http://www.kompas.com/kompascetak/read.php?cnt=.kompascetak.xml.2008.01.22.04072797&channel=2&mn=12&idx=12

Hari Kamis Wage telah berganti Jumat Kliwon, saat Ketua DPR, yang juga
Wakil Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Partai Golkar, Agung Laksono
mengakhiri jumpa pers di halaman lobi Rumah Sakit Pusat Pertamina,
Jakarta, Jumat (18/1). Di Lantai V RSPP, menurut Tim Dokter
Kepresidenan, mantan Presiden Soeharto dirawat karena kondisinya masih
kritis.

Agung datang ke RSPP dengan pengawalan ketat. Dua motor besar dan dua
mobil pengawal di belakang kendaraan yang ditumpanginya. Meskipun
dikawal dan diikuti dua kendaraan, Agung datang dalam senyap. Tak ada
bunyi sirene atau lampu yang menyala biru menyilaukan mata, seperti
kelakuan pejabat yang gemar dengan pengawalan di jalan-jalan macet
Jakarta.

Saat Agung tiba pukul 22.55, lobi RSPP sudah padam sebagian besar
lampunya. Pintu kaca otomatis juga sudah dikunci dan dijaga petugas.
Setelah turun dari kendaraannya, Agung masuk RSPP dan menghilang untuk
beberapa saat.

Pukul 23.45, Agung pun keluar dari lobi RSPP. Dia kemudian
memanfaatkan meja dan kursi yang telah disiapkan pegawai RSPP untuknya
menggelar jumpa pers.

Agung yang baru saja selesai mengikuti rapat konsultasi antara
pemerintah, yang dipimpin Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, dan
pimpinan DPR di Gedung DPR mengaku tidak bisa menemui Soeharto karena
masih ditidurkan. Selama hampir satu jam menghilang di dalam RSPP,
Agung mengaku bertemu dengan beberapa anggota keluarga Soeharto.

Setelah menjelaskan siapa yang ditemuinya, Agung mulai berwacana
mengenai pemberian maaf untuk Soeharto, yang katanya telah dibicarakan
dalam rapat konsultasi dan tidak ada fraksi yang menolak. Agung bahkan
menyatakan, dua fraksi di DPR, yaitu Fraksi Partai Golkar dan Fraksi
Partai Keadilan Sejahtera (PKS), akan memberikan maaf untuk Soeharto.

Kepada keluarga Soeharto, Agung melaporkan rapat konsultasi yang salah
satunya membahas pemberian maaf untuk mantan presiden itu. Terhadap
wacana pemberian maaf itu, keluarga Soeharto menyambutnya dengan gembira.

Penjelasan sepihak di halaman lobi RSPP kemudian diakhiri Agung.
Ketika ditanya kenapa Soeharto perlu diberi maaf dan atas kesalahan
apa Soeharto dimaafkan, Agung yang dikawal beberapa orang yang berdiri
dengan muka kaku di belakangnya celingukan tidak bisa menjawab. Sambil
berusaha tersenyum, ia mengatakan, maaf untuk Soeharto itu adalah maaf
politik.

Ketika didesak lagi atas dasar apa Soeharto diberi maaf, Agung
menyebut kondisi kesehatan Soeharto yang masih kritis dan apresiasi
pemimpin negara sahabat sebagai alasan maaf diberikan. Setelah
sejumlah pertanyaan diajukan dan tidak memadai mendapatkan jawaban,
jumpa pers dihentikan.

Keesokan harinya, klaim Agung soal wacana maaf politik untuk Soeharto
sebagai bagian pembicaraan rapat konsultasi dibantah tidak hanya di
kalangan DPR, tetapi juga di kalangan Istana Kepresidenan.

Anggota Fraksi PKS Mutammimul Ula mengaku, fraksinya belum pernah
membahas pemaafan untuk Soeharto. Juru bicara kepresidenan Andi
Mallarangeng mengemukakan, Presiden Yudhoyono berpegang pada agenda
utama rapat konsultasi mengenai masalah anggota Komisi Pemilihan Umum
terpilih, Syamsulbahri.

Dengan ketidakjelasan wacana pemaafan untuk Soeharto dan bantahan yang
dikemukakan pihak yang diklaimnya, Agung sepertinya hendak mewakili
dirinya sendiri dan pihak yang berada pada posisi sepertinya terkait
Soeharto.

Bagi Agung, Soeharto adalah sosok yang membesarkan dan memberinya
panggung politik. Agung menjadi anggota DPR sejak tahun 1987 hingga
tahun 1997. Di akhir pemerintahan Soeharto, tahun 1998, Agung diangkat
menjadi pembantu Soeharto sebagai Menteri Negara Pemuda dan Olah Raga
Kabinet Pembangunan VII.

Dengan kiprahnya di panggung politik itu, Agung tetap dihitung hingga
sekarang menjadi Ketua DPR. Karena itu, wajar dan jelas logikanya jika
ia ingin memelopori pemberian maaf politik untuk Soeharto yang
membesarkannya.

Soal apakah Soeharto salah, soal apakah salah Soeharto sehingga perlu
diberi maaf, dan soal apakah memang Soeharto sendiri meminta maaf
karena merasa bersalah sehingga harus diperantarai permohonannya, tak
terlalu menjadi soal bagi Agung.

Pemaafan, menurut Agung, tidak harus selalu dikaitkan dengan
kesalahan. Karena itu, Soeharto harus dimaafkan. Soal salahnya, sekali
lagi, ”Ya, you know, lah.” (inu)

 

Kirim email ke