Sebuah Tilikan dengan Teori Sistem

Oleh F BUDI HARDIMAN
http://www.kompas.com/kompas-cetak/0711/28/opini/4034122.htm
=======================


Mengapa reformasi tidak segera mereduksi kompleksitas dan justru
meningkatkannya? Sistem kuasi-organis Orde Baru belum sungguh diganti
oleh sistem semiotis yang menjadi dasar demokrasi, melainkan
berkoeksistensi dengannya sebagai sistem bayangan. Dari ambivalensi
ini direproduksi suatu sistem hiprokrisi di berbagai bidang, yakni
suatu eksterior demokratis-seremonial dan interior
kleptokratis-paternalistis.

"Bahasa memindahkan kompleksitas sosial ke dalam kompleksitas psikis"
- N Luhmann

Menurut penggagas utama teori sistem di Jerman, Niklas Luhmann
(+1998), sistem terbentuk melalui negentropi, yaitu reduksi atas
kompleksitas. Rak buku, neuron, Windows XP, atau negara hukum termasuk
negentropi itu.

Sistem adalah strategi untuk mengatasi khaos atau apa yang dalam
termodinamika disebut entropi. Jika transisi dari entropi ke
negentropi bisa disebut formasi tatanan, proses yang sebaliknya
disebut destruksi. Keduanya adalah transformasi. Luhmann menjelaskan
bahwa lingkungan (Umwelt) selalu lebih kompleks daripada sistem. Bila
Busway di Jakarta, misalnya, tidak mampu mereduksi kompleksitas lalu
lintas, proyek ini gagal membentuk batas antara sistem dan lingkungan,
maka tak terbentuk negentropi yang merupakan solusi masalah
lingkungan. Eskalasi kompleksitas justru menelan sistem.

Tilikan teori sistem ini mungkin dapat membantu kita untuk memahami
krisis berkepanjangan dalam masyarakat kita. Transisi dari otokrasi ke
demokrasi bukanlah perubahan yang sesederhana pergantian personalia
sebuah perusahaan karena yang berubah di sini bukan hanya perilaku
sosial, melainkan juga sistem sosial. Bagaikan jebolnya sebuah
bendungan yang meningkatkan kerumitan lingkungannya dalam bentuk
banjir, kerusakan, dan kematian, hancurnya sebuah sistem politik
meningkatkan kompleksitas lingkungannya, yakni ekonomi, budaya, dan
kepribadian.

Pertanyaan kita lalu, mengapa sistem-sistem sosial yang ada dalam era
reformasi ini, seperti sistem hukum, sistem politik, sistem
parlementer, dan seterusnya tidak segera mereduksi kompleksitas
seperti yang pernah secara mengesankan sekali dibuktikan oleh sistem
politik otokratis Orde Baru selama tiga dasawarsa. Dugaan umum bahwa
sistem otoriter masih operasional pada ranah sosio-kultural dan
berkoeksistensi dengan sistem demokrasi yang menuntut fairness dan
transparansi layak untuk dijelaskan dalam sebuah kerangka teoretis.
Dan, teori sistem Luhmann kiranya dapat memberikan sebuah tilikan yang
menarik mengenai ambivalensi sistemis dalam transisi menuju demokrasi itu.

Sistem, otopoiesis, dan "emergence"

Teori sistem membedakan tiga macam sistem: sistem mekanis (mesin),
sistem organis (makhluk hidup), dan sistem semiotis
(kesadaran/bahasa). Rezim otoriter seperti Orde Baru tentu bukan
sistem mekanis atau organis, melainkan semiotis karena sistem ini
menggunakan bahasa atau makna untuk menaklukkan, yaitu ideologi dan
teror. Namun, makna di sini, yakni konsep negara integralistik,
dimodelkan secara organistis. Otokrasi adalah sistem semiotis yang
ingin meniru sistem organis. Kita dapat menyebutnya sistem
kuasi-organis "seolah-olah organis". Entropi, yakni konflik etnis,
religius, dan ideologis ingin diatasi dengan model sistem biologis,
seperti sel, serangga, pohon. Organisme tidak memiliki tujuan lain
selain dirinya sendiri, maka peristiwa-peristiwa dalam lingkungannya
tidak memiliki nilai informatif, melainkan baginya adalah sebuah gangguan.

Luhmann menyebut ciri setiap sistem sosial autopoiesis (menghasilkan
sendiri). Yang dimaksud bukan bahwa sistem tak membutuhkan apa-apa
dari lingkungannya, melainkan bahwa keutuhan sistem itu direproduksi
oleh dirinya sendiri. Rezim otoriter juga merupakan sistem otopoietis:
ia memangsa komponen-komponen asing dalam lingkungannya (oposan,
minoritas, disiden) sebagai gangguan untuk mencapai otonominya
sendiri. Beroperasi dengan kode memangsa/dimangsa, sistem
kuasi-organis ini meniru mesin-mesin predator dalam rimba.

Sistem kuasi-organis tidak "tahu" sama sekali apa yang terjadi dalam
lingkungannya karena tak berlangsung pertukaran informasi di antara
keduanya. Humberto Maturana mencontohkan ini dengan seorang pilot yang
berhasil mendarat dan penerbangannya dipuji. Pilot ini menjawab bahwa
ia tidak terbang dan tidak mendarat, melainkan hanya memanipulasi
tombol-tombol pada pesawatnya dan mengikuti prosedur teknis. Begitulah
perilaku aparat dan birokrat dalam rezim otoriter yang setelah
melakukan represi, diskriminasi, dan marginalisasi terhadap masyarakat
tak merasa melakukan semua itu karena ia hanya merasa mengikuti
prosedur teknis. Kompleksitas lingkungan direduksi tidak dengan
dialog, melainkan dengan isolasi dan homogenisasi. Dari luar terlihat
suatu negentropi yang menakjubkan, tetapi dari dalam sistem itu
dialami sebagai negativitas, yakni massa, teror, dan trauma.

Teori sistem menjelaskan demokrasi sebagai transisi dari model
kuasi-organis ke model semiotis dalam mengelola negara. Menurut teori
sistem, transisi dari sistem organis ke sistem semiotis terjadi
sebagai lompatan evolusioner atau suatu peningkatan ke taraf yang
lebih tinggi. Istilah yang dipakai adalah emergence: ketimbalbalikan
pada ranah mikroskopis, misalnya, jejaring neuron, menghasilkan
kualitas baru pada ranah makroskopis, yaitu kesadaran. Begitu juga
organisasi diri para individu yang bebas dan setara dalam masyarakat
demokratis adalah suatu emergence, yakni menghasilkan kompleksitas
sistemis baru yang tak dapat ditampung oleh model kuasi-organistis.
Kualitas baru hasil lompatan evolusioner yang tidak terdapat dalam
sistem organis itu adalah sistem makna atau kesadaran, dan dalam
demokrasi "entitas semiotis" yang merupakan emergence dari
organisasi-diri masyarakat ini adalah ruang publik politis yang berdaulat.

Seperti semua sistem lainnya, demokrasi sebagai sistem semiotis juga
merupakan suatu strategi untuk mengatasi khaos. Kompleksitas tidak
direduksi "dari luar" belaka, yaitu sebagai problem teknis-obyektif,
melainkan juga "dari dalam", yaitu sebagai problem
hermeneutis-intersubyektif, sebab—seperti dikatakan Luhmann—sistem
makna "tidak ada" bagi pengamat dari luar; ia ada bagi partisipan
komunikasi yang melibatkan diri ke dalamnya. Karena itu, ruang publik
politis "tidak ada" bagi para otokrat; ia ada bagi para demokrat yang
merajut organisasi diri masyarakat mulai sel terkecil sampai pada
jejaring makro suatu emergence yang disebut kedaulatan rakyat. Namun,
sebelum sampai ke lompatan evolusioner yang dapat dibandingkan dengan
lompatan dari organisme ke kesadaran itu, suatu entropi akibat
transisi dari model organis ke model semiotis harus dihadapi.

Dengan meningkatnya kompleksitas lingkungan akibat globalisasi pasar
dan dorongan demokratisasi, sistem politis Orde Baru tak lagi mampu
mengelola kompleksitas. Reproduksi konsensus secara monologal oleh
rezim otoriter itu tak lagi sanggup mereduksi kompleksitas
lingkungannya yang semakin pluralistis. Jebolnya sistem
kuasi-organistis yang gigantis itu menghasilkan pluralisasi sistem
yang menempatkan model kuasi-organis hanya sebagai salah satu sistem
di antara sistem-sistem lain dalam sebuah sistem semiotis terbuka yang
disebut ruang publik politis. Jika sebelumnya Orde Baru
mengidentifikasi diri dengan mengaburkan identitas sistem-sistem
lainnya, kini dalam demokrasi berbagai sistem identitas—entah itu
religius, etnis, politis, kultural, dan seterusnya—meruncing dan
membentuk "sekte-sekte sosial" yang imun. Krisis politis tidak diatasi
sampai berbagai sistem imun ini berinterpenetrasi membangun jejaring
masyarakat warga.

Diskursus perbatasan dan krisis kebangsaan

Teori sistem berbicara tentang diskursus perbatasan (Grenzdiskurs),
yaitu bentuk komunikasi yang menolak komunikasi. Itulah penjelasan
teori sistem bagi kompleksitas baru yang secara sentimental disebut
krisis kebangsaan. Berbeda dari diskursus argumentatif yang mencari
konsensus rasional dalam sebuah dunia bersama atau "kekitaan",
diskursus perbatasan memaklumkan demarkasi antara dunia kita dan dunia
mereka. Batas itu berbunyi "dunia-ku adalah dunia-ku, dunia-mu adalah
dunia-mu". Alih-alih melalui distansi dan deliberasi, diskursus ini
menuntut suatu keputusan melalui partisipasi dan misi, maka ia berciri
naratif, mitis, narsistis, dan ritual. Tidaklah mengherankan bahwa
suatu komunikasi yang produktif dengan para fanatikus dan
fundamentalis mendekati kemustahilan sebab mereka melakukan senandika
(soliloqui) di hadapan yang lain.

Diskursus perbatasan mereproduksi komunitas-komunitas narsistis pemuja
ortodoksi agama, keunggulan etnis, ataupun supremasi ideologis. Kode
semiotisnya: "kita versus mereka". Kita selamat, mereka sesat. Sistem
semiotis yang dihasilkannya adalah sebuah senandika berbahaya yang
mengantar pada kekerasan kolektif dan konfrontasi sistem-sistem
pandangan dunia. Komunikasi diganti kebungkaman.

Menurut Luhmann, kebungkaman adalah juga bentuk komunikasi, yaitu
"pernyataan" untuk berhenti berkomunikasi. Komunikasi tidak berhenti
dengan kebungkaman, bukan hanya karena kebungkaman adalah suatu bentuk
pernyataan, tetapi juga karena—demikian Luhmann—"interpretasi atas
kebungkaman melayani otopoiesis komunikasi". Agenda-agenda terorisme,
manajemen-manajemen kleptokratis, organisasi-organisasi sektarian, dan
seterusnya dalam demokrasi membenturkan atau menyembunyikan dunia satu
dengan dunia lainnya seolah tak mungkin dihubungkan satu sama lain.
Berbeda dengan kepercayaan timbal balik yang mereduksi kompleksitas,
ketidakpercayaan timbal balik ini meningkatkan kompleksitas sosial.

Hipokrisi dan transparansi

Pertanyaan mengapa reformasi tidak segera mereduksi kompleksitas dan
justru meningkatkannya dapat kita jawab di sini. Sistem kuasi-organis
Orde Baru belum sungguh diganti oleh sistem semiotis yang menjadi
dasar demokrasi, melainkan berkoeksistensi dengannya sebagai sistem
bayangan. Dari ambivalensi ini direproduksi suatu sistem hiprokrisi di
berbagai bidang, yakni suatu eksterior demokratis-seremonial dan
interior kleptokratis-paternalistis. Manajemen politis yang tak
transparan membutuhkan berbagai sistem imun untuk melindungi
penyimpangannya dari kontrol publik. Dusta meningkatkan kompleksitas
sistem komunikasi lewat distorsi-distorsi komunikasi yang mereproduksi
sistem-sistem ad hoc serumit ornamen gereja Barok untuk menyembunyikan
kepentingan parsial. Apa yang dapat kita katakan tentang produk
kebijakan era reformasi yang mengatur moralitas dan agama selain bahwa
telah terjadi barokisasi di sini? Bukankah eskalasi kompleksitas
sosial itu direpetisi oleh individu sebagai kompleksitas psikis, yakni
sebagai karakter hipokrit?

Transisi dari organisasi dari atas ke organisasi diri dari bawah
melibatkan ketimbalbalikan seluruh sel-sel (baca: microsystems) sosial
secara struktural dan mental, padahal sel-sel itu telah dilumpuhkan
oleh rezim otoriter yang selama tiga dasawarsa melakukan senandika
tentang dunia politis dan ideologinya sendiri. Sikap-sikap tiranis,
pemerasan, manipulasi yang dulu dijalankan secara sistemis oleh rezim
otoriter, sekarang direpetisi oleh "sekte-sekte sosial" yang
menghalangi pertumbuhan sel-sel organisasi diri warga yang masih
sedikit dan lemah. Rivalitas keduanya sering dimenangkan oleh
sekte-sekte sosial itu yang mengorganisasi diri lebih "baik" daripada
warga baik-baik. Argumentasi adalah sia-sia karena mereka melakukan
diskursus perbatasan yang menghalangi organisasi diri warga. Kegagalan
sel-sel organsasi-diri pada ranah mikrosistemis untuk membentuk
jejaring komunikasi pada ranah makrosistemis ini menghalangi
terciptanya tatanan emergence kedaulatan rakyat.

Teori sistem menjelaskan "demokrasi" sebagai sistem semiotis yang
mampu beradaptasi dengan kompleksitas lingkungannya. Sistem itu akan
makin terdiferensiasi secara internal untuk mereduksi kompleksitas di
luarnya yang juga makin meningkat. Jika buku-buku berbagai tema
terserak dan menimbulkan kebingungan saat mencari salah satu tema,
misalnya, kompleksitas ini hanya bisa diatasi lewat sistem katalog
yang sangat terdiferensiasi dalam sebuah perpustakaan yang kompleks.
Begitu juga globalisasi pasar dan informasi "menyerakkan" berbagai
gaya hidup dan orientasi nilai. Sistem yang "cerdas" mampu mereduksi
kompleksitas itu dengan mewadahi berbagai kontradiksi sosial; sistem
yang "pandir" cenderung menambah kompleksitas dengan banyak
disfungsionalitas.

Menurut Luhmann, protes merupakan bagian sistem semiotis, maka
demokrasi tidak mengucilkan protes, melainkan memasukkannya ke dalam
dinamika komunikasi politis yang dilihat secara sistemis berciri
anonim. Ruang publik politis tak lain daripada "aliran tema dan
informasi" yang anonim karena bagi teori ini, manusia "adalah" suatu
penanda (signifier) dalam bahasa. "Emosi", seperti diusung oleh
gerakan-gerakan protes, adalah juga informasi-informasi dalam
sirkulasi komunikasi anonim dalam ruang publik. Mereka marah,
frustrasi, dan agresif, tetapi pesan yang disampaikan secara semiotis
tak lain daripada hanya: atau "ya" atau "tidak"—tak lebih daripada
itu. "Tak ada sekuensi komunikasi yang dapat menjelaskan apakah orang
sungguh memiliki emosi-emosi", demikian Luhmann. Protes adalah
"sistem-sistem imun" yang menguji realitas demokrasi pluralistis dalam
masyarakat kompleks. "Gerakan-gerakan sosial memiliki fungsi untuk
mengajak bicara tentang realitas-realitas dari jenis yang lain."
Sistem demokrasi yang mampu berkomunikasi dengan sistem-sistem protes
adalah sebuah sistem kompleks yang mampu mengelola kompleksitas
lingkungan yang hiperkompleks.

Mereduksi kompleksitas demokrasi bergantung pada transparansi dan
fairness. Tanpa dua hal ini, terjadi eskalasi kompleksitas karena
sistem yang tidak transparan dan tidak fair, misalnya korupsi, akan
membutuhkan sistem-sistem hipokrisi untuk menyembunyikan kepentingan
parsialnya. Korupsi sebagai sistem dengan berbagai lapisan sistem
pelindungnya merumitkan komunikasi dan meningkatkan kompleksitas yang
disfungsional bagi keseluruhan. Sebuah sistem yang hampir serumit
lingkungannya akan ditelan oleh lingkungannya dan mendestruksi
dirinya. Sebaliknya, transparansi dan fairness meningkatkan public
trust dan membuka komunikasi. Negentropi dalam komunikasi agaknya
bertumpu pada asas sederhana ini: "Jika ya katakan ya, tidak katakan
tidak, karena selebihnya berasal dari si jahat." Dari asas itulah
kepercayaan timbal balik sebagai sistem otopoiesis diproduksi.

F Budi Hardiman Staf Pengajar STF Driyarkara dan Universitas Pelita
Harapan 

Kirim email ke