Bung Dedi yg budiman, Kemarin seorang kerabat menyarankan saya untuk mencoba mengajak sekolah2 lain untuk melakukan hal yang sama. Meskipun secara bisnis hal ini bisa dibilang tidak menghasilkan apa2, tapi dalam jangka panjang ini akan mempunyai dampak positif.
Target kami kemarin adalah agar anak2 itu tahu bagaimana realitas petani di Indonesia. Merekalah pelaku2 aktif Indonesia pada masa mendatang. Bisa jadi dari anak2 itu jadi ada yang berminat menekuni profesi petani. Kalau itu ada, tentu itu suatu pilihan dengan tekad yg kuat atau melihatnya sebagai tantangan, karena yg kami paparkan kemarin ini adalah realitas pertanian yang begitu tidak adil untuk para petani. Kalaupun spt yg bung katakan, mereka 'hanya' berinvestasi di bidang pertanian, moga2 mereka melakukannya dengan memberikan keadilan kepada para buruh tani yg tiga bulanan bekerja di lapangan, dng merancang struktur upah dan biaya produksi yang baik dan adil. Atau siapa tahu dari antara mereka, ada yang jadi pengambil keputusan yang ada hubungannya dengan pertanian. Mereka bisa memberikan keputusan2 yang benar2 mengedepankan kepentingan petani, hal yang tidak saya lihat saat ini. horas! erwin --- In [email protected], "Dedi Dwitagama" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Petani > > Profesi yang hampir tak diimpikan oleh banyak anak-anak di negeri > agraris yang dulu kabarnya pernah swa sembada ... membahagiakan sekali > ada upaya mengantarkan anak kota untuk melihat suasana pertanian ... > mungkin setelah mereka jadi "sugih" berkenan utk inves di bidang > pertanian agar penduduk desa tak melulu pergi ke kota atau jadi ojek > untuk lunasi kredit motornya karena lahan orang tuanya sudah habis > terjual ... untuk jadi buruh mereka tak mau ... sekolah pertanian??? > hampir selalu sepi peminat ... cepatlah pulih Indonesiaku
