http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/10/04/01082969/godaan.menjadi.presiden.terlalu.besar

Jakarta, Kompas - Godaan untuk terus menjadi presiden terlalu besar
untuk diabaikan. Keinginan untuk berkuasa menjadi pendorong utama bagi
kelompok elite politik untuk terus berkompetisi memperebutkan posisi
presiden. Bahkan, jika perlu, dengan mengingkari pandangan politik
sebelumnya.

Direktur Eksekutif Pusat Pengkajian Strategis Merdeka (PPS Merdeka)
Boni Hargens, Jumat (3/10) di Jakarta, menyebutkan, elite politik di
Indonesia kebanyakan tidak memiliki imajinasi demokrasi, di mana
prinsip kesejahteraan umum dan kejujuran terhadap rakyat mesti
dikedepankan. Mereka lebih banyak dirasuki pragmatisme yang berlebihan
sehingga mereka terbiasa menabrak rambu-rambu etika berpolitik.

Boni yang juga pengajar ilmu politik di Universitas Indonesia (UI)
menilai pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono dan M Jusuf Kalla telah
gagal mengemban amanat rakyat. Langkah paling ideal, keduanya tidak
lagi maju dalam Pemilihan Umum 2009. Toh faktanya, terdapat kader di
Partai Demokrat dan Partai Golkar yang mumpuni dan bisa menggantikan
keduanya untuk diajukan sebagai calon dalam Pemilu 2009. Majunya
Yudhoyono dan Kalla menjadi cermin sirkulasi elite yang tersendat.
”Yang terjadi malah tidak ada konsistensi dalam bersikap,” ujar Boni.

Catatan Kompas, Yudhoyono dalam posisi sebagai calon presiden saat
menerima seluruh pengurus Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Ikatan Mahasiswa
Muhammadiyah (IMM), 31 Agustus 2004, mengaku sanggup dan siap menjadi
presiden hanya dalam satu periode. Namun, seperti disebutkan Ketua
Umum IMM Ahmad Rofiq, Yudhoyono tetap berpegang pada mekanisme
demokrasi, di mana kedaulatan berada di tangan rakyat. Yudhoyono
menghormati mekanisme demokrasi, tetapi satu atau dua periode yang
akan menentukan adalah rakyat yang memiliki kedaulatan.

Sementara Direktur Eksekutif Indo Barometer M Qodari menilai, niat
Yudhoyono maju lagi dalam Pemilu 2009 kemungkinan didorong rasa
percaya diri yang naik karena harga minyak dunia yang turun dan indeks
persepsi korupsi Indonesia versi Transparency International Indonesia
yang membaik. Yudhoyono pastilah meniatkan koalisi agar jangan
terkesan sendirian. Semakin tinggi syarat pencalonan, semakin berat
tugas koalisi karena semakin banyak parpol yang mesti disertakan.

Ketua Partai Demokrat Anas Urbaningrum secara terpisah menyatakan,
Yudhoyono bersedia maju lagi karena perubahan yang baik perlu
dilanjutkan dan dijaga kontinuitasnya. Kemajuan dan perbaikan keadaan
layak dilanjutkan lima tahun lagi.

Soal koalisi, Partai Demokrat tidak ingin bekerja sendirian. Pasangan
Yudhoyono ditentukan oleh faktor kecocokan, kekompakan kerja,
pembicaraan partai politik koalisi, dukungan rakyat, dan efektivitas
pemerintahan. ”Siapa orangnya ditetapkan setelah pemilu legislatif dan
terbuka untuk tetap dengan JK,” kata Anas.

Sementara Ketua Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (F-PKS) DPR Mahfudz
Siddiq mengapresiasi pernyataan Yudhoyono mengenai kesiapannya maju
dalam Pemilu 2009. Semakin awal menyatakan hendak maju, Yudhoyono
pastilah akan tergenjot memacu kinerja. (dik)

Kirim email ke