Oleh BUDIARTO SHAMBAZY
http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/10/04/02145469/obama.dan.orde.baru



Peluang Barack Obama terpilih jadi presiden yang ke-44 makin besar
setelah cawapres Senator Joe Biden memenangi debat, Kamis (2/10).
Lawannya, Gubernur Sarah Palin ibarat ”lolos dari lubang jarum”.

John McCain, kubu Republik, dan kalangan konservatif paling tidak bisa
menarik napas lega. Palin tampil memadai kendati berdampak nol
terhadap kenaikan popularitasnya.

Sebelum debat, sejumlah tokoh Republik mengimbau Palin mundur dari
pencalonan. Blunder fatal terakhir Palin terungkap saat diwawancarai
wartawan teve CBS, Katie Couric, pekan ini.

Palin, Gubernur Alaska, tak ingat nama-nama koran yang dia lahap tiap
hari. Jangan-jangan sarjana jurnalistik yang pernah jadi penyiar teve
ini enggak baca koran.

Ia gagal menjawab pertanyaan tentang keputusan-keputusan Mahkamah
Agung (MA) yang ditolaknyaâ€"kecuali hak aborsi. Padahal, ada sederet
keputusan: school prayer, pernikahan antarsesama jenis, riset sel
induk, dan seterusnya.

Kelewatan pejabat tinggi enggak ngerti apa yang dikerjakan MA. Tak
mengherankan media massa tiap hari tak henti mengolok-olok Palin.

Sedari awal McCain berjudi memilih Palin yang belum genap dua tahun
memimpin Alaska yang berpenduduk hanya sekitar 700.000 jiwa. Jabatan
wapres terlalu penting kalau McCain, jika terpilih, tutup usia.

McCain penderita kanker kulit. Seperti George W Bush sebelum jadi
presiden tahun 2000, Palin belum pernah ke luar negeriâ€"kecuali ke
Kanada dan Meksiko.

Ia baru punya paspor tahun lalu, baru saja dipakai mengunjungi pasukan
AS di perbatasan Irak. Saat debat melawan Biden tampak kesamaan lain
Palin dengan Bush, yakni keliru mengucapkan nu-clear dengan nu-cu-lar.

Bisa dibayangkan tanggung jawab Palin sebagai presiden/panglima
tertinggi atas tas khusus berisi tombol-tombol peluncur rudal nuklir.
AS bukan Trinidad-Tobago, tetapi satu-satunya negeri adidaya di dunia.

Jumlah hulu ledak nuklirnya puluhan ribu tersebar di angkasa, di dasar
berbagai samudra, dan di negara-negara NATO. Pasukannya digelar bukan
cuma di Irak dan Afganistan, tetapi juga di Eropa, Asia, bahkan di Afrika.

Ketika Couric menanyakan sikapnya terhadap rencana bailout 700 miliar
dollar AS untuk Wall Street, jawaban Palin mengundang tanda tanya. Ia
tiba-tiba mengaitkan dana talangan itu dengan jaminan kesehatan dan
lowongan kerja, membuat Couric mengernyitkan dahi.

Couric masih sopan, beda dengan komentator-komentator lain yang
”sadis” mengomentari amatirisme Palin. Singkatnya, ”fenomena Palin”
selama dua pekan terakhir ini lebih menghebohkan daripada skandal-
skandal Hollywood.

Sekali lagi, penampilan Palin dalam debat versus Biden cukup
melegakan. Kualitasnya pas-pasan dan, yang paling penting, ia telah
menjadi dirinya sendiri tanpa dibuat-buat.

Ia tak lagi membuat wajah bangsa AS merah padam sehingga muncul
simpati dari berbagai kalangan. Kecuali dari kalangan Republik, makin
sedikit yang bertekad memilih duet McCain-Palin.

Debat itu jadi exit strategy yang bermartabat bagi McCain-Palin. Masa
depan politik Palin akan sangat cerah.

Berbagai survei membuktikan selisih persentase popularitas Obama atas
McCain menanjak sampai 2 digit. Sebagian survei bahkan mengungkapkan
keunggulan Obama telah melebihi 50 persenâ€"rekor baru.

Angka itu digaet Obama 4,5 pekan sebelum 4 November. Prestasi ini tak
bisa dicatat dua capres dari Demokrat terakhir yang ikut pilpres, Al
Gore tahun 2000 dan John Kerry (2004).

Tentu saja situasi bisa berbalik 180 derajat jika hal yang paling
menakutkan terjadi, yakni apa yang disebut dengan ”kejutan Oktober”.
Keunggulan Kerry atas George W Bush pupus hanya beberapa hari sebelum
4 November karena video Osama bin Laden tiba-tiba muncul.

Semoga kali ini tak ada kejutan karena mayoritas bangsa dunia
mendambakan Obama yang terpilih. Survei majalah Inggris, The
Economist, belum lama ini menunjukkan Obama menang mutlak di berbagai
negara.

Di Indonesia, angka itu bulat 100 persen, memperlihatkan kedekatan
emosional Obama dengan bangsa ini. Bagaimana hubungan bilateral
Indonesia-AS jika Obama jadi presiden?

Pada tahun pertama pemerintahannya Obama disibukkan berbagai masalah
domestik, terutama ekonomi. Kondisi pasar kredit tetap buruk sekalipun
UU dana talangan untuk Wall Street diloloskan Kongres, Sabtu ini.

Masalah domestik penting lainnya penarikan pasukan dari Irak dan
ikhtiar menciduk Osama. Banyak PR Obama, termasuk menghadapi Iran,
Rusia, Timur Tengah, dan ”Chindia” (China dan India).

Alhasil, konsentrasi Obama ke sini baru dimulai setahun setelah
dilantik. Dan, biasanya presiden dari Partai Demokrat akan menyoroti
kondisi HAM di sini.

Di buku The Audacity of Hope Obama menyesalkan ulah militerisme dan
korupsi Orde Baru sebagai penelantar kesejahteraan rakyat. Tema itu ia
ulangi dalam wawancara dengan Fareed Zakaria di CNN belum lama ini.

Korupsi dan militerisme Orde Baru menyuburkan terorisme. Wajar jika
Obama, yang berkepentingan menjaga konsolidasi demokrasi
Pemilu/Pilpres 2009, ingin ikut serta menamatkan riwayat Orde Baru.

Sisa-sisa Orde Baru masih banyak, baik orang-orangnya,
institusi-institusinya, maupun sempalan-sempalannya. Itulah manfaat
Obama bagi demokrasi kita.

Kirim email ke