Oleh Hermawan Kartajaya 
http://www.kompas.com/index.php/read/xml/2008/10/20/06320126/greed.is.not.good.lessons.from.wall.street


GONJANG-ganjing dunia keuangan global belakangan ini mengingatkan saya
pada salah satu film terkenal era 1980-an, Wall Street. Kalau Anda
belum tahu, film yang disutradarai Oliver Stone ini menceritakan
sepak-terjang seorang broker saham bernama Bud Fox yang diperankan
oleh Charlie Sheen dan seorang corporate raider bernama Gordon Gekko
yang diperankan oleh Michael Douglas.

Dalam film ini diceritakan bagaimana Fox yang masih muda dan ambisius
mengidolakan Gekko yang sudah sangat berpengalaman dan sangat sukses
di Wall Street. Fox pun berupaya setengah mati agar bisa bekerja
bersama Gekko. Keinginannya ini akhirnya terkabul. Namun, Gekko
ternyata bukan orang baik; ia sangat tamak dan menghalalkan segala
cara untuk mencapai tujuannya. Fox pun terpancing untuk melakukan
tindakan ilegal.

Akhirnya Fox pun ditangkap secara dramatis di kantornya. Fox kemudian
terpaksa bekerja sama dengan para penegak hukum yang meminta Fox
menyadap pembicaraannya dengan Gekko agar Gekko juga bisa ditangkap.
Inilah film yang menggambarkan betapa ganasnya rimba Wall Street.
Dalam film ini ada satu kalimat dari Gekko yang kemudian menjadi
sangat terkenal, “greed, for lack of a better word, is good.” 

Buat saya, film ini bisa menggambarkan bahwa marketing pun diperlukan
di pasar modal, bukan hanya di pasar komersial. Marketer yang butuh
pelanggan (baca: investor) di pasar modal perlu menerapkan strategi
marketing yang tepat agar bisa mendapatkan orang-orang yang
benar-benar mau jadi investor bisnis kita dalam jangka panjang, bukan
spekulan yang hanya mau mencari keuntungan jangka pendek dan tidak
peduli terhadap bisnis kita.

Dalam buku Attracting Investors: A Marketing Approach to Finding Funds
for Your Business, yang saya tulis bersama Philip Kotler dan Prof.
David Young dari INSEAD, kami berpendapat bahwa untuk mendapatkan
investor yang tepat, maka marketer harus mampu menawarkan value
proposition yang kuat yang dinyatakan dalam positioning,
differentiation, dan brand (PDB) perusahaan yang bersangkutan.

Sebaliknya, investor pun perlu mempelajari PDB perusahaan yang
bersangkutan. Jika PDB-nya kuat, berarti perusahaan tersebut pada
dasarnya punya fondasi bisnis yang kuat. Investor tidak perlu terlalu
kuatir jika terjadi fluktuasi harga saham seperti akhir-akhir ini.
Memang, di lanskap New Wave yang ditandai dengan arus informasi yang
semakin deras ini, isu sekecil apapun akan dengan cepat merambah ke
mana-mana. Tak heran jika krisis keuangan yang terjadi di Amerika
kemudian dengan cepat menular ke Eropa dan membuat pasar modal di Asia
juga ikut terkena imbasnya.

Jadi, sekali lagi saya ingin menekankan, marketing itu sebenarnya bisa
dimanfaatkan pada semua aspek bisnis. Marketing bukan hanya berurusan
dengan pasar komersial (commercial market), namun juga dengan pasar
modal (capital market). Di pasar komersial sendiri, marketing bukan
hanya bisa diterapkan di sektor business-to-consumer (B2C), namun juga
di sektor business-to-business (B2B).

Sektor B2B selama ini memang masih banyak dipersepsi tidak terlalu
memerlukan strategi marketing, seperti yang terjadi dalam industri
consumer goods. Sektor B2B dianggap hanya butuh hal-hal yang sifatnya
teknis dan rutin-prosedural belaka. Padahal, kenyataannya tidak
demikian. Jangan lupa kalau di lanskap B2B juga ada faktor-faktor
Competitor, Customer, Change Agents, dan Connector. Karena itu, di
sektor B2B pun perlu diterapkan marketing agar bukan hanya mampu
memenangkan market share, tapi juga mind share dan heart share.

Lihat saja yang dilakukan Holcim. Produsen semen ini melakukan
sejumlah langkah marketing yang inovatif yang biasanya dilakukan oleh
sektor B2C. Holcim melakukan branding secara cukup gencar. Berbagai
iklannya ada di televisi, media cetak atau media luar ruang. Di media
online, Holcim juga telah membangun situs www.membangunbersama.com
yang isinya antara lain berupa konsultasi dan tips membangun atau
renovasi rumah.

Kemudian, untuk membangun loyalitas pelanggannya, Holcim juga membuat
program Akademi Ahli Bangunan, program yang mengasah ketrampilan para
ahli bangunan dalam membangun dan merenovasi sebuah proyek bangunan.
Data para ahli bangunan ini tersedia di situs tadi sehingga mudah
diakses oleh yang membutuhkan. Bisa kita lihat manfaat dari langkah
kreatif seperti ini. Program ini dapat mempererat relasi antara
pemilik rumah atau proyek dengan para ahli bangunannya serta juga
meningkatkan loyalitas antara berbagai pihak itu dengan Holcim sendiri.

Jadi, di lanskap New Wave yang semakin tanpa batas ini, marketer harus
bisa semakin memahami PDB-nya dan selalu optimis. Dengan demikian ia
akan mampu menghadapi berbagai tantangan yang ada dengan
langkah-langkah yang kreatif.

Kirim email ke