Boong.. Amerika sendiri masih sangat kekurangan tenaga kesehatan 
(dokter), sehingga cukup dengan ujian persamaan, walaupun bukan 
tamatan sekolah US, seorang dokter tamatan luar amerika bisa sejajar 
dengan dokter tamatan amerika.  Tidak banyak mahasiswa asing di 
kedokteran bukan karena amerika tidak mau terima mahasiswa asing, 
tapi karena mahasiswa asingnya nya yang tidak sanggup membayar uang 
sekolah (+lab, dll) yang sangat mahal sekali.  Malah mahasiswa 
amerika sendiri banyak yang kuliah ke meksiko untuk menghindari 
mahalnya biaya kuliah dimana mereka kemudian tinggal ambil ujian 
persamaan dan menjalankan residency.  Di tempat saya sendiri di 
Arizona, dokter2 yang sangat terkenal bukan tamatan universitas 
amerika, tapi kebanyakan dari amerika latin.  Yang tamatan amerikanya 
(ada yang dari Columbia University dan Michigan) malah jadi anak 
buahnya:).
Bagi yang dokter di milis ini kalau tertarik untuk jadi dokter di 
amrik bisa lihat

http://www.internationaldoc.com/

http://www.ecfmg.org/



salam,


-Irsal



--- In [email protected], "Agus Hamonangan" 
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Oleh Anita Lie
> 
> Ketika pendidikan tinggi sudah menjadi komoditas, persaingan untuk
> Sebaliknya, banyak negara menutup (atau amat membatasi) kesempatan
> bagi mahasiswa asing untuk memasuki fakultas kedokteran. Kanada,
> Australia, dan Singapura, misalnya, amat gencar mencari mahasiswa
> asing untuk berbagai jurusan, tetapi tidak sama sekali untuk 
fakultas
> kedokteran. Di AS, mahasiswa yang ingin menjadi dokter harus
> menyelesaikan program S-1 pre-med. Program ini masih terbuka bagi
> mahasiswa asing. Namun, pada jenjang selanjutnya, ada serangkaian 
tes
> yang harus diselesaikan sebelum mahasiswa menyelesaikan empat tahun
> sekolah kedokteran, lalu residensi yang bisa makan waktu tiga sampai
> tujuh tahun.
> 
> Pada jenjang lanjutan ini, sedikit sekali mahasiswa asing (bahkan 
yang
> paling berprestasi sekalipun) yang bisa lolos. Negara-negara maju
> (yang paling kapitalis sekalipun) merasa perlu melindungi 
kepentingan
> nasionalnya dengan menutup atau membatasi kesempatan memasuki 
fakultas
> kedokteran karena layanan kesehatan diperuntukkan bagi kemaslahatan
> orang banyak. Seharusnya PTN di Indonesia bisa belajar mengedepankan
> kepentingan bangsa dan berpikir lebih panjang. Masih ada banyak
> program studi yang bisa dijual meski PTN harus berjuang keras
> meningkatkan mutu program studi itu.
> 


Kirim email ke