Sebagian Etnis China dan Melayu Dukung Aksi Protes

http://www.kompas.com/kompas-cetak/0711/26/utama/4024473.htm
======================

Kuala Lumpur, Minggu - Polisi Malaysia mementungi dan menyemprot
sekitar 10.000 pengunjuk rasa etnis India yang melakukan protes di
Kuala Lumpur, Minggu (25/11). Pemerintah mengatakan, aksi itu harus
dihentikan karena dapat makin memicu kebencian rasial di negara yang
terancam perpecahan etnis.

Aksi etnis India itu (yang mayoritas dari Tamil) bertujuan mendukung
gugatan yang diajukan ke sebuah pengadilan di London pada Agustus lalu
oleh organisasi bernama Kekuatan Aksi Hak-hak Hindu (Hindu Rights
Action Force). Aksi protes juga mengecam diskriminasi yang dilakukan
Pemerintah Malaysia.

Kelompok itu menuntut kompensasi 4 triliun dollar AS (Rp 36.000
triliun) dari Inggris. Kelompok itu mengatakan, mereka dirugikan
karena Inggris mendatangkan nenek moyang mereka ke Malaysia, yang
kemudian diperlakukan sebagai budak dan dieksploitasi.

Etnis India itu mengatakan, mereka telah dirugikan sejak Malaysia
merdeka dari Inggris 31 Agustus 1957. Etnis India mengalami perlakuan
diskriminasi serta banyak warganya kecanduan alkohol dan terlibat
kejahatan.

"Sekitar 50 tahun etnis India sudah terpinggirkan. Kami ingin menuntut
hak yang dinikmati etnis lain," kata M Kulasegaran, anggota oposisi di
parlemen Malaysia. "Mereka tidak berhak menghentikan kami."

Pemrotes membawa gambar Mahatma Gandhi, tokoh besar dunia asal India.
Mereka juga membawa poster bertuliskan, "Kami menginginkan hak-hak kami."

Salah seorang pemrotes, Singam Suppiah, mengatakan aksi ini adalah
refleksi dari ketidaksabaran yang sudah mengkristal. "Saatnya tiba,
bom waktu akan meledak. Kami tak bisa lagi bersabar," katanya.

N Vijayan (40), teknisi, yang turun ke jalan, mengatakan aksi ini
seharusnya membangunkan pemerintah bahwa kebijakan pemerintah
mengganggu mereka.

Sebagian pemrotes meneriakkan ungkapan tidak ada demokrasi di
Malaysia, tidak ada hak asasi di Malaysia. "Kami berjuang untuk meraih
kemerdekaan di negara ini. Mengapa mengabaikan hak-hak kami?"

KK Krishna, pemrotes lain, mengatakan hanya sedikit warga India yang
duduk di universitas. "Mengapa demikian, apakah etnis India bodoh?"

P Uthaya Kumar, oposisi dari parlemen, dan penyelenggara protes
mengatakan kelompoknya sudah mengirimkan surat kepada pemerintah
selama lima tahun terakhir, isinya meminta dialog. "Permintaan
ditolak. Mereka tak menghargai kami," katanya.

Artifisial

"Aksi ini belum pernah terjadi," kata P Uthaya Kumar. "Ini adalah
sebuah aksi komunitas yang sudah tidak bisa lagi menerima diskriminasi."

Aksi ini memperlihatkan kampanye gencar, tetapi artifisial, yang
dilakukan PM Malaysia Abdullah Ahmad Badawi di CNN. Badawi
menggambarkan Malaysia sebagai negara yang menghormati keharmonisan etnis.

Saat hendak menyampaikan protes ke Kedubes Inggris di Kuala Lumpur,
aksi mereka diredam polisi. Polisi Malaysia lebih kuat dan berhasil
meredam aksi yang berlangsung delapan jam di sekitar Menara Kembar
Petronas. Etnis India itu dipentungi dan disemproti dengan gas air
mata serta air bercampur bahan kimia yang merusak konsentrasi.

Polisi mengatakan telah menangkap sekitar 400 demonstran. Setengah
dari jumlah itu kemudian dilepas setelah identitas pribadi mereka dicatat.

Aparat dikecam

Etnis India juga meminta kebijakan Dasar Ekonomi Baru (New Economic
Policy/NEP) diakhiri. NEP pernah diakhiri tahun 2005. Politisi dari
Organisasi Nasional Melayu Bersatu (UMNO) memperpanjang NEP 15 tahun
lagi hingga 2020. NEP bahkan dijadikan sebagai Agenda Nasional Baru.
Tujuannya, memberdayakan Melayu, dengan alasan penguasaan aset ekonomi
yang kalah dari etnis China.

Samy Vellu, politisi keturunan India yang propemerintah, mengecam aksi
itu sebagai merusak citra pemerintah. "Kami tak mendukung aksi ini.
Kami sudah bekerja di dalam sistem untuk mengatasi persoalan yang
dihadapi etnis India," kata Samy.

Mohamed Nazri Abdul Aziz, pejabat dari Kantor Perdana Menteri,
mendukung tindakan polisi. "Aksi protes ini ilegal."

Namun, Lim Kit Siang, oposisi dari parlemen dan Ketua Partai Aksi
Demokrasi, mengecam tindakan aparat, yang digambarkan sebagai refleksi
dari pemerintahan yang tidak demokratis.

ALIRAN, kelompok pembela hak asasi manusia di Malaysia, mendukung aksi
etnis India itu.

Partai Keadilan, yang diketuai Wan Azizah Wan Ismail, istri Anwar
Ibrahim, meminta polisi menghentikan tindak kekerasan.(REUTERS/AP/AFP/MON)



Kirim email ke