Sore..
Baca berita ini, ada sisi bikin aku tersenyum, tp ada sisi yang cukup bkin miris juga. Yang bikin senyum adalah pertanyaan Pak Guru Deni yang sangat polos tp cukup pintar. Pintar sudah mengetes tentang asal muasal nama "Indonesia". Karena aku rasa, banyak rakyat negri ini yang tidak tahu asal muasal nama Indonesia. Mirisnya adalah masih banyak anak Indonesia yang belum melek teknologi. Baru-baru ini, aku kedaerah Sukabumi, hanya beberapa puluh kilometer dari Ibukota. Tapi ternyata ada sebuah kampung di Sukabumi yang tidak terjamah oleh listrik. Jadi informasi yang anak-anak sekolah terima hanya sebatas buku. Jangan berharap ada internet. Sungguh miris... Bagaimana bisa menjadi bangsa yang cerdas, bila masih ada yang kesulitan mendapatkan ilmu pengetahuan serta teknologi. Sungguh miris.. beberapa hari kedepan adalah Hari Kemerdekaan Indonesia. Tapi ternyata masih banyak rakyat Indonesia yang belum merdeka untuk masalah pendidikan, masalah perut, masalah berlindung, dsb... Ayoo... siapa yang mau mendonasikan laptop / komputer nya kepada anak-anak Indonesia yang membutuhkan... Indonesia, Tetap Semangat !!!! Mega ================================ On 8/13/08, Agus Hamonangan <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > Laporan Wartawan Kompas.com Inggried Dwi Wedhaswary > > http://kompas.com/read/xml/2008/08/13/15152125/menlu.ditanya.dari.mana.asal.nama.indonesia. > > > JAKARTA, RABU - Kesempatan temu muka dan ramah antara dengan Menteri > Luar Negeri Hasan Wirayudha, ternyata tak dilewatkan begitu saja oleh > para guru. Termasuk Deni, salah satu guru dari daerah terpencil di > Kalimantan Timur. > > Ia pun dengan polos bertanya hal yang selama ini menjadi pertanyaan > besar baginya. Sederhana tapi mendalam. "Saya ingin mendapat masukan > dan jawaban tentang satu hal. Selama ini hanya bertanya-tanya dan > tidak tahu jawabnya. Pertanyaan saya, sebenarnya nama Indonesia itu > asalnya dari mana? Untungnya, anak didik saya belum ada yang bertanya. > Jadi, sebelum ada yang nanya, saya ingin tahu jawabnya," kata Deni > yang disambut tawa para peserta ramah tamah yang terdiri dari 66 guru > daerah terpencil dan 33 guru SLB. Pertemuan berlangsung di Gedung > Pancasila, Jakarta, Rabu (13/8). > > Menlu Hasan Wirayudha pun memberikan jawaban. Dijelaskan Hasan, nama > Indonesia merupakan simbol kesatuan politik yang menyatukan seluruh > wilayah Indonesia yang dulunya terpecah. "Kita tahu dulu ada Banten, > Majapahit, Kerajaan Yogyakarta, Sulawesi dan lain-lain. Nah, semuanya > itu kemudian disatukan dengan nama Indonesia yang berasal dari bahasa > Yunani. Dulu, wilayah kita disebut Hindia Belanda atau east hindia," > ujar Hasan. > > Pertanyaan lainnya juga tak kalah menarik dan terbuka. Seorang guru > SLB dari Yogyakarta, Sardiana menyatakan harapannya akan perhatian > terhadap para pelajar yang mempunyai keterbatasan secara fisik. > Terutama dalam hal teknologi. "Agar tidak gaptek (gagap teknologi), > kami dikasih apalah terima saja, Pak Menteri," ujar Sardiana. > > "Memang sudah waktunya kita memberi perhatian lebih besar kepada > anak-anak luar biasa. Dengan kemampuan anggaran yang lebih besar, > semoga kita bisa mencapai 20 persen alokasi anggaran pendidikan dan > bisa memajukan pendidikan luar biasa," jawab Hasan. > > Sementara, Devi Yuliarni, guru asal daerah terpencil di Sumatera Barat > secara terang-terangan meminta bantuan laptop kepada Menlu. Tujuannya > untuk memberikan pengetahuan kepada anak didiknya. "Daerah saya sangat > terpencil, Pak Menteri. Anak-anak nggak kenal komputer apalagi laptop. > Jadi sangat tertinggal. Saya pernah pinjam laptop, akhirnya mereka > tahu bentuknya seperti apa. Tapi, karena pinjaman, ya cuma sebentar. > Makanya Pak, kalau boleh berilah kami laptop," kata Devi. > > Inggried Dwi Wedhaswary
