Saya yakin penduduk negeri ini juga banyak yang muak dengan anda. Justru anda 
yang kesetanan saat ini, saya tidak bisa bayangkan bagaimana lebih dan lebih 
kesetanannya anda saat itu sewaktu melihat Fadjroel di televisi. Oh, ya. Saya 
sangat setuju anda sebaiknya mati saja. 

Maaf ya bung Ajud ....

ajud ajudri <[EMAIL PROTECTED]> wrote:                             Fadjroel for 
Presiden?
 
 Mimpi apalagi ini? Aku semakin muak saja hidup di negeri lelocon ini.
 Apa yang bisa diharapkan dari seorang FANJOEL....eh Fadjroel.
 Sejak awal mula, dia memulai memasang pencitraan di media masa, saya membathin 
ini orang memaksakan diri agar kelihatan pintar....namun sesungguhnya tak 
kelihatan isinya.
 
 Kita bisa terkagum-kagum dengan seseorang saat buah pikirannya membuat kita 
berdecak kagum, karena merasakan / mendapatkan pencerahan baru. Entah itu dari 
ucapannya, tulisannya, atau komentarnya terhadap sesuatu. Bukan sebagai 
seseorang yg hanya suka mencaci maki, menilai dan menelanjangi orang lain, 
berkomentar tanpa fakta...tapi lebih kepada seenak udel...kata nenek 
kita.Ibarat kata hanya pintar menyalahkan orang, tapi begitu ditanya apa yang 
bisa kau lakukan...hanya mesem-mesem.
 
 Hal yang paling buruk yang saya lihat dari ke pribadian Fanjoel..eh Fadjroel 
adalah saat bung ini tampil di televisi bersama-sama dengan Putri Pak Ruslan 
Abdul Gani yang menulis buku tentang Bapak H. Muhammad Soeharto. Fadjroel 
seperti orang kesetanan saat itu. Padahal kalau dia seorang intelektual yang 
cerdas, tentu tak akan berlaku seperti itu terhadap karya seseorang. Apapun 
yang menjadi penilaian tentang seorang Soeharto oleh Putri Pak Ruslan tentu 
merupakan bagian dari pandangan beliau, hak asasi gitu loeee. Masalah berbeda 
dengan pandangan bung Fanjoel ya tentu hak masing-masing. Namun saat itu bung 
Fanjoel memposisikan diri bak malaikan Nungkar dan Nangkir yang mengetahui 
segala kegiatan Bapak Soeharto.
 
 Lalu apakah orang seperti itu pantas memimpin negeri ini. Ampun deh!!!!!!!!!!!.
 Kalau nanti malaikan maut datang kepadaku, lalu menyuruh aku memilih. "Apakah 
aku memilih memiliki Presiden Fadjroel, atau memilih mati  dari pada memiliki 
Presiden Fanjoel.....Tentu aku memilih kematian.
 
 Maaf  ya Bung Fadjroel...
 
 [Non-text portions of this message have been removed]
 
 

Kirim email ke