menghilang kaleee banget's hehe

hudan

--- On Wed, 6/25/08, Agus Hamonangan <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
From: Agus Hamonangan <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: [Forum Pembaca KOMPAS] Kepercayaan pada Parpol Kian Turun
To: [email protected]
Date: Wednesday, June 25, 2008, 3:21 AM










    
            http://cetak. kompas.com/ read/xml/ 2008/06/25/ 0103337/kepercay 
aan.pada. parpol.kian. turun



Jakarta, Kompas - Banyaknya warga yang memilih jadi golongan putih

atau golput (sengaja tidak memakai hak pilihnya dalam pemilu) bukan

hanya tanggung jawab Komisi Pemilihan Umum sebagai penyelenggara

pemilu. Banyak faktor yang menyebabkan tingginya golput, termasuk kian

turunnya kepercayaan pada partai politik.



Demikian dikatakan anggota Komisi Pemilihan Umum (KPU), Abdul Aziz,

Selasa (24/6) di Jakarta. Hal ini disampaikan terkait dengan rendahnya

partisipasi masyarakat dalam berbagai pemilihan kepala daerah

(pilkada), termasuk Pilkada Jawa Tengah.



”Kepercayaan masyarakat pada parpol kan juga menurun sehingga bila

golput tinggi, itu juga merupakan tugas parpol agar pemilu sukses,”

ungkap Aziz.



Aziz mencontohkan, dalam sebuah pilkada, salah satu faktor yang

membuat tinggi golput adalah calon kepala daerah yang diajukan parpol

bukan pilihan rakyat. ”Kalau rakyat tidak suka dengan calonnya, tentu

saja mereka berpikir untuk apa mencoblos. Banyak faktor yang

menyebabkan golput,” ujarnya.



Mengenai prediksi partisipasi pemilih dalam Pemilu 2009, Aziz

optimistis jumlah pemilih lebih tinggi dibandingkan dengan Pemilu

2004. Pada Pemilu 2004, partisipasi pemilih mencapai 77 persen.



Bukan kurang sosialisasi



Dari Surabaya, dosen ilmu politik Universitas Airlangga (Unair),

Hariyadi, dan Dekan Fakultas Ilmu Budaya Unair Aribowo, Selasa,

sepakat, tingginya angka golput dalam pilkada, seperti di Jateng,

terkait dengan berbagai faktor. Angka golput itu tidak secara langsung

karena sosialisasi pilkada yang lemah.



”Menentukan penyebab golput harus dilakukan dengan riset pada pemilih.

Bisa juga golput disebabkan alasan bersifat ideologis, seperti tidak

ada calon yang representatif. Namun, dalam Pilkada DKI Jakarta, golput

lebih disebabkan alasan administratif dan teknis,” ujar Haryadi.



Aribowo menilai, golput terkait sistem pemilihan serta tingkat

pendidikan dan rasionalitas pemilih. Pada sistem pemilihan

proporsional, angka golput relatif lebih rendah ketimbang sistem

pemilihan distrik. Pilkada bersistem distrik sehingga saat tak ada

calon yang representatif, pemilih enggan memberikan suara.



Menurut guru besar Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas

Kristen Satya Wacana, Salatiga, Kutut Suwondo, rendahnya partisipasi

pemilih dalam Pilkada Jateng karena sebagian warga merasa pemilihan

gubernur terlalu jauh dari mereka sehingga tidak memberikan manfaat

apa- apa bila mereka ikut mencoblos.



Pada kelompok pemilih rasional, keputusan untuk tak memilih bisa

disebabkan calon yang ada tidak sesuai dengan harapan pemilih.

(sie/ina/eki/ gal/mdn)




      

    
    
        
         
        
        








        


        
        


      

Kirim email ke