Kekuasaan Partai Liberal Habis, Mantan PM Howard Dipermalukan
http://www.kompas.com/kompas-cetak/0711/26/ln/4024384.htm
======================


sydney, minggu - Sehari setelah mencukur habis Partai Liberal pimpinan
mantan Perdana Menteri John Howard dengan meraih 83 dari 150 kursi
parlemen, PM Kevin Rudd, Minggu (25/11), berjanji akan menangani dua
isu krusial, yakni perubahan iklim dan kebijakan perang Irak, seperti
yang ia janjikan ketika kampanye.

Berakhir sudah kepemimpinan Howard selama 12 tahun. Masuk ke dalam era
yang baru bagi Australia ini, Rudd berjanji akan melaksanakan semua
janji yang pernah ia ucapkan ketika kampanye pemilu. Masalah pemanasan
global dan rencana menarik pasukan keamanan Australia dari Irak
termasuk dalam janji-janji kampanye Rudd (50). Tema-tema kampanye Rudd
adalah masalah yang biasanya tidak disentuh Howard. Karena itu, alasan
rakyat memilih Rudd semata-mata karena rakyat menginginkan ada
perubahan di Australia. Sebagai permulaan, isu pemanasan global akan
menjadi semacam ujian bagi Rudd karena persoalan itu yang
dikhawatirkan mengingat Australia merupakan benua yang paling kering
di bumi. Kini Australia mengalami musim kering terparah dalam 100
tahun terakhir. "Yang penting sekarang mulai bertindak," ujarnya.

Pernyataan Rudd itu terbukti. Baru saja terpilih, Rudd langsung
bekerja dan bertemu dengan para pejabat untuk membahas mekanisme
penandatanganan Protokol Kyoto mengenai pengurangan emisi gas rumah
kaca. Selama ini Howard—seperti AS—tidak mau menandatangani Protokol
Kyoto. Rudd tidak hanya membahas masalah itu dengan pejabat Australia,
tetapi juga dengan komunitas internasional, seperti Indonesia,
Inggris, dan AS. Meningkatkan hubungan dengan AS dan negara-negara di
Asia juga menjadi salah satu perhatian Rudd.

Rudd yang bisa berbahasa China dengan fasih diyakini bisa memainkan
peran penting menjalin hubungan dengan negara-negara di Asia yang saat
ini tengah bangkit. Dengan spesialisasi studi Asia dan pernah menjadi
diplomat di Beijing, para pengamat yakin dia akan membuka era baru di
dalam hubungan dengan Asia. "Howard itu PM tua yang hidup di dunia
yang jauh lebih baru. Gayanya itu sudah ketinggalan zaman. Rudd pasti
akan lebih positif dan maju," kata pengamat John Hart.

Kelihaian Rudd berbahasa China itu diyakini akan sangat membantu dalam
hubungan Australia dan China. Para pengamat yakin AS akan memanfaatkan
kemampuan Rudd ini. "Peran China dalam berbagai persoalan dunia kini
berubah. China tidak hanya bangkit perekonomiannya, tetapi juga kini
lebih banyak mengambil peran konstruktif dalam menyelesaikan berbagai
masalah dunia," kata Hart.

Damien Kingsbury dari Deakin University menyatakan, Rudd juga akan
menempuh jalur berbeda dengan Howard. "Sudah jelas sejak dulu Howard
merasa kurang nyaman dengan negara-negara di kawasan ini. Menjalin
hubungan dengan para pemimpin politik di kawasan ini menjadi
kekurangan Howard. Rudd jelas akan nyaman menjalin hubungan dengan
para pemimpin di kawasan regional," ujarnya.

Howard malu

Faktanya, rakyat tidak lagi suka dengan Howard (68). Sebagai PM
Australia yang menduduki urutan kedua terlama, kekalahan dalam pemilu
kali ini menjadi hal yang memalukan. Lebih memalukan lagi bagi Howard
jika mengetahui bahwa Howard bahkan kalah di daerah pemilihannya
sendiri. Howard yang selama ini "menempel" pada Presiden AS George W
Bush itu tak bisa membaca "tanda-tanda" bahwa rakyatnya sudah mulai
jenuh kepadanya.

Mantan Dubes Indonesia untuk Australia (1991-1995) Sabam Siagian
mengatakan, Indonesia akan diuntungkan dengan kemenangan Rudd.
"Masalahnya adalah tinggal bagaimana kita menyerap dan memanfaatkan
perhatian Australia yang sudah pasti akan meningkat ke Asia, termasuk
ke Indonesia," kata Sabam. (REUTERS/AFP/AP/LUK)



Kirim email ke