Bang Mula, utk yg ini saya 100% TIDAK SETUJU! Feodalisme adl feodalisme. Siapa pun, di mana pun, kapan pun. Salam, TH
-original message- Subject: [Forum-Pembaca-KOMPAS] Re: Sebaiknya Sultan Tidak Jd Capres Author: Mula Harahap <[EMAIL PROTECTED]> Date: 29th October 2008 06:07 Saya mencoba melihatnya dari perpektif lain: Sepanjang orang yang "ngesot-ngesot" itu melakukannya dengan senang hati, yaitu untuk memperlihatkan kepada teman-temannya para penyandang budaya yang sama bahwa dia adalah orang yang tahu tata- krama dan tahu bagaimana memperlakukan orang lain--yang memiliki status sosial lebih tinggi dari padanya--sebagaimana yang dipersyaratkan oleh adat, maka itu bukanlah feodalisme. Para anggota kabinet Inggeris kalau bertemu dengan Ratu Elizabeth II, atau para jenderal di Thailand kalau bertemu dengan Raja Bhumibol juga akan bersikap yang sama. Kita orang Batak pun demikian. Kita memang tidak "munduk-munduk" atau "ngesot-ngesot" ketika menghadap raja, karena memang kita tidak pernah memliki raja (yang memiliki kekuasaan atas suatu teritorial tertentu) seperti Raja di Mataram atau Sultan di Deli. Tapi bukankah kita juga harus "munduk-munduk" ketika menghadap "hula-hula" atau "tulang" (fihak marga yang menjadi asal isteri kita atau asal ibu kita)? Dan bukankah kita menyapa para "hula-hula" dan "tulang" itu sebagai raja? Orang-orang komunis yang selalu menggembar-gemborkan bahwa mereka anti dengan feodalisme, pada prakteknya tokh juga acapkali lebih "feodal" dari para abdi dalem Kesultanan Ngajogjakarta Hadinigrat. Lihatlah penghormatan dan pemujaan yang dilakukan oleh rakyat dan kader partai terhadap Kim Il Sung di Korea atau Mao Xe Dong di Cina. Perasaan aman ketika menundukkan diri pada manusia lain yang dianggap memiliki status sosial lebih tinggi tampaknya adalah kebutuhan emosional (atau mungkin juga kebutuhan spiritual) dari manusia. Dan sampai pada batas-batas tertentu kebutuhan ini sah-sah saja. Horas, Mula Harahap
