Laporan Wartawan Kompas.com Inggried Dwi Wedhaswary

http://kompas.com/read/xml/2008/08/13/15152125/menlu.ditanya.dari.mana.asal.nama.indonesia.


JAKARTA, RABU - Kesempatan temu muka dan ramah antara dengan Menteri
Luar Negeri Hasan Wirayudha, ternyata tak dilewatkan begitu saja oleh
para guru. Termasuk Deni, salah satu guru dari daerah terpencil di
Kalimantan Timur.

Ia pun dengan polos bertanya hal yang selama ini menjadi pertanyaan
besar baginya. Sederhana tapi mendalam. "Saya ingin mendapat masukan
dan jawaban tentang satu hal. Selama ini hanya bertanya-tanya dan
tidak tahu jawabnya. Pertanyaan saya, sebenarnya nama Indonesia itu
asalnya dari mana? Untungnya, anak didik saya belum ada yang bertanya.
Jadi, sebelum ada yang nanya, saya ingin tahu jawabnya," kata Deni
yang disambut tawa para peserta ramah tamah yang terdiri dari 66 guru
daerah terpencil dan 33 guru SLB. Pertemuan berlangsung di Gedung
Pancasila, Jakarta, Rabu (13/8).

Menlu Hasan Wirayudha pun memberikan jawaban. Dijelaskan Hasan, nama
Indonesia merupakan simbol kesatuan politik yang menyatukan seluruh
wilayah Indonesia yang dulunya terpecah. "Kita tahu dulu ada Banten,
Majapahit, Kerajaan Yogyakarta, Sulawesi dan lain-lain. Nah, semuanya
itu kemudian disatukan dengan nama Indonesia yang berasal dari bahasa
Yunani. Dulu, wilayah kita disebut Hindia Belanda atau east hindia,"
ujar Hasan.

Pertanyaan lainnya juga tak kalah menarik dan terbuka. Seorang guru
SLB dari Yogyakarta, Sardiana menyatakan harapannya akan perhatian
terhadap para pelajar yang mempunyai keterbatasan secara fisik.
Terutama dalam hal teknologi. "Agar tidak gaptek (gagap teknologi),
kami dikasih apalah terima saja, Pak Menteri," ujar Sardiana.

"Memang sudah waktunya kita memberi perhatian lebih besar kepada
anak-anak luar biasa. Dengan kemampuan anggaran yang lebih besar,
semoga kita bisa mencapai 20 persen alokasi anggaran pendidikan dan
bisa memajukan pendidikan luar biasa," jawab Hasan.

Sementara, Devi Yuliarni, guru asal daerah terpencil di Sumatera Barat
secara terang-terangan meminta bantuan laptop kepada Menlu. Tujuannya
untuk memberikan pengetahuan kepada anak didiknya. "Daerah saya sangat
terpencil, Pak Menteri. Anak-anak nggak kenal komputer apalagi laptop.
Jadi sangat tertinggal. Saya pernah pinjam laptop, akhirnya mereka
tahu bentuknya seperti apa. Tapi, karena pinjaman, ya cuma sebentar.
Makanya Pak, kalau boleh berilah kami laptop," kata Devi.

Inggried Dwi Wedhaswary


Sent from my BlackBerry © Wireless device from XL GPRS/EDGE/3G Network

Kirim email ke