Saya bukan asal Yogya, tapi saya memiliki pemahaman ttg Sultan Mataram
tersebut. Saya tidak meragukan komitmen Sultan HB IX dan X terhadap
bangsa ini. Sejarah bangsa ini telah membuktikan Yogya bagian
terpenting dalam membangun Republik, Sultan HB IX telah membuktikan
kenasionalisannya sejak dulu, juga Sultan HB X yang kita masih ingat
menjelang dan setelah Suharto jatuh. Saya tidak ingin membandingkan
Sultan Yogya dengan Solo dalam hal ini.
Namun, patut dicatat pula, komitmen seseorang tidaklah sedemikian rupa
tegak bila mana dia tidak didukung oleh komitmen "orang di sekitar"
bila suatu ketika Pak Sultan nanti jadi Presiden.
Mantan Presiden Suharto yang bukan raja Jawa, tetapi telah membangun
dinasti yang melebihi/melampaui kuasa Kesultan Yogya. Wong cilik dari
Wonogiri itu lebih feodal dari Sultan. Belum lagi sifat kemaruknya.

Logika umum ialah, kalau wong cilik macam Suharto dapat membangun
kuasa melebihi Sultan-- bagaimana kalau seorang Sultan menjadi seorang
presiden? Memang tidak juga tepat untuk menghubungkan kualitas moral
seorang Sultan dengan seorang Suharto -- toh khawatir kan boleh.
Wassalam





--- In [email protected], nur suhascaryo
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Menurut saya itu langkah maju dari Sultan, dan masalah kenegaraan
dan kebudayaan jangan dibenturkan, adat ya adat dan tetap
dipertahankan, kalau kita sowanan di kraton ya aturan kraton yang
berlaku, itu juga sudah dilakukan oleh ayahanda beliau saat menjadi
menhan dan menko era Soekarno, dan Wapres era Soeharto dan budaya
kraton tetap eksis dan pemerintahan Jogja saat itu juga berjalan
sesuai dinamika perkembangan jaman, yang penting keluarga, isteri dan
anak-anak pejabat negara dan politik jangan ikut-ikutan ngatur dan
memberikan masukan untuk kepentingan kelompok, anggota, golongan,
suku, ras dan agama. dan kalau sudah menjabat ya untuk semua rakyat
Indoensia dari sabang sampai merauke.
> Salam.
> NS�
> 
> --- On Wed, 10/29/08, marthajan04 <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> 
> From: marthajan04 <[EMAIL PROTECTED]>
> Subject: [Forum-Pembaca-KOMPAS] Re: CIDES: Sultan Bangkitkan Feodalisme
> To: [email protected]
> Date: Wednesday, October 29, 2008, 1:21 PM
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> Menurut saya, baguslah ide Sultan, mau mencoba sesuatu yang baru
> sebab sejak kemerdekaan sudah 63 tahun, Indonesia tidak pernah betul2
> makmur. Ada jamannya Suharto yang kelihatannya rada2 enak hidup,
> ternyata hutangnya setinggi gunung.
> Kenyataan adalah kalau wong cilik yang jadi ratu, serakahnya jadi
> luar biasa. Sudah terbukti bukan? angkatan kedua yang memerintah
> negeri ini.
> Yang lainnya karena ortunya sudah makmur walaupun bukan raja, jadi
> mungkin karena itu tidak korupsi. tapi lemah. semuanya nafsu besar
> tenaga kurang.
> 
> Saya sokong Sultan. Untuk yang kuatir menteri2 akan ngengsod kalau
> bertemu dengan sultan, saya pikir ini hanyalah joke saja.
> Saya malah berharap jika sultan sampai menjadi presiden, tata cara
> adat di keratonnya akan dirubah menjadi lebih beradablah. Masa jaman
> sekarang masih ngengsod sih?
> Kebaikan Sultan yang lainnya yang harus dapat pujian adalah tidak
> poligami.
> 
> salam,
> mj
>


Kirim email ke