Oleh Gede Prama
http://www.kompas.co.id/kompascetak/read.php?cnt=.xml.2008.03.06.01571067&channel=2&mn=154&idx=154


Andaikan fisikawan besar Albert Einstein masih hidup, mungkin ia tidak
akan mengira bahwa ilmu pengetahuan dan teknologi akan sepesat
sekarang. Namun, sebagaimana hukum alam, tidak ada kemajuan tanpa
pengorbanan. Kemajuan pesat ilmu pengetahuan dan teknologi memakan
ongkos tidak sedikit.

Daya utilisasi manusia terhadap ilmu pengetahuan dan teknologi atau
iptek maju pesat diikuti daya destruksi yang lebih dahsyat. Meminjam
hasil penelitian sejumlah ilmuwan yang menekuni social construction of
technology, sebagai contoh Bijker, Hughes, Pinch (ed) dalam The Social
Construction of Technological Systems, awalnya iptek hanya membantu
manusia, belakangan manusia mulai gagap menyesuaikan diri terhadap
iptek temuannya sendiri.

Semua bidang kehidupan (termasuk agama) mengalami kegagapan dalam
menanggapi kepesatan kemajuan iptek. Lihat, negara-negara yang ada di
barisan terdepan dalam iptek, dari Amerika Serikat, Jepang, Inggris,
Jerman, sampai Perancis. Banyak indikator sosial (depresi,
kriminalitas, dan konflik) menunjukkan bahwa iptek tidak saja tidak
menjawab semua, tetapi juga menghadirkan aneka kerumitan baru.

Keadaannya mirip perlombaan penemuan teknologi pestisida dengan
bertumbuhnya hama. Semakin keras iptek berusaha membasmi hama, semakin
banyak muncul hama dengan tingkat kekebalan yang kian tinggi dan kian
rumit. Pemanasan global dan konflik tiada henti hanya sebagian contoh
kegagapan manusia di depan iptek temuannya sendiri.

Di tengah aneka kegagapan seperti ini, izinkan sekali-sekali bukan
iptek yang berbicara, tetapi keheningan. Bukan untuk mengganti,
apalagi menggurui, hanya mau berbagi serpihan kontemplasi.

Kesempurnaan dalam kealamian

Tatkala J Krishnamurti mengajarkan untuk kembali ke kesegaran
pandangan ala anak-anak (maka karya masterpiece-nya berjudul Freedom
from the Known), banyak sahabat di Barat mengerutkan alisnya, tanda
tidak mengerti. Lebih dari tidak mengerti, ada yang mencurigainya
sebagai langkah mundur pertumbuhan jiwa.

Tentu boleh-boleh saja berpendapat demikian. Sebebas kupu-kupu terbang
menghinggapi bunga, sebebas burung elang terbang di udara. Dan bagi
jiwa yang biasa menyatu dengan kealamian alam semesta, akan mengerti
jika ada kesempurnaan dalam kealamian.

Kelapa tumbuh di pantai yang panas. Cemara segar bugar di gunung yang
sejuk. Ikan berenang di air, serigala berlari di hutan. Ketika hujan
dingin, ayam berteduh di bawah pohon, bebek mencemplungkan diri di
kolam. Semua sempurna dan berbahagia di tempat alami. Tanpa kata-kata,
tanpa analisa, tanpa penghakiman, tanpa pembandingan. Hanya diperlukan
upaya melihat apa adanya. Siapa yang bisa mengalir sempurna dengan
kealamian ini, ia sudah menjadi kesempurnaan itu sendiri.

Perhatikan alam lebih dalam lagi, semuanya berjalan mengalir tanpa
keluhan. Siang, malam, panas, dingin. Alam menerima segala musim tanpa
keluhan. Di luar terlihat lemah, tetapi jauh di dalam mereka kokoh
dalam kepolosannya.

Lebih-lebih pohon, jauh sebelum para nabi mengajarkan keikhlasan dalam
diam, pohon sudah lama mempraktikkannya tanpa suara. Maka Kahlil
Gibran mengagumi pohon karena ia perlambang pertapa yang berjalan
mendekati cahaya dalam diam dan keikhlasan sempurna.

Arsitek kenamaan dari Australia, Andrian Snodgrass, menulis dalam
mahakaryanya yang mendalam, The Symbolism of the Stupa, baik stupa dan
pagoda orang Buddha maupun meru orang Bali, sama-sama mau
mengonstruksikan kehidupan pertapa yang menyerupai pohon: berjalan
menuju cahaya dalam diam dan keikhlasan sempurna. Pertapa suci di
bukit Arunachala (India), Ramana Maharshi, menyebut perjalanan seperti
ini dengan Dhaksinamurti (Shiva teachings in silence). Shiva yang
hanya bisa dijumpai dalam diam.

Kepasrahan total seperti ini lebih mungkin terjadi saat tidak ada lagi
keinginan, tidak ada lagi masa lalu yang disesali, tidak ada lagi masa
depan yang ditakuti. Yang tersisa hanya keikhlasan sempurna di masa
kini yang abadi. Sebuah batin yang sepi dan sunyi.

Dalam bahasa Nagarjuna: ”one who is in harmony with emptiness is in
harmony with all things”. Ia yang menyatu rapi dengan kekosongan
sedang menyatu rapi dengan semuanya. Ini yang membuat Simpkins dan
Simpkins menyimpulkan: ”emptiness is marvelous”. Kekosongan itu
menakjubkan.

Buddha Gautama pernah ditanya oleh muridnya di hutan. Dengan sigap
Buddha mengambil daun, kemudian bertanya: mana lebih banyak daun di
tangan ini atau daun yang tersebar luas di hutan? Tentu saja daun di
hutan lebih banyak. Kata-kata serupa dengan daun di tangan. Ia tidak
terbatas, tetapi kerap menjadi bahan percekcokan yang mengotori
perjalanan.

Mungkin ini yang membuat tidak sedikit orang Bali mengalami kesulitan
menyentuh Parama Shanti (damai yang mahautama) sebagai puncak
persembahyangan. Setiap kata selalu memunculkan lawan tandingannya.
Salah dilawan benar, gagal dilawan sukses, suci dilawan kotor. Dan
riuhlah kehidupan.

Siapa yang berani mengembalikan kata ke tempat semula sebagai
pembantu, lalu membimbing diri dengan keutamaan perjalanan ala pohon,
ia tidak saja kembali ke kesegaran pandangan anak-anak, menyentuh
puncak dzogchen (tantra): nothing positive to accept nothing negative
to reject, mencapai apa yang disebut Suzuki Roshi sebagai zen mind
beginner’s mind, tetapi juga mengalami batin yang shanti, shanti,
shanti (damai, damai, damai).

Bukan damai yang berlawankan kekacauan, bukan damai yang diikuti rasa
suka kemudian menderita tatkala ia tiada, namun damai karena semuanya
sempurna dalam kealamiannya. Di titik pusat Pura Besakih, Bali,
(antara kiwa-tengen) ia disebut Parama Shunya (ketiadaan yang
mahautama). Buddha menyebutnya Shunyata. Meminjam Rohit Mehta (The
Call of the Upanishads): ada keheningan dalam kekacauan, ada kekacauan
dalam keheningan.

Seperti menyimpulkan, ketiadaanlah diri yang sesungguhnya. Ketika
hanya ketiadaan menghuni batin, hidup berputar hanya untuk memberi,
karena pemberian itulah pembebasan.

Selamat hari Nyepi, selamat Tahun Baru Saka 1930. Semoga shanti
menyinari semua kegelapan (kebingungan, kebencian, keserakahan) dari Bali.

Gede Prama Bekerja di Jakarta; Tinggal di Perbukitan Desa Tajun, Bali
Utara

 

Kirim email ke