Oleh Hermawan Kartajaya 
http://kompas.com/read/xml/2008/10/01/0009396/the.ark.of.noah.sensing.the.god


SALAH satu kisah zaman nabi-nabi yang paling terkenal, baik di
kalangan Muslim maupun Nasrani, adalah kisah banjir besar pada zaman
Nabi Nuh. Sebelumnya mohon maaf kalau mungkin saya ada kekeliruan
dalam menyampaikannya. Tapi inti kisahnya kira-kira begini.

Pada masa kenabian Nabi Nuh, banyak orang yang sudah tidak mematuhi
perintah Tuhan lagi. Walaupun Nabi Nuh sudah berupaya keras, namun
orang-orang ini tetap tidak mau patuh. Nabi Nuh pun berdoa kepada
Tuhan agar orang-orang ini mendapatkan ganjaran yang setimpal.

Suatu ketika, Nabi Nuh mendapatkan perintah dari Tuhan untuk membuat
sebuah bahtera. Nabi Nuh pun segera mengumpulkan para pengikutnya dan
mereka semua kemudian membuat bahtera tersebut di sebuah lokasi yang
jauh dari laut atau sungai. Karena itu, tak sedikit yang mencemooh dan
mengejek Nabi Nuh beserta para pengikutnya ini. Kenapa bikin bahtera
kok bukan di tepi laut atau sungai?

Nabi Nuh tetap bergeming dan tidak mempedulikan olok-olokan tadi.
Beliau beserta para pengikutnya terus mengerjakan bahtera tadi sampai
selesai. Ketika bahtera itu selesai, Nabi Nuh mendapat perintah dari
Tuhan agar beliau beserta para pengikutnya naik ke bahtera itu. Nabi
Nuh juga diperintahkan untuk mengangkut berbagai hewan dan
tumbuh-tumbuhan yang ada di muka bumi saat itu.

Setelah semua penumpang tadi ada di bahtera, seketika datanglah hujan
yang sangat lebat selama lebih dari seratus hari. Terjadilah banjir
besar yang melanda seluruh permukaan bumi. Kaum yang menentang Nabi
Nuh tadi pun meninggal semua, tenggelam ditelan banjir. Pada akhirnya,
banjir pun surut. Bahtera tadi berlabuh di daratan yang sudah bebas
banjir, dan Nabi Nuh beserta para pengikut setianya bisa memulai
kehidupan yang baru.

Lantas, apa pelajaran yang bisa dipetik dari kisah Bahtera Nabi Nuh
(the Ark of Noah) ini? Kisah ini memberikan inspirasi bahwa perusahaan
itu harus siap sebelum terjadi krisis. Walaupun orang lain tidakâ€"atau
mungkin belumâ€"merasakan adanya bahaya, namun perusahaan yang sudah
punya sense yang kuat akan tetap membangun “bahtera”. Perusahaan
seperti ini mungkin malah sudah punya “early warning system” sehingga
bisa lebih siap dalam menghadapi “tsunami”.

Kita pun mengenal istilah Murphy’s Law, “If anything can go wrong, it
will.” Ini menunjukkan bahwa kalau kita sudah merasakan bakal terjadi
masalah, biasanya masalah itu akan benar-benar terjadi.

Seperti saya uraikan dalam tulisan sebelumnya, hanya mereka yang punya
“Mind of Strategist & Sense of Marketer”-lah yang akan mampu bertahan.
Orang-orang seperti ini sudah punya sense bahwa akan terjadi
perubahan, dan mereka bisa menyiapkan diri untuk menghadapi perubahan
tersebut. Ada satu contoh yang bagus tentang perusahaan yang sudah
punya “Mind of Strategist & Sense of Marketer” ini.

Pada awal tahun 2007 Honda Prospect Motor yang menjadi ATPM mobil
Honda di Indonesia pernah melakukan penarikan (recall) sekitar 15 ribu
unit mobilnya dari pasar. Penarikan ini dilakukan untuk penggantian
dan penambahan sejumlah komponen pada mobil terkait.

Langkah penarikan ini merupakan langkah proaktif Honda sebelum timbul
masalah yang lebih besar. Saat itu sendiri sebenarnya keluhan dari
konsumen relatif tidak berarti. Publikasi secara terbuka tentang
langkah penarikan ini juga bisa dimanfaatkan oleh pesaing. Namun,
Honda tetap melakukannya dan terbukti kemudian bahwa langkah ini
justru membuat Honda mendapatkan publikasi yang positif dan tetap
dipercaya oleh pelanggan.

Bisa kita lihat bahwa Honda sudah bisa merasakan bakal muncul masalah
dan langsung bertindak cepat untuk mengatasi potensi masalah tersebut.
Sensing ini memang semakin diperlukan di tengah lanskap New Wave yang
semakin tidak pasti. Informasi yang melimpah-ruah bukannya membantu
orang untuk lebih pasti, namun justru membuat keadaan semakin tidak pasti.

Inilah yang disebut sebagai “Paradox of Choice”. Semakin banyak
informasi atau pilihan yang ada justru membuat pengambilan keputusan
semakin sulit atau malah membuat orang tidak bisa mengambil keputusan
sama sekali. Seperti yang dikatakan Simon Chadwick, CEO Research
International yang berbasis di Inggris, “The more you know, the less
you know how to deal with it.”

Maka, untuk menyaring informasi yang banyak ini, kita harus terus
mengasah sense kita. Sense inilah yang akan bisa memilah, mana
informasi yang tepat, yang kurang tepat, atau yang salah sama sekali.
Kepekaan sense ini akan meningkat seiring dengan semakin kayanya
“reservoir of wisdom” kita. “Reservoir of wisdom” kita akan semakin
kaya jika diasah dengan pengalaman demi pengalaman.

Jadi, sekali lagi saya tekankan, hanya mereka yang bisa merasakan
adanya masalah dan punya kemauan untuk berubahlah yang akan mampu
mengarungi lanskap New Wave yang serba tidak pasti ini.

Kirim email ke