Susah juga sih kalau rumah sakitnya juga ikut sakit-sakitan!
Sudah sakit masuk rumah sakit malah tambah penyakit.....
Bagaimana ini?
 
Perlu jaga diri baik-baik agar rumah sakitnya tidak menjadi
seperti rumah sakit di Rwanda, dimana para pasien terpaksa
berkemah (camping) dihalaman yang ada.....,
(bagaikan lagi ada jambore Pramuka. :=(( 
Apakah kalian pernah parah sakitnya lantaran rumah sakitnya
malah bikin sakit (tambahan?)?
 
Salam
Las


--- On Fri, 7/4/08, Agus Hamonangan <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

From: Agus Hamonangan <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: [Forum Pembaca KOMPAS] Rumah Sakit Pun Bisa Bikin Sakit
To: [email protected]
Date: Friday, July 4, 2008, 11:39 AM






Oleh EVY RACHMAWATI
http://cetak. kompas.com/ read/xml/ 2008/07/04/ 01281111/ rumah.sakit. 
pun.bisa. bikin.sakit

Suasana hiruk-pikuk menyergap saat memasuki bangunan tua Rumah Sakit
Umum Pusat Cipto Mangunkusumo, Jakarta, siang itu. Pasien dan
keluarganya bercampur baur memadati ruang poliklinik dan tempat
pengambilan obat. Sebagian terpaksa menunggu di luar karena ruangan
terlalu sesak.

Keletihan terpancar di wajah mereka. Sebagian dari mereka duduk
lesehan di lorong-lorong, termasuk sejumlah anak balita. Beberapa
orang lagi tidur beralaskan tikar di lorong rumah sakit tanpa
memedulikan bising di sekitarnya. Sejumlah pengunjung tampak dengan
lahap memakan bekal dari rumah untuk mengganjal perut.

Sementara itu, petugas kesehatan hilir-mudik, sebagian tampak
mendorong kereta mengangkut pasien melintasi lorong yang dipadati
pengunjung. Selama menanti giliran pemeriksaan kesehatan, kereta
berisi pasien itu ditempatkan di selasar rumah sakit, bercampur dengan
pengunjung lain.

Aroma obat-obatan menyengat saat berada di bangsal-bangsal rawat inap
kelas tiga maupun di ruang unit gawat darurat (UGD). Di dalam bangsal,
sebagian pasien tampak ditemani keluarganya.

Pada jam-jam tertentu, pasien di bangsal secara bergiliran didatangi
petugas kesehatan untuk dipantau kondisinya entah dengan pengukuran
tensi darah, pengambilan sampel darah untuk uji laboratorium.

Sumber infeksi

Sebagai penyedia layanan kesehatan, rumah sakit merupakan ajang
pertemuan pasien, keluarga pasien, pembesuk, petugas kesehatan, bahkan
pedagang asongan. Akibatnya, kebersihan lingkungan sulit dijaga,
sampah bertebaran di berbagai sudut, terutama di rumah sakit
pemerintah yang menjadi tumpuan warga miskin.

Kurang higienisnya lingkungan dan fasilitas perawatan kesehatan ini
turut memicu munculnya infeksi. Dalam buku panduan DiagNews Edisi
Khusus Program NICE disebutkan, infeksi pada umumnya dikategorikan
sebagai infeksi yang diperoleh dari komunitas (CAI) atau infeksi yang
didapat dari perawatan kesehatan (HAI), disebut juga sebagai infeksi
nosokomial.

Istilah infeksi nosokomial mengacu pada infeksi mulai 48 jam atau
berikutnya setelah masuk ke fasilitas perawatan kesehatan. Menurut dr
Sardikin Giriputro, Direktur Rumah Sakit Penyakit Infeksi (RSPI)
Sulianti Saroso Jakarta, HAI merupakan masalah sulit dalam perawatan.
Kriteria terjadinya HAI adalah sewaktu penderita masuk rumah sakit
tidak dalam masa inkubasi dan tak ada gejala klinis, bukan dampak dari
infeksi sebelumnya, serta gejala klinis timbul lebih dari 48 jam
setelah dirawat atau tergantung dari masa inkubasi.

Sejauh ini, infeksi yang terkait perawatan kesehatan merupakan masalah
besar di negara-negara seperti Jerman, Italia, Inggris, dan Amerika
Serikat. Rata-rata 5-10 persen dari semua pasien yang dirawat di rumah
sakit di negara-negara barat terkena infeksi di dalam fasilitas
perawatan kesehatan, yang menghasilkan jutaan kasus infeksi per tahun
di tiap negara.

Di negara-negara berkembang, tingkat infeksi mencapai lebih dari 50
persen. Tingkat infeksi bergantung pada tiap fasilitas, bahkan di
bangsal atau ruang operasi. Sejumlah studi menunjukkan 17,6 persen
yang mendapat infeksi di RS Universitas Marokoâ€"50 persen didapat dari
bagian ruang gawat daruratnya. Sebanyak 16,5 persen di RS Universitas
Brasil, 48,3 persen di RS militer Arab Saudi, dan 10 persen di RS
Universitas India Barat di mana 67 persen pasien terkena HAI di ruang UGD.

�Infeksi di rumah sakit merupakan persoalan serius yang jadi penyebab
langsung maupun tidak langsung kematian pasien. Beberapa kejadian
infeksi nosokomial tidak menyebabkan kematian pasien, tetapi
mengakibatkan pasien dirawat lebih lama,� kata Direktur Jenderal Bina
Pelayanan Medik Farid W Husain. Saat ini, infeksi nosokomial di rumah
sakit mencapai 9 persen atau lebih dari 1,4 juta pasien rawat inap di
rumah sakit di seluruh dunia.

Sekitar satu dari 20 pasien HAI meninggal dunia-90.000 pasien setiap
tahunnya di Amerika Serikat, dan 19.000 kasus dari MRSA
(methicillin- resistant Staphylococcus aureus)-bakteri Staphylococcus
aureus yang resistan terhadap obat meticilin dalam spektrum luas. MRSA
umum ditemukan pada 25-30 persen di kulit semua orang. Di sejumlah
negara Eropa, rata-rata 20.000 orang meninggal dunia tiap tahunnya dan
sekitar 10 persen di antaranya dari MRSA.

Meningkatnya resistensi terhadap antibiotik disebabkan penggunaan yang
tidak sesuai dan pengobatan sendiri, ketidakpatuhan pasien seperti
penghentian pengobatan, manajemen higienitas yang tidak cukup, dan
tidak mengikuti praktik yang telah terbukti.

Biaya tambahan perawatan kesehatan tiap pasien bisa lebih besar dari
biaya asli perawatannya. Di AS tambahan biaya bisa mencapai 150.000
dollar AS. Beban ekonomi terkait dengan biaya langsung, kehilangan
tenaga kerja, dan yang lain mencapai 90 miliar dollar AS per tahun
untuk Amerika sajaâ€"biaya perawatan kesehatannya 30 miliar dollar AS.

Di Indonesia, jumlah studi mengenai masalah itu masih terbatas. Dari
data statistik dunia dan tingginya tingkat infeksi di negara-negara
berkembang, HAI juga merupakan masalah di Indonesia, yang mungkin juga
telah memengaruhi jutaan pasien. Dengan potensi jutaan jenis infeksi
di Indonesia, masalah HAI sesungguhnya lebih serius seperti halnya HIV
atau flu burung. Di AS, HAI adalah penyebab kematian terbesar keempat.

Penyebab HAI

Infeksi yang terkait perawatan kesehatan disebabkan beragam bakteri,
jamur, dan virus patogen disebut HAI. Infeksi ini didapat dari
fasilitas kesehatan yang memengaruhi orang-orang dengan daya tahan
tubuh atau imunitas menurun.

New York State Health menyebutkan, infeksi aliran darah adalah
manifestasi klinis utama dari HAI, diikuti infeksi saluran kencing dan
pneumonia. Infeksi lain yang juga bisa terjadi adalah infeksi saluran
pencernaan, infeksi situs pembedahan, serta infeksi telinga, hidung,
dan tenggorokan.

Infeksi ini ada beberapa jenis bakteri penyebabnya. Contoh, infeksi
aliran darah terutama disebabkan coagulase-negative staphylococci,
selain dari Staph aureus. Enterokokus, jamur, S aureus, Enterobacter,
Pseudomonas, dan Acinetobakter baumannii yang meningkat adalah
penyebab infeksi aliran darah. Sementara infeksi saluran kencing
sering disebabkan gram-negative Enterobacteriacea diikuti jamur dan
Enterococci.

Salah satu patogen utama infeksi rumah sakit adalah MRSA. Bahayanya,
MRSA mempunyai kemampuan untuk memiliki gen yang resisten atau kebal
terhadap antibiotik. MRSA menyebabkan 50 persen dari semua infeksi
yang didapat dari rumah sakit di Amerika Serikat. Ada banyak bakteri
resisten lain yang ditularkan di rumah sakit.

Ada beberapa rute infeksi dengan mikroorganisme, yaitu kontak
langsung, aliran udara, peralatan yang umum, dan vektor, misalnya
melalui kontak dengan pasien, pengunjung, atau di area tunggu.
Sementara penyebaran secara langsung antara lain kontaminasi melalui
tangan dan baju petugas, dan penularan langsung maupun tak langsung
terjadi lewat obyek dari cairan tubuh, serta kontak lewat udara
melalui bersin atau batuk.

Selain itu juga infeksi melalui vektor seperti tikus, gigitan nyamuk,
sistem sirkulasi udara, sarana umum seperti makanan dan obat-obatan,
air minum, serta higienitas. Akan tetapi, ada juga yang cara
penyebarannya kurang jelas. Stetoskop bisa saja membawa patogen dari
pasien sebelumnya, sedangkan formulir laboratorium bisa mengandung
bakteri dari sampel yang diambil.

Kain pel juga bisa membawa kuman dari UGD ke dalam ruang bersalin,
demikian juga ban kursi roda atau brankar. Bahkan, obat dan peralatan
bisa menyebarkan infeksi, misalnya jarum infus yang steril dapat
membawa pyrogen. Lemak sapi yang digunakan sebagai pengobatan luka
bakar di daerah-daerah pedalaman juga bisa mengandung cacar sapi.

Jaga kebersihan

Manajemen higienitas yang ketat merupakan cara terbaik untuk
mengurangi risiko infeksi yang diperoleh dari rumah sakit. Di Amerika
Serikat, program Sistem Pengawasan Infeksi Nosokomial Nasional (NNIS)
yang telah dikembangkan sejak awal tahun 1970 untuk memerangi infeksi
di rumah sakit telah diikuti sekitar 300 rumah sakit menengah dan
besar di 42 negara bagian secara sukarela. Kini, sistem itu telah
ditetapkan sebagai jaringan pusat pengetahuan dan basis data.

�Yang harus dilawan bukan infeksi, tetapi terjangkitnya infeksi itulah
yang harus dihindari. Lingkungan tidak akan pernah bebas dari patogen,
tetapi jalur kebersihan dalam pengobatan seperti mencuci tangan harus
jadi fokus utama untuk mencegah infeksi,� kata Kepala Subdirektorat
Bina Pelayanan Medik Spesialistik di RS Khusus Ditjen Bina Pelayanan
Medik Depkes drg Yosephine Lebang menegaskan.

�Kebersihan tangan juga harus dijaga untuk memutus rantai penularan
infeksi karena tangan merupakan media transmisi patogen tersering di
rumah sakit. Jadi, staf rumah sakit harus mencuci tangan mereka dengan
cermat sebelum dan sesudah kontak fisik dengan pasien. Hai ini
dilakukan dengan menggunakan sabun atau larutan aktif antibakteri
secara teratur,� ujar Yosephine.

Salah satu cara pencegahan infeksi yang diperoleh di rumah sakit
adalah mengisolasi pasien yang terinfeksi dan menjalankan peraturan
pengisolasian ketat antara staf dan pengunjung. Hal ini meliputi
pemisahan kereta, pakaian petugas, dan pembersihan alat dengan diberi
kode warna. Ruangan dibersihkan dengan desinfektan setelah pasien
selesai dirawat. Selain itu, pemberian resep antibiotik oleh semua
dokter di rumah sakit perlu dibatasi secara ketat.

Menurut pedoman Badan Kesehatan Dunia (WHO) tentang kebersihan tangan
yang diterbitkan Juli 2006, sebagai standar praktik kebersihan tangan
di pelayanan kesehatan adalah dengan produk berbasis alkohol dan cuci
tangan diperlukan pada situasi tertentu. Juga petugas harus menjaga
kukunya agar pendek-bersih, menghindari pemakaian kuteks dan kuku
palsu, serta tidak memakai cincin, gelang, dan arloji.

Masalahnya adalah bagaimana meningkatkan kepatuhan petugas kesehatan
dalam menjalankan standar praktik kebersihan tangan. Menurut hasil
survei di RSPI Sulianti Saroso, misalnya, meski sarana dan prasarana
untuk cuci tangan tersedia, petugas tidak mencuci tangan saat akan
melakukan tindakan dan baru cuci tangan setelah tindakan medis.

Penggunaan alat pelindung juga tidak sesuai peraturan, seperti tidak
memakai sarung tangan, petugas masih sering tidak menyarungkan kembali
jarum suntik, dan tidak mengembalikan ke tempatnya dalam pengelolaan
alat tajam. Pengelolaan alat kesehatan bekas pakai sering melebihi
waktu yang ditentukan, dalam pengolahan limbah juga masih terjadi
pencampuran antara limbah medis dan nonmedis.

Demi meningkatkan standar keamanan pasien, Depkes telah menerbitkan
aturan mengenai pedoman manajerial program pencegahan dan pengendalian
infeksi di rumah sakit (PPI RS) dan fasilitas pelayanan kesehatan lain
melalui Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 270 Tahun 2007. Depkes juga
menetapkan lima rumah sakit sebagai pusat pelatihan regional
pencegahan dan pengendalian infeksi, yaitu RS Umum Pusat Adam Malik
Medan, RSUP Dr Hasan Sadikin Bandung, RSUP Dr Sardjito Yogyakarta,
RSUD Dr Soetomo Surabaya, dan RSUP Sanglah Denpasar.

Bekerja sama dengan pihak swasta, pemerintah juga meluncurkan program
No Infection Campaign and Education (NICE). Program ini diracang untuk
mengubah perilaku petugas kesehatan di seratus rumah sakit mulai Juni
2008 hingga Oktober 2009. Diharapkan, dari hal sederhana seperti
menjaga kebersihan tangan, infeksi di rumah sakit yang bisa
menyebabkan kematian pasien bisa dicegah.

 














      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke