Di negara yang tradisi intelektualnya telah sedemikian maju dan 
berkembang maka dalam berdiskusi atas sebuah gagasan orang tidak lagi 
menghabiskan waktu untuk menyamakan pemahaman terhadap berbagai kata, 
istilah atau terminologi yang berkaitan dengan gagasan tersebut.

Terhadap sebuah kata, istilah atau terminologi ada sekian buku yang 
telah ditulis. Dan--ini yang lebih penting--sebagian besar dari buku-
buku itu telah pula dibaca oleh peserta diskusi. Jadi kalau sebuah 
gagasan berkaitan dengan--misalnya--
kata "demokrasi", "pluralisme", "liberal" maka orang sudah memiliki 
pemahaman yang sama tentang apa 
itu "demokrasi", "pluralisme", "liberal". Peserta diskusi tinggal 
terfokus kepada upaya bagaimana mengembangkan gagasan yang sedang 
didiskusikan tersebut.

Tapi di Indonesia--yang tradisi intelektualnya belum begitu maju dan 
berkembang--atas sebuah kata, istilah atau terminologi acapkali belum 
ada buku yang ditulis atau diterjemahkan. Atau--kalau pun bukunya 
ada, baik yang ditulis oleh pengarang Indonesia atau pengarang asing--
tak banyak pula orang Indonesia yang suka membaca buku. Walhasil 
diskusi lebih banyak terpakai untuk menyamakan pemahaman tentang 
pengertian suatu kata atau istilah. Atau--ini yang lebih cilaka--
diskusi jadi "tak nyambung" karena masing-masing orang memiliki 
pemahamannya sendiri. Saya memahami "pluralisme" seperti ini, kawan 
saya di sebelah sana memahaminya seperti itu. Saya memahami "civil 
society" seperti ini, kawan saya di sebelah sana memahaminya seperti 
itu. Saya memahami "pornografi" seperti ini, kawan saya di sebelah 
sana memahaminya seperti itu, dst. 

Kadang-kadang disebabkan karena tidak ada buku yang bisa dipakai 
sebagai rujukan, atau karena memang malas membaca buku, maka kita pun 
suka dan "tega" untuk melakukan diskusi terhadap sebuah gagasan besar 
hanya bermodalkan kata-kata mutiara, percikan pemikiran atau 
quotation di seputar gagasan tersebut.

Hal-hal seperti yang saya uraikan di atas itu jugalah yang saya 
tangkap ketika membaca tulisan berjudul gagah "Kritik Mendasar 
Terhadap Kaum Liberal" karya Ramos Levi L. Toruan yang diaransemen 
oleh Satrio Aris Munandar ini.

Saya tidak mengerti siapa yang dimaksudkan oleh si penulis 
dengan "kaum liberal" itu. Menurut pemahaman saya "kaum liberal" 
dalam pengertian teologi berbeda dengan dalam pengertian politik, 
ekonomi, dsb. Tapi karena si penulis menyebut-nyebut "secular 
liberalism" (entah makhluk apa pula itu) maka saya menyimpulkan dia 
sedang membicarakan tentang "kaum liberal" dalam pengertian teologi. 

Lalu kritik yang dilontarkannya itu, kritik apa pula itu? Kritik 
teologi, kritik filsafat (yang juga masih bisa dipilah-pilah 
atas "truth", moral, etika dsb), kritik bahasa, atau apa?

Karena beberapa teolog (Islam) liberal di Indonesia suka memakai kata-
kata mutiara "everything is equally right", "I disagree with you and 
I believe you are wrong, but I accept you and I extend to you the 
right to be wrong" dsb sebagai hiasan esai-esai mereka, maka dengan 
gampang si penulis menganggap itulah yang menjadi esensi pikiran kaum 
liberal tersebut, lalu melancarkan kritikan filsafatnya (tapi entah 
dari aspek "truth", moral, atau etika, tak jelas bagi saya). Padahal 
menurut hemat saya, dengan pisau bedah yang sama (baca: sama 
tumpulnya), hasilnya juga akan sama saja kalau dipakai untuk membedah 
kaum fundamentalis (dalam teologi, fundamentalis adalah lawan dari 
kata liberal). 

Tapi OK-lah, saya anggap sajalah Satrio Arismunandar (dengan memakai 
otak dan mulut Ramos Levi L. Toruan) sedang melakukan kritikan 
filsafat yang mendalam dan sungguh-sungguh terhadap kaum liberal. 
Tapi cilakanya semua pikiran dan tokoh filsafat yang dijejerkan dalam 
tulisan itu dianggap salah juga oleh si penulis. Sementara saya pun 
tak berhasil menangkap mana pikiran si penulis sendiri. 

Walhasil saya tiba pada kesimpulan: Tulisan ini adalah sebuah kritik 
kaum teolog fundamentalis terhadap kaum teolog liberal. Tapi 
sayangnya kritik itu tidak dilakukan secara teologi, tapi justeru 
secara filsafat yang notabene tidak dikuasainya, dan hanya dengan 
bermodalkan referensi kata-kata mutiara atau percikan permenungan 
yang diambil dari "search engine" Google atau Wikipedia. 

Dan berbeda dengan apa yang dikatakan oleh Satrio Aris Munandar dalam 
postingannya, saya justeru mengatakan: Tulisan ini tidak mendasar, 
tapi hanya mengawang-awang tak jelas. Dan tak kuat.

Horas,

Mula Harahap

(Karena tak terlalu paham dengan filsafat dan teologi, lebih suka 
menulis cerita yang beo-bego tentang kehidupan di masa kecil).

NB:

Baru-baru ini saya menghadiri sebuah diskusi yang membicarakan 
tentang kemungkinan terjunnya para aktivis "Ornop dan LSM Pro-
Demokrasi" dalam politik praktis. Dalam diskusi itu berkali-kali 
terlontar istilah "kontrak politik".

Seorang Jerman (baca: orang yang berpikir) yang duduk di sebelah saya 
bertanya kepada saya, "Kontrak sosial saya mengerti. Tapi kontrak 
politik itu apa pula?"

Kepada Si Jerman saya menerangkan bahwa "kontrak politik" adalah 
sebuah fenomena khas Indonesia, yaitu ketika para calon gubernur atau 
bupati menandatangani di atas kertas bermeterai sebuah perjanjian 
dengan para calon pemilihnya bahwa kalau nanti terpilih dia akan 
melakukan tugasnya dengan baik.

Si Jerman manggut-manggut. Tampaknya dia mengerti. Tapi kemudian dia 
bertanya lagi, "OK-lah, perjanjian itu ditandatangai di atas kertas 
bermeterai. Tapi kalau seandainya Si Gubernur atau Si Bupati terpilih 
tidak menepati janjinya, lalu apa yang akan terjadi? Bisakah dia di-
"impeach" oleh konstituennya? Political contract? I still don't 
understand it...."

Kata saya, "Itulah hebatnya kami orang Indonesia. Sarat dengan 
verbalisme...." 

   



Satrio Arismunandar:

KRITIK MENDASAR TERHADAP KAUM LIBERAL

Di bawah ini adalah kutipan pernyataan sdr. Ramos Levi L. Toruan, 
yang saya kutip dari 
http://www.new.facebook.com/note.php?note_id=41245785928.

Ucapannya yang terpotong-potong, saya sambung, dan saya beri judul di 
atas. Saya anggap pernyataannya amat penting, karena merupakan kritik 
mendasar terhadap pandangan kaum liberal dari sudut falsafah.  
Mungkin bahasanya  bukan seperti artikel yang runtun, karena saya 
kutip dari komentar di situs tersebut. Tapi saya yakin, isinya sangat 
kuat. Terimakasih buat Sdr. Ramos.


Kirim email ke