http://www.kompas.co.id/kompascetak/read.php?cnt=.xml.2008.03.06.01581848&channel=2&mn=154&idx=154

Jakarta, Kompas - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati meminta
dukungan dari kalangan pelaku usaha untuk tidak memanjakan dan merusak
birokrasi pemerintahan melalui pemberian suap. Diungkapkan, birokrat
bukan malaikat. Jika terus digoda dengan suap, seberapa baiknya pun
mereka lama-lama akan hancur.

Menkeu mengungkapkan itu pada Forum CEO Kompas100 di Jakarta, Rabu (5/3).

Selain Menkeu, pembicara lain pada acara yang dibuka Pemimpin Umum
Harian Kompas Jakob Oetama ini adalah Wakil Presiden Jusuf Kalla,
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Boediono, Dirut Bank Mandiri
Agus Martowardojo, dan Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Miranda S
Goeltom.

Acara ini juga dihadiri para chief executive officer (CEO) dari
perusahaan-perusahaan publik yang sahamnya tergabung dalam Indeks
Saham Kompas 100.

Sementara itu, Wapres Jusuf Kalla menyatakan, untuk mengatasi berbagai
persoalan perekonomian, semua pihak termasuk pelaku usaha dan
pemerintah harus bekerja sama dan berbagi beban secara adil dan merata
dengan masyarakat lainnya.

Dari pengalaman pribadinya, ujar Sri Mulyani, menerapkan reformasi
birokrasi dan kebijakan zero tolerance of corruption di departemennya,
ada pihak-pihak yang mencoba untuk terus menyuap meskipun jajaran
pegawainya tidak meminta atau bahkan menolak disuap.

Dianggap sebagai sampah

Menurut Menkeu, perbaikan terhadap perekonomian dan negara ini hanya
bisa terwujud jika ada komitmen bersama untuk membenahi secara
fundamental attitude, mindset, dan kultur semua pihak, karena dalam
banyak kasus, praktik suap atau pemberian amplop dilegitimasi oleh
kultur (budaya) yang ada.

Menkeu sendiri mengaku sering dihadapkan pada situasi di mana
kepercayaan (trust) masyarakat kepada institusi publik begitu rendahnya.

Institusi publik tidak dihargai dan dianggap sebagai sampah.
Sebaliknya, pihak birokrasi sendiri juga selalu curiga kepada pelaku
usaha dan masyarakat.

Menkeu mengatakan, sulit untuk memperbaiki ekonomi jika birokrasi dan
institusi publik ternyata justru menjadi bagian dari sumber masalah
dan bukannya bagian dari solusi atas persoalan yang dihadapi para
pelaku usaha dan masyarakat.

Seperti kebijakan fiskal, menurut dia, tidak akan banyak bicara jika
tidak didukung oleh institusi publik yang baik sebagai pelaksananya.
Di sinilah pentingnya birokrasi dan reformasi birokrasi.

Sementara itu, Menko Perekonomian Boediono, yang berbicara dalam sesi
sebelumnya, memaparkan kondisi riil yang bisa terjadi pada
perekonomian Indonesia tahun 2008 di tengah gejolak perekonomian
global dan tekanan harga komoditas yang terus melonjak.

Akibat tekanan domestik, pertumbuhan ekonomi Indonesia diperkirakan
akan menurun hingga 0,3 persen, tetapi adanya tekanan eksternal
menyebabkan pertumbuhan lebih lambat lagi 0,2 persen dari rencana awal
6,8 persen di APBN 2008.

Tekanan yang datang dari dalam negeri antara lain disebabkan oleh
program penghematan anggaran dan perkiraan melemahnya daya beli
masyarakat.

Dalam Rancangan APBN Perubahan 2008, pemerintah berharap dapat
menghemat dana Rp 43,77 triliun dari penghematan anggaran kementerian
dan lembaga nondepartemen.

Harus dibayar mahal

Wapres mengatakan, kalau tidak mau melihat infrastruktur jalan rusak
dan berlubang, masyarakat harus mau subsidi terhadap listrik dan bahan
bakar minyak di APBN dikurangi.

”Semuanya itu juga harus dibayar dengan mahal. Kalau tidak mau
mengurangi temperatur AC, tidak mau menghemat listrik, bagaimana bisa
subsidi berkurang. Kalau subsidi tidak berkurang, bagaimana kita bisa
membangun infrastruktur?” kata Wapres.

”Bagaimana anggaran bisa terpenuhi jika kita harus membayar lebih dari
40 persen untuk menyubsidi dan bunga utang. Bagaimana mengurangi
subsidi, ya harus menaikkan harga,” ujar Wapres.
(TAT/OIN/ELY/GUN/JOE/ MON/DAY/HAR/FAJ)

Kirim email ke