Mas Robama yang peka dan peduli,
  Kepekaan dan kepedulian terhadap penderitaan sesama warga bangsa dan terhadap 
kehancuran lingkungan alam, lingkungan kehidupan dan kemanusiaan adalah masalah 
besar bangsa kita. Bangsa ini telah "terbentuk" menjadi bangsa yang egois, 
permisip dan indolens. Oleh karena itu salah satu agenda utama perjuangan 
Gerakan Menutup Lumpur Lapindo adalah membangkitkan kembali sisa-sisa "spirit " 
kepedulian dan kepekaan tersebut. Nasib dari kawan-kawan dari lebih 8 desa 
"diluar peta terdampak pasti merupakan konsen kita. Itulah sebabnya kita 
mendukung tuntutan warga korban untuk "MENCABUT DAN ATAU MERUBAH PERPRES 14 TH 
2008". Disamping itu manakala perjuangan menutup sumber lumpur Lapindo berhasil 
maka "BIANG KEROK"  dari semua maslah ini akan berhenti. Ketakutan untuk hidup 
dalam ketidak pastian dan ketakutan untuk 50 tahun kedepan bisa dihentikan. 
Baru kemudian disusul dengan proses "Kompensasi dan Rehabilitasi". Besok pagi 
28 Februari 2008, GMLL akan seharian di Jawa Timur. Jam
 10.00 menghadap Gubernur dan dilanjutkan menemui Bupati Sidoarjo.  Kemudian 
pada jam 14.00 diselenggarakan Forum Sosialisasi Keberadaan, Visi dan Misi 
Gerakan Menutup Lumpur Lapindo di Kampus Fakultas Ekonomi Universitas 
Airlangga. Alhamdulillah ada pertanda baik yang memberikan harapan. Melihat 
senior mereka si dosen gaek Tjuk KS "jungkir balik-sungsal sambel" spontan 
muncul beberapa dosen yunior yang menawarkan bantuan mereka. Yang mengharukan 
mereka langsung buat list untuk daftar urunan untuk membiayai forum tersebut. 
Semoga Tuhan Allah Swt memberikan Ridho, Taufik Hidayah, Inayah dan Rahmatnya 
kepada kita yang tetap konsisten istiqomah membela perjuangan para korban 
lumpur, menyelamatkan lingkungan dan Uang Negara. Salam perjuangan Tjuk KS 

elrobama <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
          Setuju banget mas Tjuk, ini harus jadi GERAKAN. Namun sayangnya, 
sebagai gerakan kok ada kendala besar ya. Yaitu KEPEKAAN kita 
terhadap penderitaan orang lain maupun terhadap bangsa ini sangat 
kecil. Sulit membayangkan apa yang akan terjadi di 50 tahun ke depan, 
bila lumpur itu belum berhenti juga. Peta 22 Maret 2007 saja (Perpres 
14/2007) sudah tidak relevan dengan sekarang. Desa Besuki, Siring, 
Pedarakan, Kedung Cangkring yang kini menuntut toh tidak ada yang 
bisa menjawab. Apalagi di tahun ke-50 nanti. 

Seharusnya masyarakat Jawa Timur lebih peka dalam hal ini, tapi 
dilematis. Yaitu kuatir dianggap premordial, yang dirasakan oleh Dr. 
Daniel Siparinga yang pribumi asli dari Porong (satu contoh saja). 
Sebaliknya, gimana masyarakat luar Jatim akan ikut GERAKAN kalau yang 
di Jawa Timur saja tidak bergerak? Saya teh urang Bandung, seperti 
juga Dr. Rudi Rubiandini, jadi era (malu) kalau harus bergerak di 
depan (Masyarakat Bandung Peduli Lumpur telah ikut mensukseskan Hari 
Sumpah Pemuda di Porong). Kecuali kita sudah punya rasa nasionalisme 
yang serasa. Bukan paaing-aing (individualistis). 

Anyhow, goodluck, robama. 

Kirim email ke