggaran operasional dan pengadaan alat utama sistem persenjataan,
merupakan tahap pemenuhan pembangunan postur TNI yang ideal. Untuk
mewujudkan TNI yang profesional, postur TNI dan alat utama sistem
persenjataannya minimal identik dengan Singapore Armed Forces yang
disesuaikan dengan kondisi Indonesia.

Connie Rahakundini Bakrie, penulis buku Pertahanan Negara dan Postur
TNI Ideal, yang diluncurkan Sabtu (24/11) malam di Jakarta,
menggambarkan postur militer di Indonesia, sebagai negara terbesar
dalam jumlah penduduk dan wilayah di Asia Tenggara, harus melebihi
Singapura. Namun, Singapura ternyata memiliki anggaran pertahanan
lebih besar, sekitar 238 persen, dibanding Indonesia, meski pendapatan
domestik bruto (PDB) Singapura hanya 41,83 persen dibanding Indonesia.
Anggaran pertahanan Singapura tercatat 5,3 persen dari PDB-nya,
sedangkan anggaran pertahanan Indonesia hanya 0,93 persen PDB.

Menurut Kusnanto Anggoro dari Center for Strategic and International
Studies (CSIS), dalam diskusi yang dilaksanakan sesudah peluncuran,
asumsi studi Connie adalah sistem pertahanan negara masa depan sama
seperti sekarang, yang terkait erat ekonomi dan pertahanan negara.

Edy Prasetyono, juga dari CSIS, menunjukkan teori Connie dalam sistem
pertahanan kurang lebih analog yang dikembangkan VOC abad ke-16. Untuk
memperkuat armada perangnya, VOC mengalokasikan sebagian besar
anggarannya untuk pertahanan.

Strategi besar militeristik yang diusulkan Connie, kata Edi,
mensyaratkan jumlah artileri untuk TNI AD, misalnya, harus 4.362 unit.
Dengan jumlah itu, kemampuan dukung serang TNI AD masih berada di
bawah rata-rata negara Asia Pasifik, termasuk Thailand dan Vietnam.
Padahal, dibangun dengan visi internasional, idealnya TNI harus
menjadi kekuatan terbesar di Asia Tenggara, baik dari segi jumlah alat
utama sistem persenjataan, personel militer, maupun efektivitas
komposisinya.

Menurut Andi Widjajanto dari Universitas Indonesia, dengan pola sistem
pertahanan masa depan itu, Indonesia perlu anggaran pertahanan tiga
kali lipat dari anggaran pendidikan tahun ini. Namun, sejak Orde Baru
sampai sekarang, tampaknya pemerintah lebih memberikan prioritas untuk
pengembangan mutu sumber daya manusia. Meskipun demikian, Connie yang
merupakan istri Letjen TNI (Purn) Djadja Suparman tak jatuh dalam
sikap pesimistis. (STS)



Kirim email ke