Oleh Limas Sutanto
http://www.kompas.co.id/kompascetak/read.php?cnt=.xml.2008.03.06.02041231&channel=2&mn=158&idx=158


Hanya selang sehari setelah tawuran para mahasiswa Universitas
Hasanuddin, Makassar, para mahasiswa Universitas Sam Ratulangi,
Manado, pun terlibat tawuran brutal pada 27 Februari 2008 (berita
MetroTV, 27 Februari 2008). Berita di layar televisi itu menggambarkan
betapa kekerasan begitu merasuki para mahasiswa yang saling melempar
batu tanpa memakai akal lagi.

Tawuran mahasiswa sering terjadi di negeri ini dan, ironis benar,
tidak banyak orang yang peduli. Tawuran berlangsung silih berganti dan
cenderung dianggap sebagai kejadian biasa saja. Semua itu
menggambarkan patologi psikososial yang serius dalam bangsa ini, yang
gejala sentralnya adalah ketakpedulian terhadap nyawa dan nasib manusia.

Mestinya warga bangsa dididik dan bertumbuh kembang untuk makin mampu
mendayagunakan kekuatan kepedulian terhadap nyawa dan nasib manusia.
Psikiater Daniel J Siegel dan pendidik Mary Hartzell (2004) menamai
manusia yang mampu memedulikan nasib sesama sebagai orang yang
memiliki knowing minds (khazanah mental yang memahami). Meresapnya
ketidakpedulian terhadap nyawa manusia dalam kebiasaan hidup
sehari-hari menandakan betapa bangsa ini miskin knowing minds.

Dalam knowing minds terangkum lima kemampuan kemanusiaan hakiki, yang
semuanya bersubstansikan pemahaman terhadap pikiran, perasaan, dan
nasib orang lain. Kemampuan pertama, compassion, yaitu kemampuan untuk
merasakan penderitaan atau pengalaman menyakitkan yang dirasakan orang
lain. Kedua, empathy, yaitu kemampuan mengimajinasikan secara tepat
pengalaman mental (pikiran dan perasaan) orang lain, yang kemudian
membuahkan pengertian yang tepat tentang bagaimana orang lain itu
berpikir dan merasakan. Ketiga, mindsight, yakni kemampuan
menggambarkan dengan jelas pengalaman mental (pikiran dan perasaan)
orang lain. Keempat, insight, yakni kemampuan untuk melakukan
pengamatan secara jernih dan mendalam dengan mendayagunakan pikiran
yang bening. Kelima, kemampuan menyelenggarakan reflective dialogue,
yaitu percakapan tentang segala sesuatu yang dipikirkan, dirasakan,
diingat, diinginkan, dan diyakini dalam dialog dengan orang lain.

”Kurang terdidik”

Istilah knowing minds merebakkan makna kontekstual yang mendasar bagi
bangsa ini. Kata knowing (”memahami”) itu begitu telak. Manusia yang
kurang memiliki knowing minds dapat dipandang sebagai manusia yang
kurang memiliki pemahaman atau kurang memiliki pengertian. Itu adalah
kata lain untuk ”bodoh” atau ”kurang terdidik”. Perspektif ini terasa
begitu ironis ketika kita menyaksikan mahasiswa di tengah bangsa ini
kurang memiliki knowing minds, dan dengan demikian dapat disebut
”bodoh” atau ”kurang terdidik”.

Bangsa yang kurang memiliki knowing minds dapat dimengerti sebagai
bangsa yang bodoh atau kurang terdidik. Pada titik ini bisa disadari
betapa tugas mendidik di tengah bangsa yang masih kurang mampu
memedulikan nyawa dan nasib manusia itu tidak niscaya hanya bertitik
berat pada upaya ”meningkatkan penguasaan sains dan teknologi”,
seperti yang secara klise banyak didengungkan di ruang publik selama ini.

Justru yang terasa begitu penting bagi bangsa ini adalah bagaimana
mendidik untuk menumbuhkembangkan knowing minds (kemampuan
mendayagunakan kekuatan compassion, empathy, mindsight, insight, dan
reflective dialogue). Dapat dipikirkan secara logis, ketika bangsa
memiliki knowing minds yang memadai (dan karena itu menjadi peduli
terhadap nyawa dan nasib manusia), riset di bidang sains dan teknologi
dapat bertumbuh kembang pesat di tengah bangsa ini karena kepedulian
terhadap nyawa dan nasib manusia itu dapat menjadi sumber semangat dan
daya dorong (impetus) bagi riset sains dan teknologi demi
kesejahteraan umat manusia.

Akhir-akhir ini kita sering membicarakan pendidikan yang gagal di
negeri ini. Aneka kebrutalan dan ketakpedulian para mahasiswa dan
warga bangsa terhadap nyawa dan nasib manusia memandu kita untuk
melihat salah satu akar penting kegagalan pendidikan di negeri ini.
Pendidikan telah makin meninggalkan hakikatnya sebagai proses
penumbuhkembangan compassion, empathy, mindsight, insight, dan
reflective dialogue. Pendidikan berlangsung sebagai bisnis atau
pencarian laba, dan lembaga pendidikan adalah ajang bisnis atau lahan
pencarian laba.

Tak pelak, pendidikan lebih menghasilkan lulusan-lulusan yang taat
pada kaidah-kaidah pencarian laba bagi dirinya sendiri ketimbang
peduli pada kemanusiaan, kehidupan, dan keberadaban. Pada titik gawat
ini mestinya pemerintah bertindak menyelamatkan pendidikan, dalam arti
mengembalikan praktik pendidikan di negeri ini sebagai proses
penumbuhkembangan kemanusiaan dan keberadaban yang lebih bersifat
nirlaba ketimbang mencari laba.

Limas Sutanto Psikiater Konsultan Psikoterapi, Pengajar Psikoterapi
dan Konseling Universitas Negeri Malang

 

Kirim email ke