Oleh ARSWENDO ATMOWILOTO
http://www.kompas.com/kompas-cetak/0712/19/Natal/4088465.htm
===================


Menurut istri saya, kami kawin bulan Desember. Tanggalnya saya suka
keliru sehari sebelum atau sesudahnya karena saya lebih ingat saat itu
hujan. Optimisme istri saya mengatakan tandanya banyak rezeki. Kini,
setelah sekian lama, saya menasihati: "Kamu harus baik-baik dengan
saya, sebab hidupmu bersama saya lebih lama dari kamu hidup sendiri
atau bersama keluargamu."

Optimisme lain yang dipercaya penuh, setiap kali ulang tahun
perkawinan, selalu ada kado dari sangkan paran, entah dari mana, yang
simbolis. Tiba-tiba ada pemberian patung istri-suami (istri disebut
dulu), atau sepasang gelas, atau handuk dua buah, atau sejenis itu.
Pemberian ini tidak diartikan khusus karena pemberinya tidak
mengetahui persis. Saya menyebutkan sebagai kebetulan. Suvenir dari
ceramah bisa apa saja. Kebetulan senada dengan suasana. Sudah lima
enam tahun kado kawin tak sengaja ini datang. Tahun lalu, juga ada
patung istri-suami dari Bali karena saya memperoleh penghargaan di sana.

Tahun ini?

Istri yang memperoleh. Saya sebetulnya tak ingin mengurangi apa yang
dipercayai, tapi juga tergoda bertanya. "Bukankah suvenir itu
diperoleh semua peserta kursus yang bersamamu?"

"Ya, tapi ini kan berkat juga."

Memang, tapi bukan surprise, seperti tahun-tahun lalu. Kadang bahkan
waktunya bisa persis tanggalnya.

Kita memang harus bersyukur dalam segala hal, untuk segala hal. Pun
kalau hari ulang tahun perkawinan berlalu.

Ternyata tidak. Sehari kemudian, sudah agak malam, istri saya
menyatakan berita besar. Cu5â€"artinya cucu nomor limaâ€"bisa berjalan.
Sekian lama ditunggu-tunggu, akhirnya bisa berjalan tanpa dipegangi.

Ini kado terindah. "Kalau kemaren, itu benar-benar buat kita," kata saya.

"Memang kemaren, persis. Cuma pembantunya masih merahasiakan, karena
jalannya belum lurus dan belum lama."

Selalu tepat, selalu pas.

Saya tahu masih banyak kado kawin yang bisa disyukuri. 

Kirim email ke