Benarkah laskar pelangi suatu gambaran heroik meminjam istilah Albert Camus sbg " L'Homme Revolte " ? Terlalu "datapitara" bilamana kita memasuki ranah Camus tersebut. Faktual disekeliling kita tidak hanya fenomenal namun suda seharusnya " perlawanan murni " tanpa dibarengi rekonsiliasi ataupun kebersamaan. Faktual tdk hanya berharap dan berharap terus sebagai suatu " sambega " yang semu saja. Faktual tidak melulu harus "menempel" cita cita, harapan harapan, keinginan keinginan dari potongan gambar, potongan kertas, catatan impian seperti dalam buku " the secret " itu. Faktual tidak ingin "laskar pelangi " itu menjadi monumental semu, sebatas ditonton, ditangisi, dielu-elu, disanjung, dikomentari sampai habis rasa kasihan kita, namun bisa terjadi disekeliling kita sampai saat ini masih dapat dijumpai "laskar pelangi" lainnya yang secepatnya ditangani bukan perlu monisi atau ada juga yang nonkomital , takut hanya "omdo" ataukah bisa saja pada akhirnya keadilan mungkin bisa saja meminta utuk menyingkirkannya. Tragis tapi bisa menjadi faktual inheren jika tanpa dibarengi " laskar kebebasan". Faktual harus berani melekat tradisi minimalis setidaknya akal budi dan keberanian, karena sbg mahluk hidup yang sempurna yang gigih mencari makna. Faktual " laskar pelangi" memiliki kebenaran manusiawi dan tugas kita semua kedepannya untuk membuktikan kebenaran manusiawi itu.
