Saya kurang mengerti mengapa Pemprov DKI tidak menyiapkan penanggulangan 
terjadinya pohon-pohon tumbang, dan banjir. Berita cuaca sudah disebarkan dan 
diumumkan, bahwa akan ada hujan dan angin yang deras minggu yang lalu.
Pada hari sabtu yang lalu, hujan dengan angin kencang pertama terjadi, dan 
pohon-pohon di Pondok Indah area bertumbangan. Dan dikarenakan tidak ada 
warning bahwa ada pohon tumbang, maka tiba-tiba pemakai kendaraan memutar 
balik, dimana arah tersebut hanya untuk satu arah saja, dan untuk menyeberang 
kejalan seberangnya (untuk melakukan arah yang benar jika berbalik arah), tidak 
bisa dikarenakan ada 'separation' ditengah-tengah jalan yang cukup lebar dengan 
pohon-pohon dan rerumputan. Jadilah kemacetan, karena kendaraan saling ingin 
mendapatkan jalan terlebih dahulu, dari orang-orang yang memutar balik 
kendaraan-nya dan orang-orang yang menggunakan lajur yang benar dijalan 
tersebut.
 
Jika pohon-pohon tersebut sudah dikurangi kerimbunan-nya, dengan jalan memotong 
sebagaian cabang-cabang yang berat yang menjuntai kejalan-jalan, sebelum musim 
angin kencang  dan hujan terjadi, maka hal tersebut tidak akan terjadi, saya 
rasa, karena berat cabang-cabang sudah dikurangi. Jadi jika angin kencang 
menyambar pohon-pohon tersebut, tidak akan tumbang.
 
Mengapa "precaution" tidak pernah dijalankan dengan benar dinegara kita, ya? 
Maksud saya, sering hal-hal mendesak untuk kepentingan masyarakat luas, tidak 
mendapatkan pemikiran jangka panjang yang seksama dari pemerintahan kita.
 
Salam,
Yuli

--- On Tue, 10/28/08, Agus Hamonangan <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

From: Agus Hamonangan <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: [Forum-Pembaca-KOMPAS] Jakarta Mulai Tergenang
To: [email protected]
Date: Tuesday, October 28, 2008, 8:28 PM






http://cetak. kompas.com/ read/xml/ 2008/10/29/ 02000628/ jakarta.mulai. 
tergenang

Jakarta, kompas - Hujan deras disertai angin kencang yang terjadi
hampir di seluruh Jakarta, rutin sejak Senin (27/10) hingga Selasa
kemarin, menyebabkan genangan air yang memicu kemacetan arus lalu
lintas di beberapa lokasi. Enam pohon tumbang diterjang angin yang
menyertai hujan kemarin.

Data dari Dinas Pertamanan DKI Jakarta, lima dari enam pohon tumbang
terjadi di wilayah Jakarta Selatan. Pohon yang tumbang adalah pohon
angsana, di Jalan TB Simatupang, Jalan Cipete Raya, dan di Jalan Radio
Dalam. Selain itu, ada satu pohon spatodea di Jalan Kebayoran Lama dan
satu pohon mangga di Jalan Cilandak Permai juga tumbang.

Selasa sore, terdapat satu pohon beringin di Jalan Budi Raya, Jakarta
Barat, yang tumbang. Sebuah taksi tertimpa pohon beringin, tetapi
tidak ada kerusakan serius karena hanya terhantam ranting daunnya.
Namun, kejadian ini membuat panik pengguna jalan dan memicu antrean
kendaraan.

Berdasarkan data dari Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG), pohon
tumbang disebabkan tingginya kecepatan angin yang mencapai 25 knot.
Pohon angsana termasuk paling rawan roboh karena akar dan batangnya
mudah patah.

Proyek Banjir Kanal

Pembangunan Banjir Kanal Timur (BKT) masih terganjal persoalan serius.
Tenggat pembangunan BKT tinggal satu tahun lagi, tetapi pembangunannya
masih terkendala masalah pembebasan tanah dan pemindahan saluran udara
tegangan ekstra tinggi (SUTET) di Jalan Kolonel Soegiono.

"Kami ingin pembebasan lahan segera diselesaikan. Untuk lahan yang
bermasalah, sebaiknya segera dilakukan dengan konsinyasi. Saat ini
pembangunan sudah mencapai lebih dari 60 persen dari 23,5 kilometer
yang direncanakan, " kata Pitoyo Subandrio, Kepala Balai Besar Wilayah
Ciliwung Cisadane (BBWCC), Selasa kemarin.

Sedangkan mengenai SUTET, Pitoyo tetap berpendapat agar SUTET itu
dipindahkan. "PLN mengusulkan agar fondasi SUTET itu diperkuat karena
kalau dipindahkan, listrik Jawa-Bali harus dimatikan sementara. Tetapi
kami tetap minta SUTET itu dipindahkan, " katanya tegas.

Penanganan banjir

Mengenai penanganan banjir, Pitoyo menambahkan, masyarakat bisa
meminjam peralatan dan fasilitas BBWCC seperti perahu karet, pompa,
dan beronjong. Namun, peralatan itu hanya bisa dipinjam saat banjir.

"Jika belum banjir, alat itu tidak bisa dipinjam karena akan dipakai
untuk wilayah lain yang terkena banjir," kata Pitoyo menjelaskan.

Selain pembangunan BKT yang terus terhambat, ancaman terjadi banjir
lagi di musim hujan nanti akan makin susah dihindari karena buruknya
kondisi drainase.

Di Jakarta Utara, ada 29 sungai dan 66 saluran penghubung, dengan
panjang total 157,55 kilometer, nyaris semua dalam kondisi rusak.
Saluran tersebut tertutup sampah, terdapat sedimentasi hingga terjadi
pendangkalan.

Sejumlah sungai juga tertutup eceng gondok hingga sejauh 2 kilometer.
Sungai yang tertutup eceng gondok dan sampah, antara lain, terlihat di
Lagoa Kanal sepanjang 2 kilometer. Di Lagoa Buntu eceng gondok dan
berbagai material menyebar sepanjang 1,2 kilometer. Di Cakung Lama,
sepanjang 4 kilometer alirannya tertutup eceng gondok dan sampah.

Warga di sekitar sungai sejak tahun lalu secara swadaya dengan alat
seadanya sudah melakukan pembersihan. Namun, belum ada program
pembersihan dari dinas teknis terkait.

"Kami khawatir, banjir akan terjadi lagi tahun ini. Sebab sampah dan
eceng gondok menghambat aliran air," kata Surjadi (37), warga di tepi
Cakung Lama, Kelapa Gading.

Kepala Suku Dinas Tata Air Jakarta Utara Irvan Amtha mengakui masih
banyak saluran dan sungai yang kotor atau tertutup eceng gondok.
Sebenarnya, lebih dari 15 sungai serta puluhan saluran sudah mulai
dibersihkan, diperbaiki, dan ditingkatkan kapasitasnya. Namun, karena
keterbatasan dana, belum semuanya selesai. (ARN/CAL/PIN/ NEL)

 














      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke