Masalahnya bukan kelas-VIP boleh protes karena mahal dan kelas-III tidak boleh protes karena murah, tapi dalam pelayanan kepada customer/ pelanggan mesti mengacu kepada hak-hak pelanggan dan kewajiban pemberi pelayanan (service provider). Jadi sebetulnya mesti jelas bagi masyarakat apa fasilitas dan hak-hak orang yang duduk di kelas-III dan kelas-I. Kalau fasilitas AC telah menjadi bagian dari paket yang ditawarkan maka pelanggan berhak protes dan pemberi pelayanan tidak ada alasan menyepelekan orang di kelas-III atau berapapun. Paradigma bisnis yang keliru adalah karena para pemberi pelayanan punya attitude boleh memperlakukan sewenang-wenang pelanggan di kelas murah dan memanjakan kelas mahal. Sebenarnya tidak ada kata memanjakaan atau kata ala-kadarnya dalam pelayanan profesional, yang ada adalah melayani pelanggan sesuai dengan haknya. Jadi sikap respek dan tulus itu mesti diberikan kepada semua tidak memandang kelas. Kalaupun ada perbedaan pelayanan itu pastikan karena tuntutan paket yang dibelinya, bukan datang dari respek pribadi. Jangan terjadi misalnya karena kelas-III disuntiknya asal tusuk secara kasar dengan wajah judes tapi kelas VIP disuntiknya secara hati-hati dan senyum ramah. Ketika masuk ruang VIP wajah ditata manis dan selalu ceria, tapi ketika mau memasuki ruang kelas-III wajah ganti haluan ditekuk tanpa senyum dan garang.
Tidak ada manusia kelas-III yang ada adalah fasilitas pelayanan kelas-III. Jadi jangan sekali-kali mengasosiaskan tiket dengan derajat manusia pemegang tiket. Jadi persoalannya apakah di terms & conditions nya AC ruangan di kelas III itu adalah hak pelanggan yang sudah termasuk dalam harga kamar? KalaU YA, protes adalah haknya. SH 2008/10/22 Agus Hamonangan <[EMAIL PROTECTED]> > Oleh M CLARA WRESTI > > http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/10/22/00172510/kepanasan.pasien.kelas.iii.buka.baju > > Wajah Suratin (58), pasien kelas III Rumah Sakit Koja Jakarta Utara, > tampak lusuh. Keringatnya bercucuran. Walau ia telah membuka baju dan > bertelanjang dada, tangannya tidak henti mengibas-ngibaskan koran. > "Gerah banget, tidak tahan," katanya. > > Akhir-akhir ini suhu udara yang lembab dan panas tak hanya menyiksa > warga Jakarta yang berada di luar, tetapi juga yang berada di dalam > ruangan. > > Suhu panas ini akan terus berlangsung hingga pekan depan. Di beberapa > kawasan suhu bisa mencapai hingga 35 derajat Celsius. > > Pasien rumah sakit, khususnya kelas III, di beberapa rumah sakit Ibu > Kota harus berjuang mengatasi rasa panas yang menyiksa. > > "Berada di ruangan ini seperti terpanggang sehingga saya tidak bisa > tidur siang. Hingga pukul 00.00 juga masih terasa panas. Menjelang > subuh baru sejuk," kata Suratin yang menderita lever dan gangguan > pernapasan di ruang kelas III dewasa, RSUD Koja, Jakarta Utara, Selasa > (21/10). > > Ayah dua anak ini dirawat di bangsal kelas III lantai enam, Ruang 608 > Paviliun Mawar. Ruang tersebut menyediakan enam tempat tidur dan > semuanya terisi pasien. Saat ditemui, Suratin sedang tidak mengenakan > baju. "Biar lebih adem," katanya. > > Meski sudah membuka baju, badannya mengeluarkan keringat. "Saya haus, > ingin meminum air sebanyak-banyaknya. Tetapi, dokter melarangnya agar > lambung saya tidak kelebihan cairan karena saya menderita lever. Kalau > minum air banyak, perut bisa kembung," ujar Suratin. > > Warga Ancol Timur, Jakarta Utara, ini menuturkan, saat masih di > rumahnya, ia juga kadang- kadang buka baju kalau panas. Namun, > belakangan ini suhu udara terasa semakin meningkat. "Perubahan itu > terasa dari 16 Oktober lalu saat saya mulai masuk rumah sakit," ujar > suami Samijah (52). > > Saat itu Suratin duduk tidak ditemani istrinya. "Istri saya biasanya > mengipasi badan saya agar lebih sejuk. Namun, ia juga sering tidak > betah di dalam ruangan, lalu keluar sebentar untuk mencari angin. > Kalau ia mengipas-ngipasi badan saya, sekujur wajahnya jadi > berkeringat," katanya. > > Menjadi pasien di kelas III yang tanpa pendingin ruangan, apalagi di > saat udara panas menyengat, membuat pasien juga tidak bisa nyaman > beristirahat. Terkadang Suratin bangun dari tempat tidurnya dan duduk > di dekat jendela yang sengaja dibiarkan terbuka. > > Semua pasien yang dirawat di bangsal kelas III dewasa mengeluhkan hal > serupa. Kondisi lebih parah lagi di bangsal anak, yang ada di lantai > empat RSUD Koja. Yuni (30) terus-menerus mengipasi tubuh Nabila (6), > anaknya yang terbaring lemas di Ruang 408. > > Nabila sudah enam hari dirawat di bangsal anak karena menderita demam > berdarah dengue (DBD). Suhu badan Nabila mencapai 39 derajat Celsius. > "Suhu badannya suka naik turun, tidak stabil," kata Yuni dengan wajah > prihatin. > > Anaknya yang sudah duduk di kelas satu sekolah dasar itu tidak bisa > tidur dengan tenang. "Bagaimana bisa tidur tenang. Suhu badannya > panas, lalu ruangan juga panas. Saya sendiri juga sering keringatan. > Jangankan pada waktu siang, hingga pukul 11 malam pun ruangan terasa > panas sekali," katanya. > > Rohy (28), pasien kelas III RS Budhi Asih, juga tersiksa dengan panas > yang melanda Ibu Kota. Sebenarnya ruangan tempatnya dirawat terdapat > penyejuk udara. Namun, penyejuk udara itu rusak. > > "Untung jendela di sini bisa dibuka, agak menolong, tetapi masih saja > panas. Punggung saya sampai terasa perih karena kulitnya mengering," > kata Rohy yang dirawat di Ruang 501. > > Pendingin ruangan sentral di ruang itu memang terlihat rusak. Bahkan, > di salah satu lubang udara terlihat berjamur karena kebocoran. Sebuah > baskom kecil diletakkan tepat di bawah lubang itu untuk menampung > tetesan air. > > Rohy mengaku pasrah karena sebagai pasien kelas III yang hanya > membayar Rp 27.000 per hari, dia merasa tidak punya hak untuk protes. > > Humas RS Cipto Mangunkusumo Poniwati Yacub mengatakan, cuaca panas > memang menyebabkan ketidaknyamanan pasien. "Kami sudah melengkapi > semua ruangan, termasuk ruang rawat kelas III dengan pendingin > ruangan. Mungkin ada satu-dua unit yang tidak bekerja optimal, tetapi > akan segera diperbaiki. Namun, ada salah satu sayap Gedung A yang > langsung terkena sinar matahari pagi ini berpeluang menyebabkan > ruangan makin panas," kata Poniwati Yacub. > > Kepala Subbidang Informasi Iklim dan Agroklimat Badan Meteorologi dan > Geofisika Soetamto mengatakan, panas ini akan terus terjadi hingga > pekan depan. Penyebabnya, pada masa pancaroba ini, uap air di atmosfer > belum banyak. > > "Akibatnya, semua spektrum sinar matahari bisa langsung menembus > permukaan bumi sehingga suhu udara meningkat 32-33 derajat Celsius. Di > beberapa kawasan, suhu bisa mencapai hingga 35 derajat Celsius. Saat > ini posisi matahari juga tepat tujuh derajat di atas Indonesia > sehingga sinar matahari lebih terasa menghunjam ke permukaan bumi," > kata Soetamto. (CAL/NEL) > > > [Non-text portions of this message have been removed]
