Oleh Hermawan Kartajaya 
http://www.kompas.com/read/xml/2008/10/04/13435922/charles.darwin.are.you.happy.now



“When a big new idea emerges that changes the way people look at the
world, it’s easy to feel that every old idea, every certainty, is
under attack and then to do battle against the new insights.”

Itulah yang diucapkan Rev. Dr. Malcolm Brown dari Church of England
ketika secara resmi menyampaikan permintaan maaf kepada Charles Darwin
karena telah salah memahami pendapat Darwin. Dr. Brown menambahkan
bahwa sebelumnya pihak gereja juga telah salah memahami pendapat
Galileo. Pernyataan ini dikemukakannya pada tanggal 15 September 2008
lalu.

Memang, dalam bukunya On the Origin of Species, Darwin sempat
menimbulkan kontroversi dengan pandangannya bahwa semua makhluk hidup
yang ada sekarang merupakan keturunan dari makhluk hidup sebelumnya
yang hidup di masa lampau. Terjadi evolusi melalui proses seleksi
alam. Jadi, tidak ada makhluk hidup yang muncul dengan tiba-tiba.

Pandangan ini bertentangan dengan pandangan creationism yang dianut
gereja saat itu. Sejumlah pihak selain Darwin kemudian juga
memanfaatkan Darwinism ini untuk menyerang gereja di Inggris, Church
of England itu. Tak pelak, sempat terjadi perdebatan yang cukup tajam
antara pihak gereja dengan sejumlah orang yang mendukung Darwin.

Nah, kisah ini bisa memberikan inspirasi bahwa kita harus lebih
berorientasi kepada masa depan ketimbang masa lalu. Gereja berani
mengoreksi kekeliruan yang mungkin telah dilakukannya di masa lampau
terhadap Darwin dan Galileo. Pihak gereja ingin menghadapi masa depan
tanpa terbelenggu oleh ‘beban’ sejarah masa lalu. Karena itu, analisis
lanskap bisnis seharusnya dilakukan dengan pendekatan
Threat-Opportunity-Weakness-Strength (TOWS), bukan SWOT.

Kalau kita mulai mengidentifikasi Strength dan Weakness terlebih
dahulu, yang merupakan faktor-faktor internal, maka orientasinya bisa
bias. Dengan mengacu ke Strength-Weakness, berarti kita mengacu kepada
masa sekarang atau malah masa lampau.

Banyak perusahaan yang membangga-banggakan legacy-nya sebagai
perusahaan yang sudah besar dan punya sejarah hebat. Coba saja lihat
perusahaan-perusahaan seperti Lehman Brothers, Merrill Lynch atau
American International Group (AIG). Mereka semua punya kejayaan masa
lalu yang sangat kuat. Mereka punya merek yang kuat, analis-analis
yang hebat, aset besar, cakupan bisnis global, dan sebagainya. Namun
bisa kita lihat sekarang bahwa satu per satu perusahaan ini bertumbangan.

Kekuatan saat ini dan reputasi masa lalu belum tentu relevan untuk
masa depan. Begitu juga kelemahan masa kini. Misalnya saja kita tidak
bisa berbahasa Inggris, belum tentu ini jadi kelemahan di masa depan
yang mungkin lebih memerlukan bahasa Mandarin karena pusat kekuatan
akan bergeser ke Asia. Threat dan Opportunity juga tidak bisa
merupakan proyeksi dari masa sekarang atau masa lalu karena bisa saja
terjadi diskontinuitas.

Pada buku Rethinking Marketing yang saya tulis bersama-sama Philip
Kotler, Prof. Hooi Den Huan dari Nanyang Business School Singapura,
dan Prof. Sandra Liu dari Purdue University Amerika, kami juga
menggunakan pendekatan TOWS karena bagi kami pemasaran itu
berorientasi ke masa depan. Dan masa depan belum tentu merupakan
proyeksi dari sekarang.

Tapi, penentuan visi (visioning) masa depan ini juga tidak boleh
terlalu panjang. Pada era New Wave yang berubah sangat cepat ini,
visioning paling panjang barangkali cukup tiga tahun saja. Karena akan
susah sekali membayangkan lanskap bisnis pada jangka waktu yang 
terlalu panjang.

Dari hasil visioning inilah kita mulai dengan analisis Threat dan
Opportunity tadi supaya kita tetap terus waspada. Masih ingat kisah
Andy Grove yang mampu melihat ancaman dan peluang di lanskap bisnis
saat itu sehingga langsung mengubah fokus bisnis Intel dari bisnis
memory ke mikroprosesor?

Nah, baru setelah itu Weakness dan Strength kita bandingkan antara
posisi saat ini dengan posisi berdasarkan visioning pada 3 tahun atau
bahkan cukup 1 tahun lagi dari sekarang. Kalau Anda tidak percaya
bahwa visioning ini tidak usah terlalu panjang jangka waktunya, lihat
saja lanskap bisnis selama tahun 2008 ini.

Harga minyak dan komoditas naik turun nggak karuan seperti
roller-coaster. Indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek
Indonesia juga turun terus selama tahun 2008 ini sampai sempat
menyentuh angka di bawah 2000, padahal di awal tahun sempat terbersit
harapan bahwa IHSG bisa melampaui angka 3000.

Ini semua membuktikan bahwa visioning untuk satu tahun saja sudah
sangat sulit. Jadi, di lanskap New Wave ini, pendapat “survival of the
fittest”-nya Darwin rupanya masih berlaku. Bukan yang paling kuat atau
yang paling pintarlah yang akan bertahan. Namun, yang paling bisa
beradaptasi dengan perubahanlah yang akan menang.

Kirim email ke