Karena saya pengguna busway, saya sangat memahami permasalahan yang dihadapi 
para wanita ketika naik busway, juga model2 pelecehan oleh laki2 iseng, atau 
laki2 yang tadinya tidak ada niatan iseng, menjadi berniatan iseng karena 
kebetulan berdempetan dengan mbak2 kantoran yang cantik2, berbau harum dan 
pakaian "menawan". 

Karena keterbatasan armada pada saat2 jam sibuk, hal ini tidak bisa dihindari, 
persentuhan fisik itu, entah buah dada ataupun bagian badan wanita dengan 
lelaki. Kalau kemudian persentuhan ini menjadi rangsangan, ini tentunya juga 
konsekwensi logis saja, seorang lelaki muda terangsang setelah badanya 
tersenggol buah dada wanita cantik di dalam salah satu busway. Kalau rangsangan 
tersebut kemudian menimbulkan niat iseng, ini juga masih wilayah konsekwensi 
logis.

Hingga sampai poin ini, tidak ada yang salah. Senggolan yang tidak sengaja 
tentu tidak bisa dipersalahkan, kemudian keterangsangan karena senggolan yang 
tidak sengaja, juga tidak bisa disalahkan. Niat iseng, selama berhenti hanya 
menjadi niat, juga tidak bisa diperslahkan. Berikutnya, ketika karena 
keterangsangan dan niatan iseng tadi membuat sang laki2 tak terkendali, yang 
kemudian berkeinginan dan dengan sengaja menyenggol2kan bagian vital atau 
mempertontonkan bagian vitalnya didepan umum atau sang wanita tadi, ini jelas 
sebuah kesalahan. Karena keterangsangan yang menimbulkan keinginan yang 
ditindak lanjuti dengan kesengajaan menyenggol2kan atau mempertontonkan alat 
vitalnya tadi, adalah tindakan yang merugikan orang lain dan merugikan umum.

Lantas bagaimana caranya untuk mengatasi hal ini ? Usulan busway khusus wanita, 
ya bagus saja, namun tidak ada effect pembelajarannya untuk masyarakat, 
artinya, laki2 iseng tadi tidak merasa bersalah, tidak merasa apa2, kalau dalam 
istilah perang, kita tidak mengahdapi musuh, tapi justru melarikan diri 
.......... Takutnya, dengan dibuat busway khusus wanita, seakan2 society 
mentolerir tindakan laki2 iseng ini, dianggap tindakan laki2 iseng ini wajar2 
saja. 

Menurut saya, solusi yang paling tepat, mbak2nya yang merasa terganggu, ya 
teriak saja ....... Dan menjadi tugas pengawal busway untuk menertibkan 
penumpang dalam bus, atau paling tidak menegur si lelaki iseng ini. Yang 
terjadi sekarang ini adalah, dari pengalaman saya, si petugas busway kayaknya 
merasa takut dengan penumpangnya, lha kalau sudah begini, terus bagaimana ? 
Yang mustinya mengatur, malah takut dengan yang diatur ........ Harusnya, kalau 
sudah begini, busway harus berinisiatif untuk mengganti petugas ini dengan yang 
lain yang lebih tegas dan mampu melaksanakan tugas. Penumpang yang lain juga 
bisa membantu, tapi tetap saja tanggung jawab utama pada pengawal busway 
tersebut.

Dari pengalaman saya selama ini yang naik busway ragunan-kuningan, saya belum 
pernah mendengar ada mbak2 yang teriak karena dilecehkan lelaki iseng, kalau 
sekedar melihat ada niatan untuk melakukan iseng, saya pernah dan biasanya, 
dengan kita lihatin saja orang itu akan membatalkan niatnya untuk iseng tadi. 
Yang sering sekali saya lihat, adalah mbak2 atau ibu2 yang mengeluh karena 
terdesak oleh sesaknya penumpang ..... 

Namun asyik juga sih kalau misalnya nanti jadi dibuat bus kusus wanita, bus 
khusus wanita muda usia 15-40 tahun, bus khusus wanita muda usia 15-40 tahun 
dan berbaju kantoran, bus khusus wanita muda usia 15-40 tahun dan berbaju 
sekolah, bus khusus laki2 iseng, bus khusus laki2 tidak iseng  ..... he... he 
.... he .........

Salam
Kepercayaan pada esok dan lusa, aku suka ..........


  ----- Original Message ----- 
  From: Agus Hamonangan 
  To: [email protected] 
  Sent: Tuesday, April 01, 2008 7:52 PM
  Subject: [Forum Pembaca KOMPAS] Busway Khusus Perempuan? Ya Perlulah!


  
http://www.kompas.com/read.php?cnt=.xml.2008.04.01.19233677&channel=1&mn=10&idx=87

  JAKARTA, SELASA â€" Rencana pengoperasian busway khusus perempuan
  disambut baik oleh masyarakat, khususnya kaum perempuan. Meski mereka
  meragukan keseriusan pemerintah dalam merealisasikannya, mereka
  memandang kebutuhan akan busway khusus perempuan sangat mendesak.

  Citra, salah seorang karyawati yang ditemui Kompas.com di shelter
  busway Sarinah menyambut baik rencana pengoperasian busway khusus
  perempuan mengingat kondisi kendaraan umum alternatif ini sejak awal
  tahun. Namun, dia juga rada pesimis dengan upaya realisasi busway
  khusus ini.

  “Menurut saya, ya perlulah saya pikir! Apalagi sekarang busway pun
  makin ramai aja. Tapi gimana ya, Indonesia kan bisanya teori doang.
  Lama,” ujar Citra di Jakarta, Selasa (1/4).

  Hal serupa juga disampaikan oleh seorang mahasiswi BSI Salemba ketika
  transit di halte Dukuh Atas. Ia mengaku belum pernah melihat
  bentuk-bentuk pelecehan di atas busway, apalagi mengalaminya. Namun,
  dia mengakui kebutuhan masyarakat akan busway khusus perempuan.

  “Saya sebenarnya sering naik busway di jam-jam padat, tapi nggak
  pernah ngalamin (pelecehan-Red) Teman-teman juga banyak yang naik
  busway tapi belum pernah denger tuh. Tapi kayaknya demi keamanan
  cewek-cewek, tetep perlu deh busway khusus perempuan itu,” ujar
  mahasiswi yang enggan disebutkan namanya itu.

  Nina, seorang karyawati yang mengaku jarang menggunakan busway juga
  memiliki pendapat serupa. “Perlu banget ya, dengan kondisi yang
  dempet-dempetan begini apalagi untuk ibu-ibu dan orang-orang tua tuh,”
  ujar Nina.

  Sementara itu, Mira yang baru pulang bekerja dan sedang mengantre
  untuk naik busway tujuan Blok M malah kurang setuju dengan rencana
  pengoperasian busway khusus perempuan ini. “Saya rasa nggak perlu ya,
  asal semua manner-nya bagus dan bisa diatur, saya rasa nggak
  perlulah,” ujarnya singkat.

  Rencana pengoperasian busway khusus perempuan, kalaupun jadi, memang
  harus dipersiapkan dengan baik. Pertimbangannya pun harus matang, di
  antaranya adalah selang waktu datangnya busway khusus ini dan
  penambahan armada, pastinya.

  LIN



   

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke