Sejarah terulang lagi... Kok nga pernah belajar sih kita Kalau membawa petaka pada masyarakat kenapa masih aja diteruskan? Uda tuitup aja perusahannya
--- In [email protected], "Jhoni Tuerah" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Mohon diloloskan, bapak moderator ... supaya informasinya tersampaikan > tentang yang dilakukan PT Toba Pulp Lestari (TPL) sementara mereka > mendapat peringkat hijau dari Kementerian Lingkungan Hidup (KLH). > > > > Terima kasih. > > > > > > -----Original Message---- > > From: gurgur manurung <[EMAIL PROTECTED]> > > Subject: Tragedi Kemanusiaan di Siruar Porsea Sumatera Utara > > > > Hampir seluruh masyarakat Siruar yang berpenduduk sekitar 300 Kepala > Keluarga (KK) > > menderita penyakit gatal-gatal yang diduga akibat polusi PT. Toba Pulp > Lestari > > (PT.TPL). Dalam dialog antara rakyat Siruar dengan pihak manajemen PT > TPL, > > rakyat menghadirkan anak-anak balita, anak-anak Sekolah Dasar yang di > sekujur tubuhnya, terutama di pangkal paha bernanah. > > > > Rohaniawan Sumurung Samosir dan istrinya Indira Simbolon yang melihat > > langsung kondisi anak-anak itu, tidak > > tahan menahan air mata. Demikian juga intelektual muda Sumatera Utara > Dimpos > > Manalu terlihat amat sedih melihat keadaan itu. > > Mereka tidak sanggup berkata-kata. Dipastikan, semua orang yang masih > memiliki > > rasa kemanusiaan tidak kuasa melihat > > kondisi kulit anak-anak itu. Apalagi > > jika kita melihat anak-anak balita yang kepalanya terdapat > benjolan-benjolan > > yang mengandung nanah. Seorang separoh baya mengaku, bahwa sebenarnya > hampir > > semua kaum ibu di sekujur tubuhnya telah > > terjadi gatal-gatal yang mengerikan, tetapi mereka malu untuk > menunjukkannya. > > Mendengar pengakuan itu secara spontan seorang ibu mengatakan bahwa > suaminya > > mengalami gatal-gatal di seluruh tubuhnya terutama di pangkal paha dan > di alat > > kelaminnya mengalami hal yang sama. > > > > Indira Simbolon langsung mengambil inisiatif untuk mengajak > > seorang ibu untuk membuka baju di ruang tertutup untuk difoto. Dari > > hasil foto menunjukkan benjolan-benjolan di seluruh paha, pangkal paha, > pantat, > > perut, dada, punggung dan bagian-bagian tubuh yang lain. Para > > ibu mengaku mengalami hal yang sama, tetapi tidak banyak yang mau di > foto. Anak > > gadis berusaha menutupi penderitaan mereka. > > Kaum Bapak dan anak-anak muda bersedia menunjukkan benjolan-benjolan > > dalam tubuhnya, walaupun umumnya mereka tidak mau menunjukkan kondisi > pangkal > > paha. Tetapi menurut pengakuan mereka, > > di pangkal paha dan di alat kelami ada benjolan-benjolan yang amat > > gatal. > > > > Sungguh Ironis, karena PT.TPL beberapa hari yang lalu mendapat > peringkat hijau dari > > Kementerian Lingkungan Hidup (KLH). Peringkat hijau merupakan peringkat > terbaik > > bagi setiap perusahaan yang mengelola lingkungan dengan baik. Dalam > dialog saya > > dengan pihak manajemen perusahaan yang diwakili Leo Hutabarat tidak > mengakui bahwa > > pihak PT.TPL sebagai sumber penyebabnya. Anehnya, mereka bersedia > membawa > > dokter kulit kepada masyarakat. Bukankah ketika mereka bersedia membawa > dokter > > kulit menunjukkan pengakuan itu?. Sejak dulu > > PT.TPL memang tidak pernah konsisten. Dalam dialog selalu berbicara > > transparan. Tetapi dalam prakteknya, mereka arogan. Mereka tertutup > kepada > > masyarakat. Buktinya, ketika saya dengan > > beberapa wartawan berada di pinggir sungai tempat pembuangan limbah > akhir yang > > sebenarnya di luar kompleks PT.TPL seorang humas PT.TPL kelihatan > beringas > > menegur seorang karyawan PT.TPL yang memberikan keterangan kepada kami. > > Karyawan PT.TPL yang tinggal di Siruar itu menceritakan bahwa PT.TPL itu > > akal-akalan. Mereka membuang limbah di waktu subuh, terutama di waktu > hujan. > > Jika ada tamu PT.TPL, terutama dari Jakarta mereka sangat > > serius menangani PT.TPL, sehingga tidak terasa bau yang menyengat. > Mereka > > membawa dokter jika rakyat sudah marah. Buktinya, selama ini mereka > tidak > > peduli. Padahal, kondisi masyarakat sudah sangat mengerikan. > > > > Mengomentari warna air di sungai di tempat pembuangan limbah PT.TPL > yang > > berwarna coklat, sementara di tempat lain terlihat jernih sang karyawan > > mengatakan, seringkali ikan-ikan di sungai ini mati mendadak. Penduduk > lain di > > Siruar juga mengatakan hal yang sama. Kesaksian masyarakat Siruar yang > lain > > mengatakan, puluhan tahun saya menjadi petani, tetapi saya tidak pernah > > melihat pisang mati sebelum berbuah. > > Lihatlah pisang-pisang itu, katanya sambil menunjukkan pohon-pohon > pisang muda > > yang hampir mati. Daunya layu, padahal > > pisang-pisang itu masih muda. Dalam kondisi rakyat yang tidak berdaya, > tidak > > ada yang peduli. Pelayanan kesehatan masyarakat di Siruar tidak > berfungsi. Bagaimana mungkin petugas > > kesehatan masyarakat Siruar tidak melaporkan kondisi itu? > > > > Porsea 14 Agustus 2008 > > Gurgur Manurung >
