Surat pak irwan sepertinya sudah masuk ke humas pertamina, semoga ada respons yang baik.
2008/10/23 A. Mubarik Ahmad <[EMAIL PROTECTED]> > Saya lebih senang cara mengisi sendiri seperti SPBU2 di LN. > > 2008/10/22 Irwan Ariston Napitupulu <[EMAIL > PROTECTED]<irwanariston%40gmail.com> > > > > > > Dibalik Senyum Petugas Pom Bensin > > > > Ketika mengisi bensin, saya sering kali ngobrol dengan petugas pom > > bensinnya. Kebiasaan saya memang suka mengobrol dengan siapa saja. Sering > > kalinya saya hanya ingin menambah wawasan saja dari hal-hal yang mungkin > > tidak terpikirkan oleh saya sebelumnya. > > > > Kembali ke soal perbincangan saya dengan beberapa petugas pom bensin. Hal > > yang beberapa bulan ini saya tanyakan ke mereka di berbagai tempat pom > > bensin adalah apakah mereka tidak pusing mencium bau bensin setiap hari > dan > > kenapa mereka tidak memakai masker penutup hidung agar mengurangi uap > > bensin > > yang terhirup. > > > > Hal tersebut saya tanyakan, karena saya saja yang berdiri sebentar sambil > > ngobrol, sudah langsung pusing karena menghirup bau bensin tersebut. > > > > Mereka, kurang lebih sepuluh orang, yang saya tanyakan semuanya menjawab > > bahwa sebenarnya mereka juga pusing. Mereka merasakan dada yang sesak. > Dan > > makin parah lagi kalau pas mereka sedang sakit, katakan saja flu, > perasaan > > sakit di dada semakin menjadi. > > > > Ketika saya tanyakan kenapa mereka tidak memakai masker, jawaban mereka > > semuanya sama yaitu karena kebijakan perusahaan. Perusahaan melarang > mereka > > memakai masker karena demi pelayanan ke pelanggan. Mereka diwajibkan > untuk > > tetap tersenyum ketika melayani pelanggan. Mereka bilang, kalau mereka > > pakai > > masker, mereka tidak bisa lagi menunjukkan senyum mereka ke nasabah dan > itu > > akan dianggap tidak sopan karena tidak menghargai pelanggan. > > > > Hazrah kazrah! > > > > Saya terkaget mendengar jawaban mereka. Jawaban mereka semuanya seragam. > > Jawaban mereka pun semakin diperkuat dengan iklan Pertamina di televisi > > yang > > mengutamakan senyum petugasnya ketika melayani pelanggan. > > > > Ironisnya, dibalik senyum yang mereka berikan, ada derita yang harus > mereka > > tanggung dengan mencium uap bensin setiap hari yang dapat memberikan > > gangguan yang serius kepada kesehatan mereka, khususnya paru-paru dan > otak > > mereka. > > > > Saya sebagai pelanggan lebih senang melihat mereka memakai masker penutup > > hidung, ketimbang mereka melayani dengan senyum tapi saya tahu dibalik > > senyumnya, mereka menanggung derita yang tidak ringan. > > > > Melalui tulisan ini, saya mengajak kita yang peduli terhadap nasib para > > pekerja pom bensin untuk menyerukan kepedulian kesehatan petugas pom > bensin > > agar pertamina dan pemilik pom bensin melengkapi petugas pom bensin > dengan > > masker penutup hidung. > > > > Saya sebagai pelanggan pom bensin lebih peduli kesehatan petugas pom > bensin > > ketimbang senyuman mereka ketika mereka mengisikan bensin ke kendaraan > > saya. > > Saya sudah mulai merasa tidak nyaman karena tahu dibalik senyuman petugas > > pom bensin ada derita yang harus mereka tanggung akibat menghirup uap > > bensin. > > > > Semoga melalui tulisan ini, nasib kesehatan petugas pom bensin bisa > > diperbaiki dimulai dengan memakai masker penutup hidung. > > > > catatan: > > Sekedar tambahan catatan, untuk pom bensin yang buka 24 jam, diterapkan > > tiga > > shift kerja. Kurang lebih mereka bekerja seharinya sekitar 8-9 jam. > Jumlah > > jam yang cukup lama untuk menghirup uap bensin terus menerus. > > > > Silahkan di forward tulisan ini, khususnya ke mereka yang anda pikir > dapat > > mempengaruhi untuk merubah kebijakan agar para petugas pom bensin > > dibolehkan > > memakai masker penutup hidung. > > > > jabat erat, > > Irwan Ariston Napitupulu > > > > [Non-text portions of this message have been removed]
