Waduh, kalau ini sy terapkan di Sumbar 2, bisa lari org. Sy msh belum mudeng dg 
istilah2 hebat ini. Seolah parpol itu benar perusahaan, seolah benar politisi 
itu produk, seakan pemilih itu pembeli utk kebutuhan tersiernya, etc. 

Kasihan parpol dan politisi, diperjualbelikan spt ini. 

Ijp
Ente beli, ane gak jual. 




Sent from my BlackBerry� wireless device from XL GPRS network

-----Original Message-----
From: "Agus Hamonangan" <[EMAIL PROTECTED]>

Date: Sun, 31 Aug 2008 07:51:51 
To: <[email protected]>
Subject: [Forum Pembaca KOMPAS] Hai Parpol, Jadilah Sniper, Bukan Rambo


http://www.kompas.com/read/xml/2008/08/28/07050141/hai.parpol.jadilah.sniper.bukan.rambo

JAKARTA, KAMIS - Selayaknya sebuah perusahaan, partai politik juga
memerlukan jurus marketing jitu dalam memasarkan program dan janjinya.
Salah satu jurusnya, setiap parpol harus melatih juru marketingnya
menjadi penembak jitu (sniper), bukan menjadi rambo.

Hal ini diungkapkan oleh Pakar Marketing, Hermawan Kartanegara, saat
memberikan pemaparan tentang Political Marketing dalam acara Kompas
Political Gathering di Bentara Budaya Jakarta, Rabu (27/8) malam.

Menurut dia, parpol harus menentukan siapa yang menjadi sasarannya.
Parpol tidak boleh serakah dengan menembak seluruh kalangan, seperti
halnya rambo. Parpol harus tahu kalangan mana yang cocok dengan
programnya. "Kalau bukan sasaran kita, tinggalin saja. Orang marketing
itu diajarin jadu sniper, bukan jadi rambo," ujarnya.

Hal ini merupakan salah satu dari 12 cara jitu untuk melumpuhkan para
pemilih dalam pemilihan umum 2009 nanti. Jurus pertama adalah 4C,
Change, Competitor, Customer, dan Company. Dia mengatakan meski rezim
Soeharto telah runtuh, keadaan masih tetap saja, dalam artian
demokrasi masih belum merata. Untuk maju, kadernya harus berubah
sehingga Indonesia mampu berubah.

"Seperti Partai Damai Sejahtera, yang 30 persen calegnya itu nonmuslim
dan PKS yang sudah mulai menerima kader dari nonmuslim," jelasnya.

Menurut dia, parpol juga harus meniru Kapal Api (kopi). Kapal api
mengakui, lanjutnya, mereka bukanlah yang terbesar di Indonesia. Tapi,
mereka adalah produk yang terbesar jumlahnya di daerah-daerah. Ini
digunakannya untuk menjelaskan, parpol (terutama parpol kecil)
sebaiknya menguatkan diri di daerah-daerah. Sebab, costumer (pemilih)
berada di daerah-daerah.

Lalu, parpol juga jangan hanya menyediakan juru kampanye (jurkam)
untuk menggaet pemilih di daerah. Parpol harus memiliki field
marketing, yaitu orang yang menguasai daerah, tahu kompetitornya, dan
tahu apa visi serta misi partai.

Jurus marketing selanjutnya adalah positioning, differensiasi, dan
brand. Positioning menyangkut janji-janji serta strategi.
Differensiasi lah yang kemudian akan memperkuat positioning. Setelah
itu, terciptalah suatu brand.

"Parpol ambil satu saja spesifikasi. Misalkan tiru saja BMW yang
mengukuhkan sebagai Luxury Car. Jangan diambil semua, mobil yang aman,
nyaman, indah, dan lain-lain. Ambil saja satu. Terus, jangan tiru
mobil Timor. Positioning sudah ada, dia mengatakan sebagai mobilnya
Indonesia. Tapi differensiasi tak ada karena ternyata dia dibuat di
Korea, sehingga brand tak terbentuk," tuturnya.

Selain itu, Hermawan juga membocorkan empat jurus lainnya yang harus
dipraktikkan oleh parpol agar sukses di pemilihan presiden nanti.
Menurut dia, parpol harus menentukan siapa segmentasinya, sehingga
dapat menentukan strategi perang. Segmentasi yang cocok untuk parpol,
terutama parpol kecil, adalah inovator dan visioner.

Parpol juga harus menggunakan semua elemen komunikasi untuk berperang.
Cari, jelasnya, program yang menguras biaya kecil, tapi berdampak
besar. "Kemudian, pikirkan apa yang akan dijual. Biasanya setelah
menang ada dua golongan partai. Ada yang membuang janjinya dan ada
yang mengonsultasikan apa yang bisa diberi oleh partai. Nah, jadilah
yang kedua ini," tukasnya.

Hermawan juga mengatakan gunakan berbagai cara untuk menjual 'produk'.
Hal yang paling sering dan paling rendah dampaknya adalah
membagi-bagikan souvenir, entah berupa kaos, sarung, atau hanya
sekedar rokok. Yang sedang populer saat ini, parpol menggunakan artis
untuk 'berjualan'. "Namun, tingkatan paling tinggi adalah menjual ide
atau gagasan," lanjut Hermawan.

BOB


Sent from my BlackBerry � Wireless device from XL GPRS/EDGE/3G Network 




[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke