Manila, Jumat - Histeria melanda 346 penumpang dan 19 awak Boeing 747-400 milik maskapai Qantas Airways, Australia, saat badan pesawat jumbo ini robek dalam penerbangan dari Hongkong, China, ke Melbourne, Australia, Jumat (25/7). Pesawat terpaksa berbalik arah dan mendarat darurat di Manila, Filipina.
Insiden ini terjadi saat pesawat dengan empat mesin ini terbang di ketinggian 40.000 kaki (12.192 meter) dari permukaan laut. Suara ledakan dari bagian bawah tubuh pesawat sontak membuat tekanan dalam kabin pesawat turun drastis. Pilot pesawat, John Francis Bartels, langsung menurunkan ketinggian pesawat ke posisi 25.000 kaki (7.620 meter). Bartels kemudian mengontak Bandara Internasional Ninoy Aquino, Manila, guna meminta izin untuk mendarat darurat. Pesawat dengan nomor penerbangan QF30 akhirnya selamat mendarat di Manila pada pukul 11 waktu setempat (pukul 12.00 WIB). Pesawat yang terbang dari London, Inggris, dan mampir di Hongkong, China, itu sedianya akan tiba di Melbourne, Australia, sekitar pukul 18.45 waktu setempat. Lubang 3 meter Petugas di Manila menemukan bagian bawah badan pesawat robek dengan diameter 2,5-3 meter. Ukuran yang cukup untuk memasukkan sebuah kendaraan minivan. Lubang besar di bagian depan kanan ini membuat tekanan udara dalam kabin langsung turun drastis dan ketinggian pesawat harus diturunkan 15.000 kaki (4.572 meter). Para penumpang mengaku mendengar suara ledakan keras. Pada saat bersamaan terasa udara kencang yang menyedot ke luar pesawat. Pecahan badan pesawat beterbangan, terutama di dalam kabin kelas satu di depan. âAda suara ledakan yang sangat keras. Setelah itu puing-puing pesawat, termasuk sejumlah potongan kayu, beterbangan dalam kabin kelas satu. Masker oksigen langsung keluar. Suasana mencekam, tetapi beruntung semua penumpang cukup tenang,â tutur June Kane, penumpang asal Melbourne. Penumpang lain mengaku melihat banyak barang tersedot ke luar badan pesawat. Peristiwa itu terjadi satu jam setelah pesawat lepas landas dari Hongkong pukul 09.00 waktu setempat. Pesawat sedang berada di atas Laut China Selatan. Salah seorang penumpang, Olivia Lucas, menceritakan, semua penumpang histeris tetapi tak berlangsung lama. âSemua penumpang meraih masker oksigen dan situasi perlahan tenang hingga mendarat. Begitu terdengar suara keras, kami diberi tahu ada pintu belakang pesawat yang terlepas,â ujar Lucas. Namun, ternyata ada lubang besar di bagian depan pesawat. âPasti banyak tas dan barang hilang karena banyak bagasi terjulur hingga ke luar badan pesawat,â kata Lucas. Juru bicara pengelola bandara di Manila, Octavio Lina, mengakui, akibat lubang tadi, sebagian kargo di bagasi pesawat hilang. âAkibat pesawat terguncang, banyak penumpang muntah. Mereka beruntung bisa mendarat dengan selamat. Tidak ada seorang pun yang terluka,â ujarnya. âShockâ dan pingsan Meski tenang, banyak penumpang yang takut dan pucat begitu pesawat mendarat. Begitu menyentuh landasan, para penumpang bertepuk tangan sebagai penghargaan atas keberhasilan pilot John Francis Bartels. Penumpang lain, Phill Restall asal Inggris, menyatakan, penumpang tampak tenang karena tidak mengetahui peristiwa sesungguhnya. Pada saat di bandara dan melihat lubang di badan pesawat, lanjut Restall, barulah sejumlah penumpang kaget dan menangis. Ada juga yang langsung pingsan. âSaya sangat kaget karena tidak mengira kerusakan separah itu. Begitu ledakan keras itu terdengar, saya terbangun dan langsung pakai masker. Pesawat seperti meluncur cepat di luar kebiasaan. Tak ada yang panik dan berteriak. Hanya suara tangisan bayi dan anak-anak. Semua orang mengikuti instruksi awak-awak pesawat,â ujar Restall yang mengaku mengenakan masker oksigen selama 15 menit. Dr David Newman dari Bagian Perawatan dan Pengobatan Maskapai menyatakan, ketinggian pesawat yang menurun drastis seusai terjadi ledakan merupakan prosedur standar kondisi darurat, pada situasi yang seperti itu. âSaat kehilangan tekanan, tekanan udara yang tinggi di dalam kabin hilang dan ada risiko kekurangan oksigen. Saat itu perlu masker oksigen. Pilot Bartels langsung menurunkan ketinggian pesawat untuk mencapai ketinggian yang aman untuk bernapas normal,â ujarnya. Direktur Eksekutif Qantas Geoff Dixon mengemukakan, pada saat ini pihaknya tengah menyelidiki penyebab ledakan dan terlepasnya sebagian badan pesawat yang berdekatan dengan sayap kanan. Untuk mempercepat penyelidikan, Badan Keamanan Transportasi Australia mengaku sudah mengirim empat penyelidik ke Manila. Menurut harian Telegraph, pihak kepolisian Inggris, Scotland Yard, tidak yakin suara keras itu berasal dari ledakan bom. Untuk memastikan hal itu, Komandan Atilano Morada, Kepala Kepolisian Kelompok Keamanan Penerbangan Filipina, sudah siap mengirimkan tim ahli bahan-bahan peledak jika diperlukan. âNamun sampai saat ini mereka tidak mengizinkan kami mendekati pesawat. Kami menghargai itu. Kami siap kapan saja,â ujarnya. (REUTERS/AFP/AP/BBC/LUK) http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/07/26/01085443/histeria.dalam.pesawat.qantas
