Setuju banget mas Tjuk, ini harus jadi GERAKAN. Namun sayangnya, sebagai gerakan kok ada kendala besar ya. Yaitu KEPEKAAN kita terhadap penderitaan orang lain maupun terhadap bangsa ini sangat kecil. Sulit membayangkan apa yang akan terjadi di 50 tahun ke depan, bila lumpur itu belum berhenti juga. Peta 22 Maret 2007 saja (Perpres 14/2007) sudah tidak relevan dengan sekarang. Desa Besuki, Siring, Pedarakan, Kedung Cangkring yang kini menuntut toh tidak ada yang bisa menjawab. Apalagi di tahun ke-50 nanti.
Seharusnya masyarakat Jawa Timur lebih peka dalam hal ini, tapi dilematis. Yaitu kuatir dianggap premordial, yang dirasakan oleh Dr. Daniel Siparinga yang pribumi asli dari Porong (satu contoh saja). Sebaliknya, gimana masyarakat luar Jatim akan ikut GERAKAN kalau yang di Jawa Timur saja tidak bergerak? Saya teh urang Bandung, seperti juga Dr. Rudi Rubiandini, jadi era (malu) kalau harus bergerak di depan (Masyarakat Bandung Peduli Lumpur telah ikut mensukseskan Hari Sumpah Pemuda di Porong). Kecuali kita sudah punya rasa nasionalisme yang serasa. Bukan paaing-aing (individualistis). Anyhow, goodluck, robama. --- In [email protected], tjuk kasturi sukiadi <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > > > NUSANTARACENTRE NUSANTARACENTRE <[EMAIL PROTECTED]> wrote: Tanggal: Sun, 24 Feb 2008 02:57:49 -0800 (PST) > Dari: NUSANTARACENTRE NUSANTARACENTRE <[EMAIL PROTECTED]> > Topik: [Forum Pembaca KOMPAS] Gerakan Menutup Lumpur Lapindo > Kepada: tjuk kasturi sukiadi <[EMAIL PROTECTED]> > > > DEKLARASI TUTUP SUMUR LAPINDO > > Tragedi Lapindo merupakan cerminan bobroknya pengelolaan negara dan elite politik yang diberi kepercayaan oleh rakyat. Mereka sebenarnya diberi amanat untuk menyejahterakan rakyat lahir dan batin, sehingga diperbolehkan mengeksploitasi sumber daya alam, tetapi yang terjadi justru sebaliknya. Sumber daya alam telah habis binasa, rakyat tetap didera kemiskinan dalam duka nestapa. > Gerakan Menutup Lumpur Lapindo merupakan gerakan independen tempat berhimpunannya manusia-manusia Indonesia yang masih mempunyai nurani, mencintai negeri, tanah air dan rakyatnya dengan penuh keikhlasan, kesetiaan, kebersamaan dan kesediaan untuk membela rakyat. Gerakan ini membaktikan dirinya untuk membela korban lumpur Lapindo, menyelamatkan bangsa, lingkungan, alam, kemanusiaan dan uang negara. > Dalam perjuangan mewujudkan cita-cita luhur untuk melindungi segenap bangsa dan tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum yang berkeadilan, khususnya bagi rakyat yang hidup di daerah semburan Lumpur Lapindo maka kami bertekad dengan segala daya upaya untuk menutup sumur Lapindo tersebut. > Kami mengajak semua elemen bangsa untuk bersatu padu melawan konspirasi pengusaha, penguasa, dan penyelenggara negara yang dengan sadar dan penuh tipu daya telah menyengsarakan dan mengorbankan rakyat serta menghancurkan kehidupan mereka. > Semoga Allah, Tuhan Yang Maha Kuasa senantiasa meridai dan melimpahkan rakhmatNya kepada perjuangan gerakan menutup lumpur Lapindo. > > Jakarta, Kamis, 21 Pebruari 2008 > Atas Nama Rakyat Indonesia > > Letjend. Mar (Purn.) Suharto, M. Yudhie Haryono, Prof. Dr. H. Ahmad Syafii Maarif, Ir. H. Salahuddin Wahid, Dr. H. Tjuk Kasturi Sukiadi, Dr. Rudi Rubiandini, Dr. H. Suparto Wijoyo, Ir. Mustiko Saleh, Ir. Kersam Sumanta, Prastiyo, Peter A. Rohi, M. Deddy Julianto, Hidayat Nurwahid, Soeripto, Sabri Saiman, Khofifah Indar Parawansa, Jacobus Mayong, Samuel Koto, Agus Sujoko, Adam Kencana, Aldo, Ali Fachmi, A. Harimurti, Bambang Sulistomo, Dandi Asmara, Djoko Supriyadi, Djuju Purwanto, Dwijo Sukatmo, Zulkifli, Roostien Ilyas, Rudi, Udin Jahuddin, Ali Azhar Akbar, Robin Lubron, Rusdi Edane, Akhmad Fathoni, Sunarto, Muhammad Mirdasy, Winarko, Taufik Basari, Norman Diah, Wahyu Dilts, Paring Waluyo Utomo, Adi Rusdianto, Holil Ashari, Ovan, Johan Bahdi, Herlambang, Indah Djatmiko, Irma Susanti, Iwan Dwi Laksono, Kadaruslan, Ki Slamet Raharjo, Yogi Soepardi, Parni Hadi, Soedjono, dkk.
