Mungkinkah ceritanya kebalik Pak Wal? Bukan Suharto yang ditempeleng tapi dia yang menempeleng bawahan AE Kawilarang. Setidaknya itu yang diakui oleh Kawilarang saat diwawancara oleh majalah TEMPO, setahun sebelum ia wafat (maaf edisi persisnya saya lupa, dengan keyword yang pas mungkin masih bisa digoogling). Yang ditempeleng Suharto adalah Letnan Parman, Komandan Pelabuhan Makassar yang melarang anak buah Suharto membawa mobil-mobil yang belum lunas pembayarannya. Suharto yang marah, lalu menempelengnya. (Mobilnya sendiri akhirnya ditalangi pembayarannya oleh AE Kawilarang).
Sebuah blog pernah menulis hal tersebut: <A HREF="http://anusapati.com/?p=33"></A> salam Rapik Wal Suparmo <[EMAIL PROTECTED]> wrote: Salam, Pak Harto 2 kali DINAS ke Makassar yaitu pada waktu pembrontakan Abd Azis tahun 1950,dan sewaktu ia mnjadi Komandan Mandala di Makassar. Tahun 1950 Andi Matalatta belum ditemptkan di Makassar dan sulit membayangkan bahwa ada yang brani mnempelng Panglima Mandala. Wasalam, Wal Suparmo
