SOLO SPIRIT OF JAVA
SEABAD KARTINI & 100 TAHUN KEBANGKITAN NASIONAL.
REGENERASI KEPEMIMPINAN NASIONAL
Solo yang ditetapkan sebagai Kota penyelenggaraan Konferensi Internasional
Heritage, pelurusan sejarah harus dilakukan memasuki Tahun Wisata 2008, 10
tahun reformasi stagnan “Demokrasi tanpa Perempuan, bukanlah Demokrasi “
(Hillary Clinton),sudah diakui oleh seluruh kepala kepala negara di dunia pada
HUT ke 50 PBB tahun 1996 Perempuan Pembangunan yang berkelanjutan, ke MERDESA
yang artinya hidup patut dan layak menuju MDGs 2015 sebab dari 8 program, 7
program berwajahkan perempuan dalam keterbelakangan, kemiskinan dan kebodohan,
ke perubahan figur, struktur dan kultur sekaligus.Para Pemimpin tidak pernah
komitmen terhadap perbuatannya sendiri,tanpa panutan.
Perubahan seharusnya kearah perbaikan bukan sebaliknya, apa sebab? Bangsa
berjiwa kerdil krisis global sejak 98 hingga kini yang dibicarakan hanya
ranting rantingnya yaitu ekonomi, politik,hukum belum ke akar budaya tidak
berani merevolusi diri sendiri, koreksi untuk total percaya diri sebagai
bangsa yang besar. Saling curiga produk kehidupan berkeluarga yang tidak
memenuhi kejiwaan yang sehat/higienis, melahirkan masyarakat dan pemimpin yang
tidak sehat pula lebih pada kepentingan partai, golongan dan kelompok yang
mengancam eksistensi NKRI.
Budiarto Shambazy wartawan kompas dalam tulisannya di Kompas 15 september 2007
berjudul Belajar faktor X, yang dibutuhkan sekarang a real leader, seorang (ya,
cukup satu orang saja) pemimpin sejati, dialah yang cocok memimpin bangsa ini
sebagai Presiden 2009-2014.
Menyambut Hari Kartini 21 April 2008 menuju 100 tahun Kebangkitan Nasional 20
Mei 2008 mengenang kembali sosok Kartini relevansinya dengan kekinian, dikutip
dari judul di harian Kompas 28 Mei 2007 “Kartini pioneer Kebangkitan Nasional”
oleh Triyono Lukmantoro, Peminat Kajian Gender, Pengajar Ilmu Filsafat Undip :
“ Suatu Keajaiban telah terjadi insulinde putri cantik yang tidur itu telah
bangkit “ saat organisasi Boedi Oetomo dideklarasikan menimbulkan kegemparan
dikalangan belanda, terungkap di Majalah De Gidds : Het Wonder is geschied,
insulinde, de schoone slaapeter, is ontwakt. tampaknya kata Ontwakt (yang
berarti “bangkit”) itulah bergulir konsep Hari Kebangkitan Nasional, karena
Boedi Oetomo memiliki sifat Kebangsaan yang terbatas yakni nasionalisme jawa.
Kebangkitan Jawa dan Kebangkitan Nasional selayaknya tidak dipandang dikotomis
melainkan proses berkelanjutan (Manuel Kaisiepo Wahidin Soedirohusodo dan
Soetomo dari Kebangkitan Jawa
ke Kebangkitan Nasional dalam 1000 tahun Nusantara 2000: 671-682.).
Figur Kartini yang kelahirannya 21 April dijadikan Hari Nasional, sosok paling
awal mengemukakan gagasan itu, kini sejarah ber-ulang Indonesia Gemilang 2007
dideklarasikan R.A.Berar Fathia capres Independen “Kebangkitan Jawa, Satunya
Mataram Indonesia Spiritual dunia” 1 Suro 2007.. Pers Indonesia masih gagap
menghadapi perubahan ini, idealisme pers termakan oleh kapitalis disusul 11
Nopember 2007 menyambut Hari Pahlawan Sendratari kolosal Adeging Praja
Mangkunegaran memperingati 250 tahun KGPA Sri Mangkunegoro 1, Kebangkitan
Pemerintahan Mangkunegaran bukan tidak mungkin regenerasi kepemimpinan nasional
pasca Sultan Agung, Keraton pengendali peradaban pemersatu Kerajaan Mataram
adalah kewajiban generasi penerus mengingatkan Kongres Kebudayaan ke 1
penggagasnya Sri Mangkunegoro ke V11 masih murni belum diambil- alih lembaga
politik untuk kepentingan politik, maka ojo kagetan,lan ojo gumunan apabila
penyelamatan republik dari krisis kepercayaan
terhadap partai politik sekarang ini, Kerajaan solusi ekstra parlementer
karena para pemimpin partai politik, TNI dan Kepolisian, Ulama menuai badai
aksi,reaksi dan emosi rakyat mendorong kearah kehancuran dan kedaulatan negara.
Hal tersebut mendudukan kembali perempuan Indonesia setara bagi pembebasan
bangsanya, karena selama ini Kartini hanya dipandang sebagai pahlawan
perempuan dan bukan tokoh yang memberikan kontribusi penting bagi kebangkitan
nasional. Perjuangan Kartini dibelokkan penjajah untuk sekedar “memusuhi”
tatanan sosial dan politis yang diciptakan dan dikendalikan laki laki pribumi
(argumentasi Dri Arbaningsih salah satu Pendiri Aliansi Perempuan dan Kemitraan
Nasional Indonesia dalam Kartini dari sisi lain ; Melacak pemikiran Kartini
tentang emansipasi “Bangsa” 2005) akibat diterbitkannya Buku di Belanda 1911
berjudul Door Duis ternis tot Lich (DDTL) setelah Kartini meninggal 17
september 1904, untuk mengalihkan perhatian orang dari inti pemikiran dan
perjuangan kartini mengenai kebangkitan jawa sebagai suatu nasion (bangsa),
rasa nasion inilah yang menggugah rasa berbangsa pelajar STOVIA (sekolah dokter
Bumiputra) secara informal bersama Kartini dan
Roekmini membentuk Komunitas Jong Java yang telah digunakan Kartini sejak 1903.
Kiranya buku tersebut mempunyai agenda terselubung untuk mempraktekkan
pembunuhan karakter terhadap kartini sebagai tokoh nasionalis
prakemerdekaan,tragisnya buku DDTL sampai sekarang dijadikan referensi dominan
kepahlawanan Kartini, padahal DDTL jelas tidak mampu merefleksikan pemikiran,
keinginan, serta cita-cita Kartini secara keseluruhan (Bangsa ini menerima
begitu saja mentah mentah sejarah produk asing tanpa melakukan penelitian
sejarah nya sendiri) yang mana buku DDTL tidak lebih merupakan representasi
yang dilakukan Barat terhadap Timur sengaja menjadikan perjuangan Kartini
secara politis ditonjolkan pada sisi keperempuanannya saja, serta dengan
sistematis perjuangan Kartini yang berkenaan dengan kebangsaan disembunyikan.
Relevansinya dengan kekinian? Capres Independen sengaja tidak ada dalam pilpres
2004 padahal UUD 45 asli sangat menghormati HAM universal yang
non-diskriminatif berbunyi : “Semua warga negara sama kedudukannya di depan
hukum dalam pemerintahan negara “ apakah ini sebuah penghianatan terhadap
republik dan cita cita proklamasi? Ternyata ampuh dan sakti dalam prakteknya
pilpres 2004 gagal, tidak mencapai kesepakatan MPR 2005 sosialisasi UUD 45 ke
arah “pemerintahan presidensil” dan tujuan perubahan UUD 45 dengan cara
“addendum” sebab pilpres 2004 jumlah golput cukup besar.
Kolonialis berhasil berhasil membentuk kerangka berpikir pada kaum terjajah
yang menghasilkan wacana Kartini “tidak lebih pejuang bagi kaum perempuan
sendiri “ dan bukan “perempuan pejuang untuk pembebasan bagi bangsa.” Persatuan
Nasional terkotak-kotak, para pemimpin parpol bermental budak mengikuti
kerangka berfikir kaum penjajah, begitu juga politik identitas kultur import
Arab, Buya HAMKA pernah berkata : Janganlah jadi Pak Tiru !karena itulah krisis
identitas ke Indonesiaan harus kembali dimulai dari Keraton Jawa yang sekarang
ini kondisi Kasunanan Hadiningrat Surakarta dengan adanya 2 (dua) Raja dan
Jogjakarta Sri Sultan HB X kedua keraton tersebut bermasalah, dan Sri Sultan HB
X baru melepaskan jabatannya Oktober 2008, tidak mungkin memprakarsai
kebangkitan nasional, keluar dari krisis berkepanjangan dari krisis dunia.
Bung Karno ; “Revolusi Nasional Indonesia, tidak bisa dipisahkan dari revolusi
besar Internasional” Pura Mangkunegaran selayaknya memfasilitasi menjadi
pemersatu dinasti Mataram untuk rekonsiliasi Kerajaan Se -Nusantara melalui
Pengarus Utamaan Gender Titik Balik Peradaban “Kebangkitan Jawa untuk
Kebangkitan Nasional” dan DKI sebagai barometer politik nasional yang mana
Fauzi Bowo –Priyanto hasil koalisi PDIP dan Golkar belum menghasilkan perubahan
pelayanan publik yang memadai dengan konsep Megapolitannya bahkan Pilgub Jabar
tidak lagi tepat diberlakukan untuk JABODETABEK sebagai penyangga Ibu Kota,
Pilkada independen diskriminatif tidak berlaku seluruh indonesia kerja DPR dan
Pemerintah kedodoran, sedangkan DPD belum setara dengan DPR dalam membuat
legislasi dan dipihak lain pemerintahan belum mencapai ke “pemerintahan
presidensil” untuk penyederhanaan partai partai politik. Sebab hanya dalam
pemerintahan presidensil reformasi
birokrasi dapat dilakukan memberantas untuk korupsi, begitu pula tujuan
perubahan UUD 45 belum dengan cara “addendum”, hasil kesepakatan MPR 2005 yang
disosialisasikan Ketua MPR Hidayat Nurwahid dan Mooryati Sudibyo dengan
argumentasi banyak penyelenggara negara tidak faham konstitusi, mengapa hal ini
tidak dikritisi PKS dan partai2 politik di DPR ditujukan pada pemerintahan
SBY-YK pilpres 2004 tidak sah ? Legitimasi pemerintahan harus mencapai 50%
plus, konsensus! bagi rakyat miskin dan tertindas, diskusi kompas dan
pokja-pokja perempuan mempertegas perlunya Kepemimpinan Perempuan
Alternatif(26/11), revolusi rekayasa Ciganjur 98 tidak membawa kemaslahatan,
Indonesia mayoritas penduduk ber-agama Islam bersifat Universal sebagai agama
Pembebasan, sudah dicanangkan memperingati 2 Desember 2007 Hari Penghapusan
Perbudakan Internasional,Hari Ibu 22 Desember 07 Spirit Crisis of Women, Ajaran
Nabi Isa Kasih dan Damai 25/12-07 Hari Natal berdekatan
Tahun Baru Islam dan Jawa 1 Suro 2008, S.Al-Kahfi ayat 18 : Kau mengira bisa
bangun padahal mereka masih tidur nyenyak dan aku bolak balikan ke haluan kanan
dan haluan kiri hidup dalam kegelapan. Menunggu ? hanya ke sia-sia -an !
Hari Kartini 21 April 2008 dan Kebangkitan Nasional bermakna revolusi keadilan
sosial dari Timur lahirnya pemimpin bangsa dan spiritual (Sayidina
Panatagama), era global saatnya menjadi era spiritual kebangkitan agama agama
sedunia untuk keadilan dari kesewenang-wenangan, budaya yang menindas kaum
perempuan, miskin,tertindas,terpinggirkan masyarakat laki-laki dan anak-anak.
Dan hanya Allah yang Adil, ajaran agama Islam itu satu. “ Habis Gelap,
Terbitlah Terang.”
Berar For President 2009-2014
ke MDGs 2015