Pagi ini, rumah kami dikunjungi 46 murid dari sebuah SMP terkenal di
kawasan Menteng Jakarta. Bulan lalu guru2nya datang dan minta agar
murid2nya diperkenalkan pada apa yg namanya "ekonomi pertanian" utk
pelajaran ekonomi dan sedikit praktik tentang budidaya kaktus utk
pelajaran biologi. Saya menyanggupinya. Saya menyambut kedatangan
mereka di lapangan desa karena bis besar yg mengangkut mereka hanya
bisa berhenti di sana. Dan kamipun berjalan kaki sekitar 600 m ke rumah.

Sampai di rumah, ternyata di pinggir rumah kami sudah ada sekitar 5
orang pedagang asesoris a la Lembang dan pedagang stroberi. Astaga!
Tahu dari mana mereka? Saya tidak pernah menceritakan rencana ini ke
orang2 kampung kami. Untuk info2 spt ini mereka sangat gesit. Entah
bagaimana caranya. Jadilah rumah kami pagi ini seperti objek wisata. :)

Saya sadar yg akan diajak berdiskusi adalah anak2 SMP. Dengan
mahasiswa mungkin lebih mudah. Saya harus menjelaskan berbagai
pengalaman yang saya alami menyangkut pertanian, dalam bahasa dan
paparan yang sederhana. Untuk lebih afdol saya panggil seorang petani
sungguhan yang tidak saya instruksikan apa2 sebelumnya agar anak2 itu
memperoleh jawaban yang apa adanya.

Saya mulai dengan pertanyaan: "Siapa di sini yg berasal dari keluarga
petani?" Tidak satupun anak mengangkat tangannya. "Ayahnya? Kakeknya?"
Tidak satupun. "Siapa yg ingin jadi petani?" Juga tidak satupun tangan
terangkat. Saya tanya kenapa tidak ada yg ingin jadi petani? Mereka diam.

Setelah menjelaskan soal Indonesia yang subur, banyak petaninya,
komoditas2 pertanian, logika sederhana bagaimana banjir di kota
Bandung terjadi, dll, saya pun bertanya kepada mereka: "Pernah dengar
kata tengkulak (penduduk kampung kami menyebutnya bandar)? Apa yang
ada di kepala kalian dengar kata itu."
Beberapa anakpun mengacungkan tangan dan menjawab. Semua konotasinya
negatif. Saya pun mencoba menetralkan dulu posisi bandar, menjelaskan
mekanisme distribusi dalam perdagangan yg tidak terhindarkan, juga
mekanisme pasar menyangkut penawaran dan permintaan. Mereka paham,
karena seingat saya mekanisme pasar dulu juga saya ketahui pada saat SMP.

Saya lalu memanggil Pak Yaya, petani di kampung kami. "Pak Yaya ini
petani beneran, bukan spt saya yang petani jadi2an karena saya jarang
mencangkul, paling cuma angkut hasil panen, atau beli pupuk. Beda
dengan Pak Yaya yg sudah 40 tahun bertani. Namun saat ini Pak Yaya
tidak punya lahan (tentu sebelumnya, sebelum mengucap itu saya bilang
"punten, ya, Pak Yaya") dan tidak punya modal. Ada banyak petani
seperti Pak Yaya."

Pak Yaya saat ini sedang menanam 4000 kembang kol di lahan pinjaman.
"Pak, dari mana dapat modal untuk tanam? Berapa modalnya?"
"Dari bandar, pinjaman 2 juta".
"Kalau  misalnya nanti harga kembang kol lumayan, 2000 sekilo, bandar
yang pinjamin Pak Yaya uang, akan beli seharga berapa?"
"Paling 1500 sekilo."
Anak-anak itu pun bereaksi. "Kok gitu?" gumam seorang anak perempuan
yang manis sambil mengeryitkan dahi.
"Kalau misalnya nanti harga hancur sampai 300 sekilo, dan modal nggak
kembali, terus...?" tanya saya mengambang.
"Ya, Pak Yaya tetap harus membayar utang 2 juta itu."

Anak perempuan yang manis itu pun berkomentar, "Ih! jahat" [Kalau saya
tidak telat kawin, dan Domu, anak kami yg baru 16 bulan, sudah
seumuran dengan dia, tentu saya akan anjurkan Domu tanya nomor telepon
anak manis itu.] Anak-anak lainnya pun bereaksi lebih kencang. Saya
kira mereka menangkap apa yang terjadi: ketidakadilan.

Berbagai persoalan mengenai pertanian pun saya perbicangkan dengan
mereka. Secara sederhana dan santai, karena saya tahu usia 13 tahun
itu baru mulai remaja. Di kepala yg perempuan mungkin adalah HP lucu2
dan buku chicklit, di kepala laki2 seumur itu mungkin adalah bayangan
tentang perempuan2 SMA yang cantik2 hehehe. Tapi anak2 itu sangat
cerdas. Terbukti ketika pada sejam evaluasi akhir, saya lakukan tanya
jawab berhadiah dengan mereka. Berhadiah kartu pos arsitektur
Mangunwijaya. Puluhan pertanyaan "makro" dan "mikro" bisa mereka
jawab. Rebutan malah, suara merekapun keras2 padahal sedang Jumatan di
masjid depan. Saya kaget, apa yang dimakan oleh anak2 ini shg mereka
begitu kuat daya ingat dan bagus ketika berkomentar. Sampai jarak
tanam kol mereka ingat 60 cm, bahwa ketidakpastian soal harga jual
membuat petani sangat sulit, bahwa plastik ultraviolet pada atap
greenhouse gunanya untuk mengalirkan panas cahaya matahari, dst. dst.
Dua ratus lembar kartu pos pun mengalir dengan lancar. Nyaris semua
dapat."

Tadinya saya khawatir ada banyak hal yang mungkin "terlalu berat" saya
obrolkan dengan anak2 cerdas itu. Sebelumnya saya sudah me-wanti2
istri untuk mengingatkan saya jika terlalu serius atau materi yang
dibicarakan terlalu berat utk mereka. Ternyata tidak sekalipun ia
memberikan tanda2 itu.
[Saya teringat omongan adik saya, sekitar 10 tahun lalu, ketika kami
berdiskusi menyoalkan hasil saringan UMPTN yg didominasi oleh orang2
kaya kota: "Ya, susahlah anak petani atau nelayan di pelosok Toba sana
bersaing dengan anak2 kota yang lancar berinternet, enam bulan sekali
liburan jauh bahkan ikut kursus musim panas di luar negeri".]

Pada akhir pertemuan, sekitar pukul 2 siang--karena mereka akan
mengunjungi Studio Nyoman Nuarta setelah mengunjungi tempat kami--saya
memberikan pesan yang moga2 saja diingat minimal oleh seorang anak:
"Kalau nanti kalian makan nasi rames yang berisi nasi, sayur, ikan,
sambal, tahu, dll. mudah2an sekarang lebih mengerti bahwa banyak
kejadian yang tidak sederhana untuk menghasilkan sepiring nasi rames itu."

Barusan saya bicara dengan istri, "Kalau sedari anak2 dikenalkan pada
kenyataan2 spt persoalan pertanian, dan pengenalan itu berkelanjutan
termasuk selama mereka kuliah, kita akan menemukan orang2 pintar yang
benar2 hebat. Bisa melihat persoalan nyata di masyarakat dan mempunyai
kepintaran orisinal untuk mencoba menyelesaikan permasalahan itu,
dalam skala masing2."

horas!
erwin
Lembang


nb
Saya selalu memberitahu kata kunci "punten" kepada para tamu yang
bermain ke tempat kami. Kata ajaib itu bisa digunakan ketika
berpapasan dengan warga kampung. Namun ada yg menggelikan terjadi
tadi. Seorang petani melewati barisan anak2 yg sedang berdiri
mendengar penjelasan saya, dan yg terjadi adalah anak2 itu bergantian
bilang "punten". Hehehe... harusnya petani yg lewat itu yg bilang
punten, dan orang yg dilewati menjawab: mangga. Mungkin saya kurang
lengkap memberikan penjelasan.

Sebenarnya ada satu lagi yg sangat lucu. Jawaban seorang anak atas
pertanyaan saya ketika di kebun menjelaskan proses penanaman kol.
Lucunya POL. Jarang saya ketawa selama itu. Tapi, asli saya lupa apa.
Aduh, gatel banget nih otak kalo nggak ketemu.


Kirim email ke