Google Earth: Sang Mata Malaikat
Oleh: Savic Aliel'ha
http://savicali.blogspot.com/


"Get inside, get inside. Everyone can see you," teriak Marge Simpson
ke suaminya, Homer Simpson, ketika ia menyadari bahwa orang-orang bisa
melihat suaminya yang sedang telanjang di buaian tempat tidur gantung
di luar rumahnya. Bukan melihatnya secara langsung, melainkan lewat
Google Earth.

Yah, dengan Google Earth, kita memang bisa menyaksikan banyak belahan
bumi. Entah itu Eropa, Amerika, Afrika atau Asia. Kita juga bisa
menyaksikan kota-kota besar dunia: Paris, New York, London, Jakarta.
Bahkan kita bisa menyaksikan atap dan halaman rumah kita, meski tidak
sejelas Marge Simpson yang bisa melihat halaman rumah--beserta
suaminya, karena itu hanya adegan dalam The Simpsons yang berbau
sindiran--dan mengingatkan.

Jika kita ceritakan kepada orang-orang tua kita bahwa kita bisa
menyaksikan berbagai belahan dunia cukup dari dalam rumah saja, tentu
mereka tidak akan percaya. Karena banyak orang tua yang pasti tidak
sanggup membayangkannya. Tapi itulah yang terjadi. Dunia sudah
berubah, dan banyak orang yang tidak menyadarinya. Dulu, orang-orang
juga tidak bisa membayangkan bahwa mereka akan bisa bicara dengan
orang yang ada di belahan bumi lainnya. Tiga dekade lalu pun, yang
bisa bicara lintas benua lewat handphone sebagaimana sekarang hanya
satuan-satuan khusus intelijen yang bisa dihitung jumlahnya. Namun
kini, teknologi militer itu sudah bisa diakses siapa saja, termasuk
kita--asal punya handphone dan sanggup membayar pulsanya.

Dan kini, satu lagi teknologi intelijen yang bisa kita nikmati.
Teknologi satelit Google Earth, sang mata malaikat (the eye of angel)
yang bisa melayangkan pandangan ke seluruh dunia. Ketika aku
mencobanya pertama kali beberapa bulan lalu untuk melihat Jakarta, aku
sungguh terkejut luar biasa. Karena gambaran Jakarta terlihat cukup
jelas hingga sungai dan jalan-jalannya. Monas, HI, istana, DPR, Plaza
Senayan, semua tampak cukup nyata. Atap kantor Fresh Book pun bisa
terlihat, meski dengan kejelasan yang kurang nyata. Sungguh kemajuan
yang tak terbayangkan sebelumnya. Satelit militer Indonesia pun
sepertinya tidak bisa melakukannya. Tengok saja kasus jatuhnya pesawat
Adam Air yang hingga kini tidak ketahuan rongsokannya.

Namun itu belum cukup. Google Inc. yang memiliki Google Earth
berencana akan membuat peta detil kota-kota di Amerika, lengkap dengan
bangunan-bangunan dan pusat perbelanjaannya. Setelah itu, konsumen
bisa mendaftar untuk mendapatkan account agar bisa jalan-jalan di kota
quasi-real-nya Google. Tanpa perlu beranjak dari dalam rumah dan
kamar, kita--lewat avatar yang kita kendalikan dari komputer, bisa
bebas keluyuran ke mana-mana, ngopi dan nongkrong di taman-taman yang
ada di sana. Bahkan kita juga bisa janjian ama teman yang juga punya
account--dan avatar--untuk ketemu di sebuah tempat atau kafe maya yang
ada. Kita bisa ngobrol dan berceng- krama layaknya ketika telpon atau
chatting, dengan avatar kita tampak di layar komputer sedang duduk
berhadapan laiknya dua makhluk yang sedang berkencan, namun menyeruput
kopi yang ada di kamar masing-masing, hehe...

Jika itu benar terjadi, maka itu akan mengubah cara hidup manusia.
Mungkin jalanan akan sepi, karena semua orang asyik di depan
komputernya. Kafe-kafe akan kosong, karena semua cukup ngopi di warung
maya. Deal-deal bisa diselesaikan di sana, karena kita bisa bicara dan
avatar kita bisa bertatap muka. Bahkan kita juga bisa menggoda
avatar-avatar yang berlalu-lalang di jalan-jalan maya, jika kita
tertarik terhadap salah satunya. Tanpa diketahui siapa orang di balik
avatar itu sesungguhnya. Sungguh benar-benar akan menjadi Second Life
kita, karena kita bisa punya diri yang lain (other self) di sana.

Tanpa bisa dielakkan, dunia nyata tampaknya memang akan mengalami
pergeseran yang luar biasa dalam sepuluh tahun ke depan. Karena banyak
hal yang bisa dipindahkan ke dunia maya. Dan setiap pergeseran,
perubahan, selalu memiliki dua sisi mata uang yang berbeda. Satu sisi
menggembirakan, satu sisi meng- khawatirkan. Seperti Google Earth. Ia
membuat kita lebih mudah memahami belahan dunia kita, namun juga
menyisakan persoalan privasi di dalamnya. Jika Google--lewat layanan
gratisnya saja bisa melihat atap rumah kita, jalanan kita, tentu ia
bisa melakukan lebih dari itu lewat teknologi yang disembunyikannya.
Mungkin ia benar-benar bisa melihat kita secara nyata ketika sedang
jalan-jalan, sedang olah raga di lapangan, sedang berenang di pantai
dan seterusnya. Melihat apa pun yang kita lakukan di alam terbuka.

Jika demikian halnya, maka jangan pernah berfikir tentang privasi dan
kebebasan. Boleh jadi ia sudah tidak ada. Karena Google Earth bisa
melihat dan mematai-mati kita kapan saja, lewat mata malaikatnya.
Sehingga tidak heran jika Edward Felten, pakar masalah privasi dari
Princeton University mengatakan bahwa fenomena ini boleh jadi
merupakan masalah paling problematis sepanjang masa. "This presents
perhaps the most difficult privacy issues in all of human history,"
katanya, sebagaimana dikutip The Economist.

Kirim email ke