Oleh Anita Lie

Ketika pendidikan tinggi sudah menjadi komoditas, persaingan untuk
mendapatkan mahasiswa sudah menembus tingkat internasional. Apalagi
saat beberapa perguruan tinggi negeri menjadi badan hukum milik negara
atau BHMN, pertimbangan ekonomi dan bisnis mendorong aneka upaya untuk
meningkatkan pendapatan. Mahasiswa asing pun diincar untuk belajar di
fakultas kedokteran di perguruan tinggi negeri di Indonesia (Kompas,
20/6/2008).

Dua alasan yang disampaikan untuk mendapatkan mahasiswa asing adalah
demi mengejar status sebagai perguruan tinggi kelas dunia dan menambah
pendapatan perguruan tinggi negeri (PTN). Kedua alasan ini dilandasi
kepentingan ekonomi dan pragmatisme yang tidak selalu sejalan dengan
kepentingan bangsa dan dimensi humanisme pendidikan.

Pembatasan

Keberadaan mahasiswa asing memang menjadi salah satu indikator status
kelas dunia suatu perguruan tinggi. Sepanjang tahun kita disodori
tawaran dari berbagai perguruan tinggi asing. Perguruan tinggi kelas
dunia di negara-negara lain juga membanggakan kehadiran mahasiswa
asing dan mencantumkan jumlah negara asal mahasiswa asing ini. Semakin
beragam populasi mahasiswa, semakin bergengsi perguruan tinggi itu.

Setiap tahun banyak perguruan tinggi menggelar forum internasional,
ajang unjuk budaya dan kesenian mahasiswa asing yang sedang studi di
sana. Dalam persaingan ini, Singapura memulai lebih awal dengan
”mencuri start” dan menawarkan beasiswa bagi siswa-siswi berprestasi
lulusan SMP dari negara-negara ASEAN.

Namun, di balik ketatnya kompetisi antarperguruan tinggi dan
antarnegara dalam memperebutkan mahasiswa asing, perguruan tinggi dari
luar negeri umumnya tidak gegabah dan menghormati kebijakan yang
dibuat tiap-tiap negara guna melindungi kepentingan bangsanya. Maka,
tidak semua program studi ”dijual” kepada mahasiswa asing. Pemilihan
program studi mana yang bisa dijual dan mana yang harus diproteksi
tentu dilandasi perencanaan strategis, bukan saja demi kepentingan
perguruan tinggi itu, tetapi juga demi kepentingan bangsa dan negara.

Pada umumnya, program studi yang gencar dijual termasuk bidang
humaniora, manajemen bisnis, dan teknologi. Agenda tersembunyi dalam
kebijakan ini adalah mahasiswa asing yang belajar humaniora dan
manajemen bisnis diharapkan menjadi agen pemasaran kebudayaan negara
itu, sementara lulusan program studi teknologi akan kembali ke negara
asal dengan membawa bukan hanya ilmu pengetahuan, tetapi juga
preferensi atas produk-produk teknologi yang pernah dipelajari dan
digunakan selama studi. Dengan kata lain, para mahasiswa asing ini
menjadi ujung tombak ekspor produk-produk teknologi ke berbagai negara
berkembang.

Sebaliknya, banyak negara menutup (atau amat membatasi) kesempatan
bagi mahasiswa asing untuk memasuki fakultas kedokteran. Kanada,
Australia, dan Singapura, misalnya, amat gencar mencari mahasiswa
asing untuk berbagai jurusan, tetapi tidak sama sekali untuk fakultas
kedokteran. Di AS, mahasiswa yang ingin menjadi dokter harus
menyelesaikan program S-1 pre-med. Program ini masih terbuka bagi
mahasiswa asing. Namun, pada jenjang selanjutnya, ada serangkaian tes
yang harus diselesaikan sebelum mahasiswa menyelesaikan empat tahun
sekolah kedokteran, lalu residensi yang bisa makan waktu tiga sampai
tujuh tahun.

Pada jenjang lanjutan ini, sedikit sekali mahasiswa asing (bahkan yang
paling berprestasi sekalipun) yang bisa lolos. Negara-negara maju
(yang paling kapitalis sekalipun) merasa perlu melindungi kepentingan
nasionalnya dengan menutup atau membatasi kesempatan memasuki fakultas
kedokteran karena layanan kesehatan diperuntukkan bagi kemaslahatan
orang banyak. Seharusnya PTN di Indonesia bisa belajar mengedepankan
kepentingan bangsa dan berpikir lebih panjang. Masih ada banyak
program studi yang bisa dijual meski PTN harus berjuang keras
meningkatkan mutu program studi itu.

Kuda Troya

Alasan untuk menambah sumber pendapatan PTN merupakan pragmatisme
jangka pendek. Saat rasio dokter dan penduduk di Indonesia masih jauh
di bawah standar, terutama di luar kota (target 2010: 40 dokter per
100.000 penduduk dan enam dokter spesialis per 100.000 penduduk),
seharusnya anak-anak negeri diprioritaskan mendapat kesempatan menjadi
dokter bagi bangsanya sendiri. Perdagangan bebas ASEAN 2010 akan
membuka pintu bagi modal asing guna merambah sektor kesehatan di
Indonesia. Ketika kesempatan diberikan kepada bangsa lain, bisa
dibayangkan, betapa akan makin terpuruknya layanan kesehatan di Indonesia.

Sungguh ironis, mahasiswa Malaysia diundang belajar kedokteran di
Indonesia, sementara orang Indonesia rela membayar lebih tinggi untuk
mendapat layanan kesehatan lebih memuaskan di Malaysia dan Singapura.
Kerelaan membayar lebih karena pasien mendapat layanan spesialis yang
setara dengan biaya yang dikeluarkan (value for money). Pemeriksaan
lebih teliti, konsultasi lebih leluasa, penjelasan lebih saksama.
Sementara dokter spesialis di Indonesia terkesan terburu-buru
menangani pasien, entah karena mengejar setoran atau antrean pasien.

Kebutuhan PTN untuk meningkatkan pendapatan bisa dipahami. Namun,
menerima mahasiswa asing karena tergiur sumbangan masuk dan SPP yang
berlipat-lipat ibarat memasukkan kuda Troya ke negeri sendiri. Tidak
perlu intelijen canggih guna membaca strategi pemasaran pendidikan
tinggi di tingkat internasional. Kegegabahan elite pendidikan akan
menjerumuskan bangsa di masa datang. Seharusnya beasiswa pemerintah
dan korporasi diperbanyak guna memberi kesempatan anak bangsa menjadi
dokter bagi bangsa sendiri dan bersaing dengan rekan-rekannya di
negara tetangga.

Anita Lie Dosen FKIP Unika Widya Mandala, Surabaya; Anggota Komunitas
Indonesia untuk Demokrasi

http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/06/25/01104339/menjaring.mahasiswa.asing

Kirim email ke