Rekan:
Solo dan juga Yogya adalah contoh yang baik dalam harmonisasi. Kedua
kota ini juga cerminan pluralisme tanpa harus meninggalkan lokalitas.
Mereka yang berkuasa dan paling berkuasa juga banyak dari kedua kota
ini. Inilah kekuatan Solo dan Yogya. Solo dan Yogya pembekal kepada
manusianya ketika ia berperan dalam panggung nasional. Namun yang
dapat dicatat ialah, ketika mereka yang telah memiliki budaya lokal
yang kuat itu pada tingkat nasional menjadi terbelah dan atau sama
sekali memperkukuh budaya itu untuk menjadi nasional.
Penyesuaian-penyesuaian dari lokal ke nasional sesuatu yang tidak
mudah jika tidak memiliki jiwa nasionalisme. Nasionalisme dapat tumbuh
manakala  feodalisme ditinggalkan. 
Sementara itu, saya melihat, peran nasionalisme dari seorang Raja Jawa
sangat bernas diperankan oleh Sri Sultan IX karena beliau berjuang dan
bergaul dengan para pemimpin nasionalis lainnya. Saya juga mulai
melihat pada diri Sri Sultan X. Suharto menurut saya bukanlah seorang
nasionalis, dia seorang militer-fasis yang kemaruk. Bekas sersan KNIL
dan Sodancho Jepang.
Mataram tidak harus hilang begitu feodalisme musnah. Perlu ada
formulasi baru sesuai dengan dinamika masyarakat. Kalau tidak,
lokalitas yang dipertahankan itu hanya bagian dari jaringan alat
kuasa. Simbolistik kosong. Saya melihat korupsi yang akan
menenggelamkan bangsa ini sumbernya pada feodalisme, yang oleh Suharto
dibangun, dipelihara dan dimanfaatkan secara salah . Kita masih ingat
bagaimana Raja Mataram (Sri Sultan X) memimpin demonstrasi
anti-Suharto di Ngayogyakarta Hadiningrat di awal reformasi.
Contoh yang diutarakan oleh Anton, ada keluarganya yang Islam,
Katolik, Muhammadiyah,  Murba dengan segala dinamika kehidupan wong
Solo, adalah contoh yang dapat dibanggakan ketika seseorang/keluarga
untuk menjadi seorang "egaliter." Tapi, saya sangat percaya, lokalitas
yang kini "terpelihara" di Solo, juga Yogya, tidak seperti yang kita
lihat "dari jauh" semacam itu. Disorganisasi dalam lembaga kebudayaan
Mataram pasti dan sudah lama terjadi, karena kedua kota ini dalam
sejarah RI adalah pemasok para eksekutif, penguasa politik, mereka
mengalami pergeseran nilai akibat keindonesiaan atau globalisasi,
ataupun namanya pengaruh luar. Lihatlah, ketika kita memaki Malingsia
sebagai pencuri, kita membacanya di koran ada orang yang menjual harta
pusaka di kraton Solo. Setidak-tidaknya, Solo juga terhimbas krisis.
Saya "kasihan" pada seorang terdakwa berbaju safari berusia tua tampak
merunduk, merasa tersiksa di depan kamera TV ketika didakwa sbg
pencuri, dan  saya tidak begitu yakin, apakah pak tua itu akan
menyatakan yang sebenarnya kepada polisi ketika diinterogasi, karena
selama hidupnya harus mengabdi kpd seorang raja.
Salam..
Zul


Kirim email ke