Oleh M CLARA WRESTI
http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/10/22/00172510/kepanasan.pasien.kelas.iii.buka.baju


Wajah Suratin (58), pasien kelas III Rumah Sakit Koja Jakarta Utara,
tampak lusuh. Keringatnya bercucuran. Walau ia telah membuka baju dan
bertelanjang dada, tangannya tidak henti mengibas-ngibaskan koran.
"Gerah banget, tidak tahan," katanya.

Akhir-akhir ini suhu udara yang lembab dan panas tak hanya menyiksa
warga Jakarta yang berada di luar, tetapi juga yang berada di dalam
ruangan.

Suhu panas ini akan terus berlangsung hingga pekan depan. Di beberapa
kawasan suhu bisa mencapai hingga 35 derajat Celsius.

Pasien rumah sakit, khususnya kelas III, di beberapa rumah sakit Ibu
Kota harus berjuang mengatasi rasa panas yang menyiksa.

"Berada di ruangan ini seperti terpanggang sehingga saya tidak bisa
tidur siang. Hingga pukul 00.00 juga masih terasa panas. Menjelang
subuh baru sejuk," kata Suratin yang menderita lever dan gangguan
pernapasan di ruang kelas III dewasa, RSUD Koja, Jakarta Utara, Selasa
(21/10).

Ayah dua anak ini dirawat di bangsal kelas III lantai enam, Ruang 608
Paviliun Mawar. Ruang tersebut menyediakan enam tempat tidur dan
semuanya terisi pasien. Saat ditemui, Suratin sedang tidak mengenakan
baju. "Biar lebih adem," katanya.

Meski sudah membuka baju, badannya mengeluarkan keringat. "Saya haus,
ingin meminum air sebanyak-banyaknya. Tetapi, dokter melarangnya agar
lambung saya tidak kelebihan cairan karena saya menderita lever. Kalau
minum air banyak, perut bisa kembung," ujar Suratin.

Warga Ancol Timur, Jakarta Utara, ini menuturkan, saat masih di
rumahnya, ia juga kadang- kadang buka baju kalau panas. Namun,
belakangan ini suhu udara terasa semakin meningkat. "Perubahan itu
terasa dari 16 Oktober lalu saat saya mulai masuk rumah sakit," ujar
suami Samijah (52).

Saat itu Suratin duduk tidak ditemani istrinya. "Istri saya biasanya
mengipasi badan saya agar lebih sejuk. Namun, ia juga sering tidak
betah di dalam ruangan, lalu keluar sebentar untuk mencari angin.
Kalau ia mengipas-ngipasi badan saya, sekujur wajahnya jadi
berkeringat," katanya.

Menjadi pasien di kelas III yang tanpa pendingin ruangan, apalagi di
saat udara panas menyengat, membuat pasien juga tidak bisa nyaman
beristirahat. Terkadang Suratin bangun dari tempat tidurnya dan duduk
di dekat jendela yang sengaja dibiarkan terbuka.

Semua pasien yang dirawat di bangsal kelas III dewasa mengeluhkan hal
serupa. Kondisi lebih parah lagi di bangsal anak, yang ada di lantai
empat RSUD Koja. Yuni (30) terus-menerus mengipasi tubuh Nabila (6),
anaknya yang terbaring lemas di Ruang 408.

Nabila sudah enam hari dirawat di bangsal anak karena menderita demam
berdarah dengue (DBD). Suhu badan Nabila mencapai 39 derajat Celsius.
"Suhu badannya suka naik turun, tidak stabil," kata Yuni dengan wajah
prihatin.

Anaknya yang sudah duduk di kelas satu sekolah dasar itu tidak bisa
tidur dengan tenang. "Bagaimana bisa tidur tenang. Suhu badannya
panas, lalu ruangan juga panas. Saya sendiri juga sering keringatan.
Jangankan pada waktu siang, hingga pukul 11 malam pun ruangan terasa
panas sekali," katanya.

Rohy (28), pasien kelas III RS Budhi Asih, juga tersiksa dengan panas
yang melanda Ibu Kota. Sebenarnya ruangan tempatnya dirawat terdapat
penyejuk udara. Namun, penyejuk udara itu rusak.

"Untung jendela di sini bisa dibuka, agak menolong, tetapi masih saja
panas. Punggung saya sampai terasa perih karena kulitnya mengering,"
kata Rohy yang dirawat di Ruang 501.

Pendingin ruangan sentral di ruang itu memang terlihat rusak. Bahkan,
di salah satu lubang udara terlihat berjamur karena kebocoran. Sebuah
baskom kecil diletakkan tepat di bawah lubang itu untuk menampung
tetesan air.

Rohy mengaku pasrah karena sebagai pasien kelas III yang hanya
membayar Rp 27.000 per hari, dia merasa tidak punya hak untuk protes.

Humas RS Cipto Mangunkusumo Poniwati Yacub mengatakan, cuaca panas
memang menyebabkan ketidaknyamanan pasien. "Kami sudah melengkapi
semua ruangan, termasuk ruang rawat kelas III dengan pendingin
ruangan. Mungkin ada satu-dua unit yang tidak bekerja optimal, tetapi
akan segera diperbaiki. Namun, ada salah satu sayap Gedung A yang
langsung terkena sinar matahari pagi ini berpeluang menyebabkan
ruangan makin panas," kata Poniwati Yacub.

Kepala Subbidang Informasi Iklim dan Agroklimat Badan Meteorologi dan
Geofisika Soetamto mengatakan, panas ini akan terus terjadi hingga
pekan depan. Penyebabnya, pada masa pancaroba ini, uap air di atmosfer
belum banyak.

"Akibatnya, semua spektrum sinar matahari bisa langsung menembus
permukaan bumi sehingga suhu udara meningkat 32-33 derajat Celsius. Di
beberapa kawasan, suhu bisa mencapai hingga 35 derajat Celsius. Saat
ini posisi matahari juga tepat tujuh derajat di atas Indonesia
sehingga sinar matahari lebih terasa menghunjam ke permukaan bumi,"
kata Soetamto. (CAL/NEL)

 

Kirim email ke