wah,itu sering saya jumpai saat saya kuliah dulu. saya balik dr bandung menuju jogja dengan naik kreta ekonomi... konon,dari bandung ke jogja cuman habis 5000perak..[red-ngasih saat ada kondektur yg ngecek tiket]
hmm...saya sih punya pikiran gini. 1. pertama: bahwa gaji tentara atau yg berbaju doreng,cuman sedikit...jadi ga mampu beli tiket. 2. kedua,gagah2an aja,mera rambut cepak...berasa berkuasa 3. ketiga: sang kondektur sodara yg pke baju doreng ,itu aja seh.,., salam pepeng *anaknya pensiunan TNI juga* On 4/2/08, firdaus cahyadi <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Dear All, > Pagi ini (2/3) saya naik bus antar kota dari Bogor-Jakarta (UKI). Saya > duduk di bangku paling belakang. Di dekat saya ada seorang tentara berbaju > loreng dan seorang lagi berbadan tegap, berambut cepak, mengenakan sepatu > ala dinas militer dengan memakai kemeja (entah dia anggota TNI/Polri?). > > Saat sang kondektur menarik ongkos penumpang, kedua oknum TNI/Polri pasang > tampang sangar dan sok gagah gitu. Akhirnya, saya melihat dengan mata kepala > saya sendiri kedua oknum tersebut tidak membayar ongkos bus antar kota. > > Pertanyaannya adalah apakah ada kebijakan negara yang membebaskan setiap > anggota TNI/Polri untuk tidak membayar ongkos bus antar kota, bus kota dan > angkutan umum lainnya? > > Kalaupun ada mengapa aturan yang sama tidak juga diperuntukan bagi Pegawai > Negeri Sipil (PNS)? > > Saya yakin semua warga negara baik itu warga biasa/PNS/Anggota TNI/Polri > mempunyai kedudukan yang sama di hadapan hukum. Lantas mengapa anggota > TNI/Polri lebih diistimewakan? Apakah karena mereka diberi hak untuk > memegang senjata lantas merasa diri mereka lebih istimewa dari warga negara > lainnya? > > Ternyata, meskipun sudah 10 tahun rejim Soeharto yang korup dan menindas > berakhir tapi racun militerisme (anggapan yang menilai militer lebih tinggi > dari masyarakat lainnya) masih melekat kuat di otak para prajurit TNI/Polri. > > Indikasi bahwa reformasi internal di tubuh TNI/Polri gagal total !
