Laporan Wartawan Kompas Suhartono

JAKARTA,SELASA - Wakil Presiden Muhammad Jusuf Kalla menyatakan, enam
Presiden RI yang dimiliki negeri ini, yaitu almarhum Soekarno,
almarhum Soeharto, BJ Habibie, Abdulrrahman Wahid dan Megawati
Soekarnoputri serta Susilo Bambang Yudhoyono, tidak ada yang seperti
sosok almarhum Mohammad Natsir.

"Berbeda pandangan dalam politik, akan tetapi tetap bersikap
demokratis dan tidak berbeda dalam hubungan pribadi dan kekeluargaan
dengan tokoh lainnya. Jadi, hubungannya tetap baik dengan tokoh satu
dan lainnya," ujar Wapres Kalla, saat membuka seminar nasional
mengenai refleksi 100 tahun Mohammad Natsir di aula Gedung Mahkamah
Konstitusi (MK) di Jalan Merdeka Barat, Jakarta, Selasa (15/7) pagi ini.

Menurut Wapres Kalla, "Kita punya enam Presiden dalam sejarah Republik
ini. Akan tetapi, enam Presiden itu tidak ada yang saling berbicara
satu sama lainnya. Almarhum Soekarno tidak berbicara dengan almarhum
Soeharto. Pak Harto juga tidak berbicara dengan Presiden selanjutnya,
yaitu BJ Habibie. Begitu juga Pak Habibie tidak berbicara dengan
Abdulrrahman Wahid atau Gus Dur. Gus Dur juga tidak mau berbicara
dengan Ibu Megawati Soekarnoputri. Ibu Megawati juga tidak saling
berbicara dengan Presiden Yudhoyono."

Oleh sebab itu,tambah Wapres Kalla, sikap keteladanan yang harus
ditiru oleh para pemimpin di Indonesia sekarang ini. "Boleh saja
berbeda pandangan, akan tetapi jangan sampai terjadi perbedaan pribadi
satu dengan lainnya. Jadi, inilah yang harus dipelajari oleh para
pemimpin sekarang ini," jelas Wapres Kalla.

Seminar nasional ini diawali dengan pembacaan surat pembukaan ayat
suci Al'quran Ummul Quran. Dijadwalkan, seminar berlangsung hingga
pukul 15.00 wib. Moh Natsir adalah mantan Perdana Menteri pertama
Indonesia, yang dilantik oleh Presiden Ir Soekarno. Almarhum banyak
dinilai sebagai politisi muslim yang nasionalis, pandai dan santun
dalam berpolitik.

Ia dilahirkan 17 Juli 1908 di Alahan Panjang, Sumatera Barat, dan
meninggal di RS Cipto Mangunkusumo, Jakarta pada 6 Februari 1993. Ia
juga "hidup" dalam periode Orde Lama dan Orde Baru. Seminar para ahli
yang berjudul "Refleksi Seabad M Natsir, Pemikiran dan Perjuangan,"
digelar oleh MK itu menghadirkan mantan Deputi PM Malaysia Anwar
Ibrahim, pakar politik Burhan Magenda, mantan Mensesneg Yusril Ihza
Mahendra, pakar sejarah Taufik Abdullah dan Anhar Gonggong, tokoh
agama Malik Fadjar. Tema seminar itu adalah "Kedudukan M Natsir dalam
Sejarah NKRI."

HAR
Sent from my BlackBerry © Wireless device from XL GPRS/EDGE/3G Network

http://kompas.com/read/xml/2008/07/15/10463033/wapres.6.presiden.harus.teladani.sikap.moh.natsir

Kirim email ke