http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/06/25/0103337/kepercayaan.pada.parpol.kian.turun

Jakarta, Kompas - Banyaknya warga yang memilih jadi golongan putih
atau golput (sengaja tidak memakai hak pilihnya dalam pemilu) bukan
hanya tanggung jawab Komisi Pemilihan Umum sebagai penyelenggara
pemilu. Banyak faktor yang menyebabkan tingginya golput, termasuk kian
turunnya kepercayaan pada partai politik.

Demikian dikatakan anggota Komisi Pemilihan Umum (KPU), Abdul Aziz,
Selasa (24/6) di Jakarta. Hal ini disampaikan terkait dengan rendahnya
partisipasi masyarakat dalam berbagai pemilihan kepala daerah
(pilkada), termasuk Pilkada Jawa Tengah.

”Kepercayaan masyarakat pada parpol kan juga menurun sehingga bila
golput tinggi, itu juga merupakan tugas parpol agar pemilu sukses,”
ungkap Aziz.

Aziz mencontohkan, dalam sebuah pilkada, salah satu faktor yang
membuat tinggi golput adalah calon kepala daerah yang diajukan parpol
bukan pilihan rakyat. ”Kalau rakyat tidak suka dengan calonnya, tentu
saja mereka berpikir untuk apa mencoblos. Banyak faktor yang
menyebabkan golput,” ujarnya.

Mengenai prediksi partisipasi pemilih dalam Pemilu 2009, Aziz
optimistis jumlah pemilih lebih tinggi dibandingkan dengan Pemilu
2004. Pada Pemilu 2004, partisipasi pemilih mencapai 77 persen.

Bukan kurang sosialisasi

Dari Surabaya, dosen ilmu politik Universitas Airlangga (Unair),
Hariyadi, dan Dekan Fakultas Ilmu Budaya Unair Aribowo, Selasa,
sepakat, tingginya angka golput dalam pilkada, seperti di Jateng,
terkait dengan berbagai faktor. Angka golput itu tidak secara langsung
karena sosialisasi pilkada yang lemah.

”Menentukan penyebab golput harus dilakukan dengan riset pada pemilih.
Bisa juga golput disebabkan alasan bersifat ideologis, seperti tidak
ada calon yang representatif. Namun, dalam Pilkada DKI Jakarta, golput
lebih disebabkan alasan administratif dan teknis,” ujar Haryadi.

Aribowo menilai, golput terkait sistem pemilihan serta tingkat
pendidikan dan rasionalitas pemilih. Pada sistem pemilihan
proporsional, angka golput relatif lebih rendah ketimbang sistem
pemilihan distrik. Pilkada bersistem distrik sehingga saat tak ada
calon yang representatif, pemilih enggan memberikan suara.

Menurut guru besar Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas
Kristen Satya Wacana, Salatiga, Kutut Suwondo, rendahnya partisipasi
pemilih dalam Pilkada Jateng karena sebagian warga merasa pemilihan
gubernur terlalu jauh dari mereka sehingga tidak memberikan manfaat
apa- apa bila mereka ikut mencoblos.

Pada kelompok pemilih rasional, keputusan untuk tak memilih bisa
disebabkan calon yang ada tidak sesuai dengan harapan pemilih.
(sie/ina/eki/gal/mdn)


Kirim email ke