Ketika angkutan umum (bus AKDP - AKAP, travel, angkota, maupun angkudes) tidak 
menarik lagi karena tidak memberi kenyamanan dan kepastian, di samping juga 
karena minim dan mahalnya, maka orang akan memilih sarana angkut yang praktis; 
salah satunya (mungkin satu-satunya, khususnya bagi keluarga ekonomi pas-pasan) 
adalah sepeda motor. Selain sebab tadi masih ada unsur pendorong lainnya yaitu 
kemudahan dalam proses kepemilikan sepeda motor untuk saat ini. Murah, praktis, 
mudah, mobile, dll. Memang risikonya lebih besar. Tapi mau apalagi ketika dari 
tahun ke tahun tidak ada perubahan serius dalam pembenahan sektor transportasi 
umum di negeri ini. Siapa yang paling bertanggungjawab dalam hal ini?

Satu contoh sederhana kalau itu menyangkut keamanan jalan (jalan yang 
baik/layak untuk perjalanan arus mudik dan balik), entah Lebaran-nya di bulan 
Desember atau di awal bulan Oktober seperti tahun ini, selalu saja masalah 
perbaikan jalan ditempatkan pada minggu-minggu mepet dengan hari-hari H arus 
mudik atau hari H Lebaran sehingga pada saatnya digunakan perbaikan jalan belum 
selesai dan dalam pengalaman banyak korban jatuh disebabkan oleh kondisi jalan 
yang masih rawan menjadi penyebab kecelakaan. Sampai kapan kebiasaan seperti 
itu akan berakhir? Kapan akan terjadi pembenahan dan penanganan yang serius 
mengenai hal ini?

salam - selamat 'Idul Fitri 1429 H' - edy


  ----- Original Message ----- 
  From: Martinus Setiabudi 
  To: [email protected] 
  Sent: Saturday, October 04, 2008 8:10 PM
  Subject: Re: [Forum Pembaca KOMPAS] 10 Hari Terakhir 427 Orang Tewas di Jalan


  Kalau dilihat di sini yang paling banyak terlibat laka lantas adaalah dari 
jenis kendaraan sepeda motor.
  Perlu dipikirkan, bagaimana sebaiknya agar sepeda motor tidak dijadikan moda 
transportasi jarak jauh.
  Sangat disesalkan apabila ada produsen sepeda motor mengadakan acara mudik 
bersama dengan iming2 hadiah segala macam.
  Hal ini mendorong orang untuk mudik menggunakan sepeda motor.

Kirim email ke