kalau fadjroel rachman sangat ok. pake sangat karena dia kawanku di memo 
indonesia. jadi kenal secara pribadi dan dapat menilai secara pribadi pula. 
orang ini pencinta kebebasan sejati - sesuatu yang sangat dibutuhkan di 
Indonesia. memang kita kini sudah bebas. tapi bukan itu maksud saya. bebas itu 
artinya; bisa mengubah dan merombak semua regulasi yang ada. misalnya kurikulum 
pendidikan atau banyak regulasi yang membelenggu di birokrasi. nah, pas 
fadjroel di sini. dia bisa menjadi motor untuk mengubah segala-gala yang 
membelenggu itu.

orang seperti pak manneke itu juga ok jalin menjalin bersama fadjroel. karena 
dengan ilmu humaniora khususnya sastra barangkali ada jalan keluar untuk 
pelunakan sebuah gerak dan gerik negara.

kalau nama-nama yang lain saya kenal lewat tulisan, belum pernah bergaul secara 
langsung. tapi ok pula karena pikiran juga kan kehadiran orang juga dengan 
caranya sendiri. kehadiran orang melalui tulisan.

jangan pula dilupakan bung anton djakarta itu. dia ini ok juga. karena saya 
melihat ada ketegasan dan keberanian. 

demikian juga dengan budiman sudjatmiko. sudah membuktikan saat masa orde baru. 
soal gabung atau meninggalkan dengan tanda petik semua itu, alah namanya juga 
logika politik dan hukum politik. kita kan manusia semua bukan malaikat. wajar 
dong orang bermanuver.

saya melihat pula pak haniwar di milis ini juga ok.

jangan lupa orang seperti gadis arivia itu penting juga untuk dilibatkan. 
banyak nian orang, seolah-olah. tak apa. kita seolah deru perang menampi padi: 
keluar pemimpinnya setelah padi diayak. lainnya kan bisa jadi menteri. 

orang seperti rocky gerung pun saya melihat ok juga. bahkan taufiq rahzen ok. 
bahkan di kalangan agak muda ke bawahnya: mariana amiruddin yang kini memimpin 
jurnal perempuan juga ok.

seolah muda nian. tidak. zaman pra kemerdekaan mereka umur 19 tahunan sudah 
menjadi leader. kemarin kawan saya aktor ikranegara informal email-emailan ama 
saya. presiden pemilu kelak tidak boleh di atas 50. tidak boleh ini artinya 
inilah yang harus menjadi kesepakatan.

di luar nama-nama itu saya masih punya nama-nama juga. tapi mereka bukan figur 
publik jadi susah mengapungkannya. kalo mereka sudah bergerak kan kita tinggal 
memperlihatkan prestasi mereka yang kita gadang-gadang, untuk ditampi pula.

soal nama-nama ini, aduh, soalnya adalah apakah orang-orang partai rela 
mereka-mereka ini masuk ke sana! inilah soalnya. atau dibalik; bagaimana 
memaksa orang-orang partai ini masuk ke sana. nah, itu siapa yang harus menjadi 
operator politiknya. siapa yang punya kemampuan loby politik di milis ini, 
itulah yang akan kita jadikan kurir (idih kurir hehe)

atau diambil tindakan radikal: bagaimana kalau nama-nama itu membuat barisan 
baru dan bertarung di medan calon independen - di mana mereka bahu membahu satu 
sama lain dalam satu barisan kabinet yang sudah mereka angankan.

atau bagaimana lagi? saya kurang paham soal politik ini.
aih. idih.

he he he

majulah fadjroel, majulah. orang sastra mendukungmu.

(Hudan Hidayat)



--- On Mon, 7/14/08, Ayah taqi <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
From: Ayah taqi <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: Re: [Forum Pembaca KOMPAS] Fajroel Rachman for President
To: [email protected]
Date: Monday, July 14, 2008, 9:11 AM










    
            Fajrul Rachman OK



----- Original Message ----

From: permadi simbolon <permadi_simbolon@ yahoo.com>

To: Forum-Pembaca- [EMAIL PROTECTED] ps.com

Sent: Monday, July 14, 2008 3:39:18 PM

Subject: Re: [Forum Pembaca KOMPAS] Rizal Mallarangeng for President



Bung Fajrul Rachman, Fajrul Falakh, Yudi Latief, Ulil Abshar Abdala, dan tokoh 
muda lainnya, saya pikir layak dilirik para parpol baru yang belum pernah 
melukai hati rakyat. Melihat pemikiran mereka di berbagai tulisan, mereka lebih 
mengedepankan keselamatan kebangsaan. Soal pengembangan di bidang ekonomi, 
mereka cukup mengangkat pakar-pakar di bidang ekonomi. Bagaimana pendapat 
anggota milis lainnya?



Pormadi S

 



[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke