Logikanya simpel: Kalau kita dibayar suatu lembaga buat melakukan riset untuk 
keperluan lembaga itu, mana mungkin kita kritis terhadap lembaga tersebut? 
Kalau tujuannya ke situ, tak mungkin lembaga itu mau keluar duit buat bayarin 
tukang kritik.
   
  Bukankah sebelumnya lazimnya si lembaga akan minta di-briefing apa hipotesis 
riset, apa metodenya, apa tujuannya? Jadi, dia kira-kira sudah tahu hasil 
akhirnya akan seperti apa. Sesudah itu, baru dia mau keluarin duitnya. Inilah 
yang kerap disebut "riset pesanan" itu.
   
  Kalau risetnya menemukan bahwa lembaganya brengsek, jangan terima duitnya, 
dan beritakan hasil riset yang menyatakan kebrengsekan lembaga itu. Kalau kita 
ambil duitnya tapi juga mengkritik, maka etika kita juga bisa dipertanyakan. 
Lebih amannya, jangan mau riset dibiayai oleh lembaga yang kita ragukan 
integritasnya, apalagi kalau tujuan riset itu untuk kepentingan "politis" 
lembaga itu.
   
  Semoga ini bukan jenis RISET SUKSES yang dibicarakan Pak KK ya? Karena 
keliatannya riset ini memenuhi tiga kriteria Anda lho, Pak. Termasuk aspek 
"komersial"-nya.
   
  manneke

GUSTI NURPANSYAH <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
          Saya kebetulan juga meluangkan waktu hadir di acara tersebut, karena 
menarik perhatian untuk mengetahuinya. Tapi menurut hemat saya, seminar kemaren 
secara kasat mata telah terkondisikan dengan endingnya "menghakimi" pemberitaan 
tempo. Kesalahan pertama menurut saya (berdasarkan hasil penelitian juga yg 
pernah saya baca), dimanapun di dunia ini penelitian yang dibiayai oleh 
lembaga/badan tertentu 87% hasilnya secara umum menyesuaikan message yang ingin 
dicapai oleh lembaga/badan hukum tersebut, jika demikian adanya maka 
independensi hanyalah retorika semata dan itu artinya hanya masalah bagaimana 
kemasannya saja agar terlihat ilmiah dan bagus, sehingga menjadi alat 
legitimasi yang cukup menyakinkan. Tak bisa kita pungkiri, dengan kekuasaan 
(terutama materi) apa saja bisa menjadi mungkin. Tak salah dan saya sependapat 
dengan pernyataan Plato yang mengatakan bahwa " Segenggam Kekuasaan jauh lebih 
kuat dibanding segudang kebenaran ".

Hemat kata, untuk kasus tersebut adalah sebuah kekeliruan besar jika kita hanya 
mempersoalkan teknis, content dll dari aspek pemberitaannya saja, yang 
terpenting dan substanstif yakni kebenaran realitasnya. dan untuk Prof.Tjipta 
Lesmana saya sangat sependapat ungkapan yang beliau sampaikan diseminar 
tersebut bahwa " Di era reformasi ini apapun pendapat kita meskipun berbeda itu 
boleh2 saja dan wajib bagi kita untuk saling menghargai satu sama lain" dan itu 
bisa dimaknai dan sesuai pengakuan Prof. Tjipta sendiri, bisa saja pendapatnya 
sendiri belum tentu benar sehingga endingnya janganlah ada pemaksaan kehendak 
bahwa ada pihak tertentu yang merasa paling benar.

Apapun pendapat yang berkembang dengan segala kontroversinya, biarkan publik 
yang menilainya.

Salam,


GusNur 

Kirim email ke