http://www.kompas.com/read/xml/2008/10/29/06295142/CIDES.Sultan.Bangkitkan.Feodalisme

JAKARTA, RABU--Direktur Eksekutif CIDES (Center for Information and
Development Studies) Syahganda Nainggolan menyatakan deklarasi Sri
Sultan Hamengkubuwono X sebagai calon presiden 2009-2014 dengan
mengundang 47 raja lokal se-nusantara dalam acara pertemuan atau
"Pisowanan Agung" di  Alun-alun Utara, Yogyakarta, Selasa, dapat
membangkitkan feodalisme.

"Feodalisme kontra roduktif dengan semangat demokratisasi ke depan,"
kata Syahganda di Jakarta, Selasa menanggapi manuver politik Sultan
dalam pertemuan besar (pisowanan agung) itu pada Selasa.

Syahganda mempertanyakan nilai tambah demokrasi yang ingin
dikedepankan Sultan untuk membangun Indonesia sebagai negara dan
bangsa yang moderen.

Ia menegaskan pencalonan Sultan seharusnya lebih menonjolkan suasana
representasi demokrasi bangsa apalagi acara deklarasi itu bertepatan
dengan Peringatan Hari Sumpah Pemuda.

"Memang patut dipertanyakan kenapa yang diundang justru kebanyakan
raja-raja. Semestinya mengundang tokoh-tokoh utama masyarakat atau
kalangan pemuda agar napas kebangkitan dan demokrasi lebih
dikedepankan," katanya.

"Bukan sebaliknya menonjolkan raja-raja di tanah air meski mereka
adalah aset kultural bangsa kita," kata Syahganda menambahkan.

Ia mengatakan penonjolan para raja dalam acara deklarasi pencalonan
dapat dikesankan berbagai pihak bahwa Sultan lebih berorientasi pada
basis feodalisme lama, yang justru tidak lagi menjadi kiblat politik
bangsa Indonesia dewasa ini.

"Sultan juga dapat dinilai merupakan sosok yang menjadi milik kaum
feodalis dibanding sosok sebagai pengayom bangsa secara luas," katanya.

Hal itu, katanya, berlawanan dengan watak kebangsaan Sultan yang ingin
tampil bagi semua pihak.

Pencalonan Sultan seperti itu, menurut Syahganda,mengurangi
kredibilitas serta nama besar Sultan di panggung politik nasional.

Simbol budaya

Syahganda menambahkan popularitas raja-raja di tanah air saat ini
banyak ditempatkan sebagai simbol budaya yang menyatukan berbagai
kepentingan kelompok di masyarakat, termasuk sebagai panutan moral
yang tidak banyak mengambil agenda politik nasional.

Masyarakat luas, kata Syahganda, juga tidak lagi ingin melihat para
raja tersebut terlibat dalam pertarungan politik praktis agar kekuatan
tradisi kerajaan di Indonesia tidak terkotak-kotak.

Ia mengatakan peran politik para raja pada umumnya kini digantikan
oleh kehadiran kekuatan pembaharu yang mengusung demokrasi, baik dari
kalangan pemuka agama, pemimpin masyarakat, LSM dan kepemudaan, kaum
intelektual dan profesional serta kelompok lain yang lebih mandiri.
"Mengapa kalangan itu tidak diberi tempat utama oleh Sultan," kata
Syahganda mempertanyakan.

Kewibawaan dan kehormatan Sultan tetap terjaga meskipun tanpa
mengundang para raja lokal, katanya.(ANT)

JY 

Kirim email ke